<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870</id><updated>2011-07-08T00:48:14.476-07:00</updated><title type='text'>Revolution !!!</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-242566458029152545</id><published>2009-06-02T17:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T17:48:44.257-07:00</updated><title type='text'>101 Caleg Perempuan Menuju Senayan</title><content type='html'>Kekhawatiran bahwa pemilu dengan sistem suara terbanyak bakal mereduksi keterwakilan perempuan tidak sepenuhnya terbukti. Hasil penetapan calon legislator oleh Komisi Pemilihan Umum menunjukkan, keterwakilan perempuan DPR RI periode 2009?2014 mencapai 101 orang. Itu berarti keterwakilan perempuan di Senayan mencapai 18,03 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah tersebut memang masih jauh dari target 30 persen, namun meningkat tajam jika dibandingkan dengan hasil Pemilu 2004. Pada Pemilu 2004, perempuan yang lolos ke Senayan 61 orang, atau sekitar 11 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara caleg perempuan yang lolos pada Pemilu 2009, yang terbesar berasal dari Partai Demokrat. Partai yang didirikan SBY itu menyumbang 37 orang. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berada di urutan kedua dengan meloloskan 19 caleg perempuan. Urutan ketiga ditempati Golkar dengan 17 caleg perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Kelompok Kerja Keterwakilan Perempuan Kemitraan Masruchah menilai, keterwakilan perempuan dalam DPR periode 2009?2014 melonjak jika dibandingkan dengan periode 2004-2009. “Lonjakannya lebih dari 6 persen,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan itu patut diapresiasi positif karena perjuangan perempuan lebih mendapat aspirasi pada Pemilu 2009. “Ingat, ini dengan suara terbanyak. Usaha caleg menjadi penentu,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masruchah menyatakan, para wakil perempuan memiliki harapan besar untuk dapat mengawal UU yang berkaitan dengan isu perempuan. Namun, untuk merealisasikan hal itu, pokja perempuan harus terus bersinergi dengan para caleg perempuan terpilih. Sinergi dilakukan terutama untuk caleg perempuan yang sejak awal tidak dikawal oleh pojka perempuan kemitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami sejak sebelum pemilu telah mengawal beberapa caleg (perempuan),” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, di antara 101 caleg perempuan terpilih, lebih dari 50 persen adalah calon yang memang belum mempunyai pengalaman di parlemen. Kebetulan, caleg tersebut tidak dikawal pokja perempuan kemitraan. “Sinergi dilakukan agar para caleg yang belum berpengalaman dapat menjalankan tugasnya dengan baik,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, pokja perempuan menolak keras putusan MK tentang penetapan calon terpilih berdasar suara terbanyak. Mereka berpendapat, dengan suara terbanyak, kans caleg perempuan untuk terpilih semakin kecil. Sebab, modal sosial dan finansial caleg perempuan lebih kecil daripada caleg laki-laki. Namun, faktanya, dengan suara terbanyak, calon perempuan banyak yang terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota KPU Andi Nurpati menambahkan, KPU memang sudah menetapkan caleg terpilih DPR yang berjumlah 560. Namun, komposisi mereka bisa saja berubah jika MK memunculkan keputusan yang berbeda dengan KPU. “Jadi, nanti, putusan MK juga berpengaruh jika ada perubahan,” jelasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-242566458029152545?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/242566458029152545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=242566458029152545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/242566458029152545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/242566458029152545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2009/06/101-caleg-perempuan-menuju-senayan.html' title='101 Caleg Perempuan Menuju Senayan'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-8780002681922140171</id><published>2009-06-02T17:39:00.000-07:00</published><updated>2009-06-02T17:45:48.103-07:00</updated><title type='text'>Ternyata Bapak Boediono masih menjabat dewan gubernur di IMF ( katanya anti neoleberalisme?)</title><content type='html'>Di situs web IMF ini tertulis posisi Boediono di lembaga keuangan dunia ini adalah sebagai salah satu “governor” (gubernur) pada Board of Governors (Dewan Gubernur) IMF. Sedangkan governor alternate untuk Indonesia adalah Rahmat Waluyanto. Dewan Gubernur IMF berfungsi untuk menentukan kebijakan IMF. Lebih lanjut lagi, governor dan governor alternate dari tiap-tiap negara inilah yang menjalankan kebijakan-kebijakan IMF di tiap-tiap negara yang menjadi “sasaran kebijakan” IMF. Berikut adalah pengertian daripada governor dan governor alternate dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di situs web IMF itu sendiri yang terakhir di-update pada tanggal 21 Mei 2009 atau sekitar 6 hari setelah deklarasi SBY-Boediono di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wewenang dewan gubernur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Board of Governors, the highest decision-making body of the IMF, consists of one governor and one alternate governor for each member country. The governor is appointed by the member country and is usually the minister of finance or the governor of the central bank. All powers of the IMF are vested in the Board of Governors. The Board of Governors may delegate to the Executive Board all except certain reserved powers. The Board of Governors normally meets once a year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi masih percaya beliau anti neoliberalisme?????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.imf.org/external/np/sec/memdir/members.htm" target="_blank"&gt;http://www.imf.org/external/np/sec/memdir/members.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-8780002681922140171?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/8780002681922140171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=8780002681922140171' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8780002681922140171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8780002681922140171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2009/06/ternyata-bapak-boediono-masih-menjabat.html' title='Ternyata Bapak Boediono masih menjabat dewan gubernur di IMF ( katanya anti neoleberalisme?)'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-8932111770925357733</id><published>2008-05-29T09:49:00.001-07:00</published><updated>2008-05-29T09:49:57.432-07:00</updated><title type='text'>Aksi Tolak BBM yang Dilakukan Mahasiswa Murni untuk Rakyat</title><content type='html'>Aksi unjuk rasa mahasiswa menolak kenaikan BBM adalah murni untuk kepentingan masyarakat. Tidak ada satu pihak pun yang menunggangi aksi mahasiswa yang sudah berlangsung hampir sepekan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan tersebut disampaikan pendiri PAN Amien Rais seusai pembukaan Rakernas III PAN di Hotel JW Marriot, Jalan Embong Malang, Surabaya, Kamis (29/5/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang menunggangi aksi tersebut kata pria asal Yogyakarta ini, tidak akan sebesar saat ini. Pasalnya kata Amien keuangan dari pihak ketiga tersebut tidak akan mampu, dan orang yang direkrut pun terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ditunggangi aksi-aksi mahasiswa penolakan kenaikan BBM hanya akan berlangsung selama satu dua hari saja. Aksi ini jauh dilakukan mahasiswa sebelum kenaikan BBM diumumkan oleh pemerintah," kata Amien Rais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu ujar tokoh reformasi ini, pemerintah harus mengkaji ulang kenaikan harga BBM. Dan jika pun pemerintah mengkaji ulang kenaikan harga bahan bakar minyak, itu tidak akan membuat pemerintah bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau kebijakan kenaikan harga BBM terus-menerus didemo, pemerintah harus mengkaji ulang. Karena tidak akan ada kiamat di Indonesia kalau dilakukan moratorium kenaikan harga BBM," tandasnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-8932111770925357733?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/8932111770925357733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=8932111770925357733' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8932111770925357733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8932111770925357733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/05/aksi-tolak-bbm-yang-dilakukan-mahasiswa.html' title='Aksi Tolak BBM yang Dilakukan Mahasiswa Murni untuk Rakyat'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-869599123251516281</id><published>2008-05-29T09:47:00.000-07:00</published><updated>2008-05-29T09:49:12.704-07:00</updated><title type='text'>Amien Rais: Tugas Selasai, SBY-JK Jangan Mencalonkan Lagi</title><content type='html'>Deklarator PAN Amien Rais kembali mengeluarkan pernyataan pedas terkait SBY-JK. Tokoh reformasi ini meminta kepada SBY-JK agar tidak mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2009 mendatang. Pasalnya tugas dan misi keduanya sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanpa mengurangi rasa hormat pada SBY-JK, anda sudah selesai misinya. Anda sudah tua dan sulit untuk berubah," kata Amien Rais di sela-sela bedah buku miliknya yang berjudul "Selamatkan Indonesia" di Hotel JW Marriot, Jalan Embong Malang, Surabaya, Kamis (29/5/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Amien, mencari seorang pemimpin memang tidak gampang. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencari seorang pemimpin yang cocok. Venezuela saja kata Amien butuh waktu dua abad untuk mendapatkan seorang Hugo Chavez. Dan Indonesia kata pria asal Jogyakarta ini Indonesia memerlukan pemimpin nasional yang cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita belum memiliki pemimpin yang cocok. Kadang untuk mencari pemimpin kita perlu waktu puluhan tahun," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien Rais mengungkapkan, kader harus di&lt;em&gt;-overhaul&lt;/em&gt; atau turun mesin. Meski tanpa diturunkan ujar Amien, harus sudah turun sendiri. "Yang ada sekarang ini tidak usah diserang. Sudah low sendiri, kita amankan sampai 2009," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu kata mantan Ketua MPR RI ini keduanya (SBY-JK) tidak bisa berhenti bekerja keras membangun bangsa ini. keduanya harus tetap melanjutkan sampai masa jabatan keduanya habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolonglah kerja keras lagi jangan sampai BBM naik," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin menambahkan, pemimpin Indonesia kedepan adalah pemimpin yang punya keberanian dan bukan pemimpin yang peragu. Seorang pemimpin yang berani melakukan negosiasi ulang kontrak migas dan non migas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemimpin nasional tidak boleh pengecut. Hidup itu sekali, kenapa harus takut dan peragu," pungkasnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-869599123251516281?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/869599123251516281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=869599123251516281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/869599123251516281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/869599123251516281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/05/amien-rais-tugas-selasai-sby-jk-jangan.html' title='Amien Rais: Tugas Selasai, SBY-JK Jangan Mencalonkan Lagi'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-1923295700130160574</id><published>2008-05-14T07:09:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T07:10:21.579-07:00</updated><title type='text'>Ibu Kita Ternyata Telah Membohongi Kita.</title><content type='html'>Cerita bermula ketika seorang anak yg kecil yang kita sebut saja budi(menjadi tokoh AKU), aku terlahir sebagai seorang&lt;br /&gt;anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan&lt;br /&gt;saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi&lt;br /&gt;nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :&lt;br /&gt;"Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan&lt;br /&gt;waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu&lt;br /&gt;berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan&lt;br /&gt;bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan&lt;br /&gt;yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,&lt;br /&gt;ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih&lt;br /&gt;menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku&lt;br /&gt;makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu&lt;br /&gt;menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan&lt;br /&gt;cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan&lt;br /&gt;ikan" ---------- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan&lt;br /&gt;kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api&lt;br /&gt;untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang&lt;br /&gt;untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun&lt;br /&gt;dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan&lt;br /&gt;dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku&lt;br /&gt;berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus&lt;br /&gt;kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak&lt;br /&gt;capek" ---------- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku&lt;br /&gt;pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,&lt;br /&gt;ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama&lt;br /&gt;beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah&lt;br /&gt;selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah&lt;br /&gt;disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental&lt;br /&gt;tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.&lt;br /&gt;Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk&lt;br /&gt;ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak&lt;br /&gt;haus!" ---------- &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap&lt;br /&gt;sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,&lt;br /&gt;dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita&lt;br /&gt;pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat&lt;br /&gt;kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati&lt;br /&gt;yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar&lt;br /&gt;maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat&lt;br /&gt;kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk&lt;br /&gt;menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan&lt;br /&gt;nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"&lt;br /&gt;----------&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan&lt;br /&gt;bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak&lt;br /&gt;mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit&lt;br /&gt;sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang&lt;br /&gt;bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu&lt;br /&gt;memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang&lt;br /&gt;tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya&lt;br /&gt;punya duit" ----------&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian&lt;br /&gt;memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika&lt;br /&gt;berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja&lt;br /&gt;di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud&lt;br /&gt;membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik&lt;br /&gt;hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku&lt;br /&gt;tidak terbiasa" ----------&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker&lt;br /&gt;lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di&lt;br /&gt;seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk&lt;br /&gt;ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya&lt;br /&gt;setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku&lt;br /&gt;dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya&lt;br /&gt;terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas&lt;br /&gt;betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat&lt;br /&gt;lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air&lt;br /&gt;mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti&lt;br /&gt;ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku,Aku&lt;br /&gt;tidak kesakitan" ----------&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta&lt;br /&gt;menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa&lt;br /&gt;tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! "&lt;br /&gt;Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan&lt;br /&gt;waktu kita&lt;br /&gt;untuk berbincang dengan ortu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita&lt;br /&gt;yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk&lt;br /&gt;meninggalkan ortu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ortu yang&lt;br /&gt;ada di rumah.&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan&lt;br /&gt;pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas&lt;br /&gt;apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di&lt;br /&gt;samping kita.&lt;br /&gt;Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?&lt;br /&gt;Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita&lt;br /&gt;sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita&lt;br /&gt;renungkan kembali lagi..&lt;br /&gt;Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu&lt;br /&gt;kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;"MENYESAL"&lt;/span&gt; di&lt;br /&gt;kemudian hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-1923295700130160574?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/1923295700130160574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=1923295700130160574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1923295700130160574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1923295700130160574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/05/ibu-kita-ternyata-telah-membohongi-kita.html' title='Ibu Kita Ternyata Telah Membohongi Kita.'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-4238275569346906407</id><published>2008-05-09T10:04:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T10:05:18.756-07:00</updated><title type='text'>10 Tahun Reformasi "Indonesia Negara yang Gagal"</title><content type='html'>&lt;div class="entrytext"&gt;    &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;“Indonesia negara gagal, karena tidak bisa melayani kebutuhan pokok rakyatnya. Negara tak bisa melindungi kekayaan yang di miliki dari pencuri yang hilir-mudik di depan matanya. Tidak bisa melindungi diri dari pencuri kayu di hutan, ikan di laut, dan korupsi yang bertebaran di depan mata”. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Arbi Sanit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam peringatan 99 Tahun Bung Syahrir dan 60 Tahun Partai Sosialis Indonesia sebagaimana dilansir Harian Kompas Senin 31 Maret 2008.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ungkapan Arbi Sanit yang mengawali tulisan ini bisa jadi mewakili sebagian besar perasaan masyarakat Indonesia yang pesimistis terhadap perubahan signifikan yang berlangsung di negeri ini. Dalam beberapa pekan yang lalu, kami mencoba melihat kasus Timor Leste yang kami kutif menurut beberapa ahli, jika dalam beberapa tahun kemudian tidak ada perubahan signifikan Timor Leste menjadi contoh salahsatu negara gagal. Kami geli dan gelisah ternyata bentuk “Negara gagal” malah sudah hadir di depan mata sendiri, dan itu adalah Negara di mana bumi kami pijak. Dalam kesempatan ini kami mencoba mengkaji Indonesia dalam perspektif Negara gagal sekaligus menyambut 10 tahun reformasi. Insya Allah dalam menyambut 10 tahun Reformasi, tulisan ini pun akan dilanjutkan dalam bentuk perspektif yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-51"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arbi Sanit melihat bahwa partai politik merupakan lembaga yang paling bertanggungjawab atas beragamnya keterpurukan dan ketidakteraturan dalam system Negara saat ini. Pasalnya parpol yang memegang hak monopoli untuk berkuasa, parpol juga yang membuat aturan bagaimana kekuasaan itu di bentuk dan dijalankan. Keadaan ini adalah bukti kondisi parpol yang lebih buruk dari kondisi Negara. Parpol tidak bisa melahirkan kekuasaan yang baik dan berpihak kepada rakyat. Ketidakmampuan ini disebabkan ketidakmampuan parpol melahirkan kader yang berkualitas, punya integritas dan moral, serta punya visi kebangsaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam Tulisan Agus Hariyadi dengan judul &lt;em&gt;”Revolusi (tak) Berhenti di Hari Minggu”&lt;/em&gt;. Agus mengutif ucapan Affan Gaffar yang lebih ”menakutkan” lagi bahwa ”tak ada harapan di bidang ekonomi, tak ada harapan di bidang politik dan hukum, kita sudah tak punya harapan!”. Yang kemudian ditafsirkan dalam tulisan Ray Rangkuti bahwa kerusakan yang ada telah terlanjur kronis dan menguburkan harapan banyak orang akan adanya pemulihan. Pembususkan sudah sampai pada tingkat yang tak mungkin disembuhkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa yang terjadi dengan reformasi kita? Mengapa hasil akhir reformasi di usia yang kesepuluh ini masih mencemaskan? Dan kenapa kita hingga tahun yang kesepuluh ini masih berkutat dalam proses transisi menuju demokrasi?. Sepuluh tahun reformasi, Indonesia memang tidak banyak mengalami perubahan yang fundamental, baik dari segi politik, hukum, sosial maupun ekonomi. Dan ini terbukti dengan belum adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpihak kepada rakyat, dan ini terbukti bahwa rakyat hanya selalu menjadi objek kepentingan politik belaka. Dan ini terbukti pemberdayaan rakyat hingga saat ini hanya menjadi slogan elite-elite belaka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negara Gagal?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keadaan Indonesia terus bertambah buruk, harga bahan pokok, harga kedelai, harga minyak dan gas, berada di atas daya beli, selain itu ditambah dengan pengangguran yang terus meningkat. Sosiolog Musni Umar berpendapat bahwa ketidakberhasilan ini disebabkan pemerintah meneruskan sistem neoliberalisme dan neokapitalisme dengan mengadopsi kebijakan ekonomi berdasarkan konsensus Washington. Konsensus ini mengakibatkan kerugian bagi Rakyat Indonesia, karena ketidaksiapan Indonesia menghadapai kebebasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari segi politik, Indro Tjahjono mantan Ketua Nasional Gerakan Mahasiswa berpendapat, bahwa kesalahan pemerintah terletak pada belum berubahnya sistem demokrasi yang berlaku di Indonesia, yang berlaku adalah demokrasi kapitalisme seperti yang berlaku pada rezim Orde Baru. Demokrasi kapital merupakan demokrasi yang tunduk kepada modal atau mereka yang memiliki uang. Selama keadaan ini terus berlangsung maka demokrasi nilai yang seharusnya bersuara dan bersumber pada rakyat tidak akan tercapai. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari ungkapan-ungkapan di atas apakah membuktikan bahwa Indonesia adalah bentuk contoh dari negara gagal?! Apakah ini contoh ”gagalnya negara”. Tak kurang dari dua pengamat globalisasi, Dr. B. Herry Prijono dan Dr. Dedy N. Hidayat yang dikutif Rahman, mengingatkan agar hati-hati mendiskusikan ihwal negara gagal atau gagal negara. Jangan-jangan Indonesia benar-benar jadi contoh negara yang gagal. Ramalan dan kekhawatiran jadi kenyataaan atau &lt;em&gt;self fulfilling propechy&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertanyaan yang dilontarkan dari kekhawatiran ini adalah, apakah negara gagal itu? Apakah negara itu yang dimaksudnya adalah pemerintah?, atau juga institusi negara yang lain seperti lembaga perwakilan?. Dan apa yang dimaksud dengan ”gagal”, apakah negara ini penuh dengan kekacauan sipil? Pembakaran di mana-mana?, proses penegakkan hukum mandul, dan masyarakat tidak punya aturan lagi?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Opini Meuthia dalam opininya berjudul ”Negara Gagal” (Kompas, 3/4./2008) mengajak kita untuk melihat studi yang dilakukan &lt;em&gt;World Economic Forum&lt;/em&gt; dari Universitas Harvard pada tahun 2002 yang merumuskan tentang negara gagal, ciri-cirinya dan apa akibatnya. Studi mereka meliputi 59 negara di mana Indonesia menjadi salahsatu sample mereka. Dan diharapkan studi ini menjadi cermin apa yang sedang terjadi di Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut studi ini karakteristi negara gagal, antara lain adalah tingginya angka kriminalitas dan kekerasan, korupsi yang merajalela, miskinnya opini publik, serta suasana ketidakpastian yang tinggi. Negara gagal terbentuk pada awalnya karena kegagalan di bidang ekonomi, yaitu ketidakefeisienan yang parah dalam mengatur modal dan tenaga kerja dan ketidakmampuan melakukan distribusi/pengadaan pelayanan dan barang dasar bagi penduduk ekonomi lemah. Akibat selanjutnya adalah kemiskinan dan pengangguran yang berkepanjangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemunduran ekonomi biasanya sejalan dengan lemahnya institusi penegakkan hukum. Karena adanya kemunduran ekonomi, akan semakin sulit menegakkan institusi-institusi negara menjadi lebih bersih. Dan kendala penegakkan demokrasi juga menjadi hambatan kalau rakyat lebih suka memikirkan ”perut” daripada kehidupan bermasyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam bukunya Jared Diamond yang berjudul &lt;em&gt;Collapse&lt;/em&gt; (2005) dicantumkan peta Indonesia sebagai negara yang sekaligus berbeda dalam &lt;em&gt;environmental trouble spots of the modern world &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;political trouble spots of the modern world&lt;/em&gt;. Indonesia menurut Diamond adalah negara yang pernah dan sedang mengalami rentetan masalah politik yang memenuhi syarat sebagai pertanda yang baik bagi negara gagal &lt;em&gt;(state failure)&lt;/em&gt;. Selain itu tekanan penduduk yang mencapai 3 persen tiap tahun mempercepat laju deforistasi (penggundulan hutan), meningkatnya limbah kimia beracun (polusi, rumah kaca, dan pertambangan), krisis energi, kekeringan, kelaparan, dan berbagai masalah lingkungan dan sosial.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mengutip buku Collapse ini bahwa betapa penebangan hutan ilegal dan ketidakmampuan menjaga lingkungan udara, laut, darat merupakan hal-hal serius yang harus diperhatikan Indonesia. Mental korupsi yang merajalela dan parah di semua tingkatan rakyat, besarnya beban hutang negara, dikuasainya aset-aset ekonomi oleh segelintir orang dan mantan kroni Orba, diabaikannya konflik kepentingan dalam lembaga-lembaga negara, dan rapuhnya perbankan Nasional, sebagaimana yang dimisalkan oleh Meuthia yaitu cara-cara premanisme yang bank-bank terkemuka dalam penagihan utang. Jika tidak diperbaiki, tidak mustahil kita akan menyusul Somalia, Sudan, Rwanda, atau Haiti yaitu menjadi Indonesia yang kolaps.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengamat Politik Ikrar Nusa Bhakti juga menyatakan keprihatinannya, pemerintahan yang sepertinya kuat ini, tidak terasa seolah-olah kita tidak memiliki pemerintahan, jika tidak cepat diatasi, bukan mustahil negeri ini akan menuju kepada &lt;em&gt;failed state&lt;/em&gt;, atau negara yang bangkrut dan gagal. Apa jadinya….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hasil akhir reformasi di usia yang kesepuluh ini memang mencemaskan. Transisi sejak tahun 1998 telah berjalan tanpa skenerio yang kuat dan tanpa arahan seorang sutradara yang jelas dan dihormati. Ibarat pentas, pemain hanya dibekali aturan main seadanya, dan itu pun aturan yang usang, tambal-sulam, tumpang tindih, dan pemain dibebaskan berimprovisasi. Terjadi benturan, bukan hanya di antara para pemain, penonton pun yang harusnya menikmati malah ikut. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Corak transisi di Indonesia sangat berbeda. Jatuhnya Soeharto tidak diduga dan tidak dipersiapkan sejak jauh hari. Bahkan para pengamat asing yang kompeten tidak menduga Soeharto dapat jatuh secepat itu. Penulis ketika masih berstatus mahasiswa dan ikut dalam demontrasi di Gedung DPR hampir tidak percaya, ketika melakukan sujud syukur, hati penulis pun masih mempertanyakan kebenarannya. Ketika kekuasaan berganti, semua menjadi terkesima. Sistem lama sudah hilang legitimasinya. Sementara skenerio baru untuk politik dan ekonomi tidak tersedia. Aneka improvisasi, uji coba dan &lt;em&gt;trial and error&lt;/em&gt; dilakukan hingga kini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak adanya sutradara yang dihormati dan mau menjadi sutradara yang baik menjadi ”guru bangsa”. Sebaliknya presiden bahkan terlalu mudah dijatuhkan. Habibie naik lalu pertanggungjawabannya ditolak. Gus Dur naik lalu dijatuhkan, Megawati naik kemudian tidak lagi kembali terpilih. SBY naik, pemerintahannya tidak terlepas gonjang-ganjing tarikan partai politik. Tidak ada partai politik yang mendominasi parlemen atau Kongres, partai pemerintah (Partai Demokrat) malah mempunyai kedudukan yang lemah di parlemen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam catatan akhirnya, Meuthia menilai kegagalan negara bukanlah semata kegagalan pemerintah, melainkan semua aktor yang terlibat dalam distorsi kebijakan publik yang dibutuhkan untuk menyejahterakan masyarakat. Merekalah yang memberikan kemiskinan kepada rakyat dan mengembangkan ketidakadaban.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apakah Indonesia Negara Gagal…….Tergantung anda melihat dan menilainya..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;*Diambil dari berbagai sumber   &lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-4238275569346906407?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/4238275569346906407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=4238275569346906407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/4238275569346906407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/4238275569346906407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/05/10-tahun-reformasi-indonesia-negara.html' title='10 Tahun Reformasi &quot;Indonesia Negara yang Gagal&quot;'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-5403061404292539724</id><published>2008-05-09T10:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-09T10:04:35.106-07:00</updated><title type='text'>Mengenang 10 Tahun Reformasi</title><content type='html'>&lt;p&gt;Tidak terasa sudah 10 tahun kita berada dalam era reformasi, tidak ada satu perubahan mencolok yang terjadi. Tahun 1998 merupakan awal dari masa reformasi. Dilatarbelakangi oleh aksi mahasiswa yang menuntut reformasi ekonomi, politik, dan semua aspek kehidupan berbangsa bernegara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Latar belakang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Awal tahun 1998, perekonomian Indonesia mulai goyah. Hal ini disebabkan krisis moneter, harga kebutuhan banyak yang melambung naik, daya beli masyarakat berkurang. Banyak mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran di gedung DPR/MPR menuntut mundurnya soeharto sebagai presiden saat itu. Aksi dengan agenda reformasi tersebut mendapat dukungan dan simpati dari rakyat Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-53"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="more-66"&gt;&lt;/span&gt;Gedung DPR/MPR dipenuhi oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Indonesia. Semua elemen mahasiswa yang berbeda faham dan aliran bersatu dalam satu tujuan menurunkan soeharto. Aksi menduduki gedung DPR/MPR ini dipelopori oleh Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ) dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Forum_Kota" title="Forum Kota"&gt;Forum Kota.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya, tujuan mahasiswa tercapai, soeharto mengundurkan diri pada tanggal 12 mei 1998. Namun, perjuangan tersebut dibayar mahal dengan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Trisakti" title="Tragedi Trisakti"&gt;tragedi Trisakti&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tragedi_semanggi" title="Tragedi semanggi"&gt;tragedi semanggi&lt;/a&gt; yang menewaskan banyak mahasiswa akibat bentrokan dengan aparat bersenjata. Para mahasiswa yang gugur dan dianugerahi pahlawan reformasi antara lain:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Muhammad Yusuf Rizal &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa FISIP angkatan 1997 Universitas Lampung, Lampung. Gugur tertembak di depan markas Koramil Kedaton, Lampung, pada tanggal 28 September 1999 saat melakukan unjuk rasa menentang penerapan UU PKB.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Yun Hap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Universitas Indonesia, Jakarta. Gugur dalam peritiwa Tragedi Semanggi II pada tanggal 23 September 1999.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Bernardus R Norma Irmawan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya, Jakarta.&lt;br /&gt;Gugur dalam peristiwa Tragedi Semanggi pada tanggal 13 November 1998.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Engkus Kusnadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Universitas Jakarta&lt;br /&gt;Gugur setelah Tragedi Semanggi pada tanggal 13 November 1998.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Heru Sudibyo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa penyesuaian semester VII Universitas Terbuka, Jakarta&lt;br /&gt;Gugur setelah Tragedi Semanggi pada tanggal 13 November 1998.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Lukman Firdaus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pelajar Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 3 Ciledug, Tangerang&lt;br /&gt;Gugur setelah memperkuat barisan mahasiswa proreformasi di Jakarta, pada hari Kamis tanggal 12 November 1998 ia terluka berat dan meninggal dunia beberapa hari kemudian.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Sigit Prasetyo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Teknik Sipil YAI Jakarta&lt;br /&gt;Gugur dalam peristiwa Tragedi Semanggi pada tanggal 13 November 1998.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;Teddy Wardani Kusuma&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin Institut Teknologi Indonesia, Serpong.&lt;br /&gt;Gugur dalam Tragedi Semanggi pada tanggal 13 November 1998.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Elang Mulya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Trisakti, Jakarta&lt;br /&gt;Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hafidin Royan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Trisakti, Jakarta&lt;br /&gt;Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hendriawan Sie&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Trisakti, Jakarta&lt;br /&gt;Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hery Hartanto&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Trisakti, Jakarta&lt;br /&gt;Gugur dalam Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Moses Gatotkaca&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kelahiran Banjarmasin yang bekerja di Yogyakarta ini menjadi korban kekerasan pada saat terjadi kerusuhan di Yogyakarta pada tanggal 8 Mei 1998&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p align="right"&gt;&lt;a href="http://www.semanggipeduli.com/"&gt;www.semanggipeduli.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://www.metrotvnews.com/newsdotcom/data/berita/12.jpg" height="276" width="439" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;berikut adalah salah satu kutipan dari ungkapan mahasiswa pada saat itu:&lt;/p&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Sumpah Mahasiswa !!!&lt;br /&gt;Kami…Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah!!&lt;br /&gt;Bertanah air satu..Tanah air TANPA PENINDASAN !!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami…Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah!!&lt;br /&gt;Berbangsa satu…Bangsa yang GANDRUNG akan KEADILAN !!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami…Mahasiswa Mahasiswi Indonesia Bersumpah!!&lt;br /&gt;Berbahasa satu..BAHASA KEBENARAN !!!&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;Setelah soeharto mundur, presiden dipegang BJ Habibie, di masa pemerintahannya Timor timur lepas dari NKRI pada Oktober 1999 melalui referendum. Dan itulah yang menyebabkan BJ Habibie menjadi catatan kelam Bangsa Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selanjutnya tahun 1999 diadakan pemilu, jabatan presiden berpindah tangan dari BJ Habibie kepada Gus Dur, dan sebagai wapres adalah megawati. Di masa pemerintahannya banyak terjadi peristiwa sparatis di Aceh, maluku, dan papua. Disamping itu banyak kebijakan yang ditentang oleh MPR/DPR. Dan banyak yang menilai mencla-mencle. Akibatnya, mahasiswa berdemo menuntut pengunduran diri Gus Dur. Pada tanggal 29 JaAnuari 2001 Gus Dur mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya kepada Megawati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001, Megawati secara resmi diumumkan menjadi Presiden Indonesia ke-5. Di masa pemerintahannya tidak ada perubahan yang berarti kecuali nilai tukar rupiah yang lebih stabil. Pada awal pemerintahannya, kepopuleran megawati sangat tinggi, namun seiring waktu kepopulerannya turun. Banyak yang menilai Megawati dingin terhadap rakyat alias jarang berkomunikasi langsung dengan rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya, pemilu 2004 berlangsung. Presiden dipilih langsung oleh rakyatnya. Dan yang terpilih pada saat itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla. Di masa pemerintahannya banyak ujian berat mengujinya. Diantaranya Tsunami Aceh danPangandaran yang menjadi sorotan perhatian Internasional. Di masa pemerintahannya, berkali-kali harga BBM menjadi naik, harga sembako menjadi naik, BBM menjadi langka, pengangguran semakin banyak. Dan yang baru-baru ini adalah adanya kebijakan yang diterapkan dalam waktu dekat yakni kenaikan harga BBM, hal ini dilakukan dalam rangka menyelamatkan anggaran BBM, namun akibatnya malah menyengsarakan rakyat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang aja banyak rakyat kecil yang tidak mampu membeli keperluan dapurnya. Hal ini disebabkan semakin mahal dan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, baik minyak tanah maupun sembako. Ddan itulah yang menyebabkan banyaknya rakyat yang mengalami kelaparan dan gizi buruk. Dan diperkirakan jika kenaikan BBM diterapkan lagi akan menyebabkan 1 juta lebih pengangguran akan bertambah. Itulah perkembangan Indonesia setelah 10 tahun reformasi.  Silahkan bagi para pembaca apabila ada yang menambahkan, perubahan apa saja yang sudah terjadi pada negeri ini? tambah baik atau tambah buruk?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari:  berbagai sumber&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-5403061404292539724?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/5403061404292539724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=5403061404292539724' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/5403061404292539724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/5403061404292539724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/05/mengenang-10-tahun-reformasi.html' title='Mengenang 10 Tahun Reformasi'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-1171661505963602154</id><published>2008-04-28T04:28:00.000-07:00</published><updated>2008-04-28T04:34:07.213-07:00</updated><title type='text'>Ketika Politik Semata Bermuara pada Kekuasaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;pre&gt;Di tengah centang-perenang suasana politik Indonesia, Presiden Megawati&lt;br /&gt;menyerukan tantangan: tunggu pemilu 2004. Berbagai tanggapan bermunculan&lt;br /&gt;atas tantangan ini. Ada yang mengatakan wajar, ada yang mengatakan&lt;br /&gt;emosional, ada pula yang mengatakan terlalu percaya diri tapi kurang&lt;br /&gt;realistis. Namun yang tidak boleh diabaikan adalah tanggapan yang menggugat&lt;br /&gt;bahwa tantangan tersebut sebenarnya menunjukkan kuatnya orientasi politik&lt;br /&gt;akan kekuasaan.&lt;br /&gt;Memang bisa disimpulkan demikian, bahwa semua pertentangan, debat, kritik&lt;br /&gt;bahkan gugatan akan ketepatan pilihan kebijakan, akhirnya bermuara pada soal&lt;br /&gt;perebutan kekuasaan. Nuansa tersebut tidak saja terlihat dalam isi tantangan&lt;br /&gt;presiden tersebut, tetapi juga dalam wacana sekitar presidium maupun dalam&lt;br /&gt;salah satu issu kuat demonstrasi: turunkan Mega-Hamzah.&lt;br /&gt;Maka bisa dimengerti kalau kemudian ada yang gelisah: bangsa ini tidak&lt;br /&gt;sungguh belajar bagaimana berdemokrasi, masih saja suka membuat petualangan&lt;br /&gt;politik, menurunkan yang tidak disukai dan mengangkat yang lain, padahal&lt;br /&gt;hasilnya sama saja. Kita tidak berangkat dari konsep utuh dan menyeluruh&lt;br /&gt;bagaimana negara ini mau dibangun. Namun sekedar melakukan ”hobby”&lt;br /&gt;menggoyang-goyang pohon pinang untuk berebut hadiah, demikian sering&lt;br /&gt;diumpamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelewengan Makna&lt;br /&gt;Politik pada dasarnya dimaksudkan untuk membangun tatanan kehidupan bersama&lt;br /&gt;secara lebih modern. Maka hukum rimba, siapa kuat dia yang menang, atau&lt;br /&gt;siapa yang nekat dia yang berjaya, tidak bisa diberlakukan lagi. Terlebih&lt;br /&gt;tatanan tersebut diarahkan agar mereka yang dalam posisi lemah dan kalah&lt;br /&gt;tidak semakin tersingkir dan dimarginalisasi.&lt;br /&gt;Namun kenyataan berbicara lain. Politik sebagai suatu tatanan sosial memberi&lt;br /&gt;tempat bagi kenyamanan, bahkan juga keuntungan, bagi mereka yang berada&lt;br /&gt;dalam posisi menentukan. Maka kemudian aspek pelayanan bergeser pada arus&lt;br /&gt;aspek pemanfaatan kuasa demi keuntungan.&lt;br /&gt;Kasus Perang Irak II bisa dipakai sebagai contoh. AS, bersama sekutu&lt;br /&gt;kentalnya Inggris, tetap saja berambisi menyerang, karena sudah mengincar&lt;br /&gt;keuntungan bisnis minyak paska-perang. Maka tuduhan akan adanya&lt;br /&gt;oil-connection pada diri mereka yang berada di balik dinding kekuasaan&lt;br /&gt;Gedung Putih sangat kuat. Argumen logis tidak lagi diperlukan, sehingga&lt;br /&gt;bantahan tim pemeriksa senjata PBB akan tuduhan bahwa Irak memiliki potensi&lt;br /&gt;senjata nuklir menghancurkan tidak masuk di akal. Yang masuk akal baginya&lt;br /&gt;hanyalah keuntungan, dan dianggap keuntungan yang akan datang itu akan&lt;br /&gt;membuai rakyat Amerika untuk terus mendukung mereka.&lt;br /&gt;Kelangsungan kekuasaan tidak didasarkan pada sejauhmana tata kehidupan&lt;br /&gt;bersama berlangsung baik, dengan memberi penghargaan serta jaminan akan&lt;br /&gt;kelompok lemah. Kapital yang lalu menjadi tolok ukur. Memang pertumbuhan&lt;br /&gt;ekonomi menjadi tolok ukur vital bagi suatu penilaian keberhasilan kekuasaan&lt;br /&gt;politik. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai dengan keadilan akan&lt;br /&gt;meletuskan bom waktu yang bisa meluluhlantakkan fundamen stabilitas yang&lt;br /&gt;dibangun.&lt;br /&gt;Kekerasan dan apa yang sering disebut barat sebagai terorisme, pun dalam&lt;br /&gt;banyak hal merupakan bentuk yang lahir dari situasi ketidakadilan. Apalagi&lt;br /&gt;kalau ketidakadilan tersebut tidak saja berwujud ketidakadilan ekonomi,&lt;br /&gt;sosial dan politik, tetapi juga ketidakadilan agama. Arogansi barat memang&lt;br /&gt;tak jarang memandang rendah dan salah kultur dan religiusitas yang bukan&lt;br /&gt;Barat.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di Indonesia, demonstrasi, reaksi tajam akan sosok&lt;br /&gt;pemerintahan harus diakui merupakan pula letupan yang timbul akibat&lt;br /&gt;ketidakadilan. Kekuasaan politik ternyata tidak begitu berpihak pada yang&lt;br /&gt;lemah. Malahan beban mereka semakin berat dan menekan. Penguasa pun dirasa&lt;br /&gt;semakin jauh dari realitas kehidupan wong cilik, yang dikatakan ingin&lt;br /&gt;dibelanya. Bahkan korupsi yang katanya ingin dibasmi malahan secara kasat&lt;br /&gt;mata semakin merebak ke mana-mana.&lt;br /&gt;Politik telah terselewengkan dari maknanya, karena lebih berorientasi pada&lt;br /&gt;kekuasaan yang menguntungkan. Bila demikian bisa kita pertanyakan, pemilu,&lt;br /&gt;ataupun upaya pendongkelan kekuasaan, bisa jadi hanyalah soal rebutan&lt;br /&gt;kesempatan untuk meraup keuntungan. Bila ini yang terjadi, maka politik&lt;br /&gt;hanyalah menjadi soal rebut-merebut rezeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembalikan Makna&lt;br /&gt;Saat menjelang pemilu di Jerman dan Austria berapa waktu lalu, bahkan belum&lt;br /&gt;lama ini di Belanda, sering dilontarkan sejumlah persoalan atau isu mendasar&lt;br /&gt;yang diharapkan menjadi perhatian. Isu tersebut antara lain soal&lt;br /&gt;kesejahteraan sosial, penghargaan akan pluralitas, tempat bagi imigran dan&lt;br /&gt;penghargaan akan kehidupan keluarga.&lt;br /&gt;Bahkan di berbagai belahan negara Eropa, juga parlemen Uni Eropa, mucul&lt;br /&gt;kesadaran akan pentingnya kembali pada dasar-dasar nilai moral. Sebagai&lt;br /&gt;kawasan yang punya akar kultur Kristiani, muncul keinginan untuk belajar&lt;br /&gt;kembali dari nilai-nilai Kristiani sebagai landasan tatanan sosial kehidupan&lt;br /&gt;bersama.&lt;br /&gt;Orientasi yang hanya mengejar keuntungan serta pertumbuhan ekonomi belaka&lt;br /&gt;ternyata tidak mampu menyelesaikan berbagai soal dalam kehidupan bersama.&lt;br /&gt;Malahan lilitan ketidakadilan serta ketidakseimbangan dalam hidup makin&lt;br /&gt;terasa. Proses kehidupan bersama yang berjalan tanpa landasan nilai yang&lt;br /&gt;kokoh juga dirasakan tidak mampu menghantarkan masyarakat pada suatu&lt;br /&gt;kehidupan bersama yang kuat, jalinan relasi bersama yang padu.&lt;br /&gt;Pembicaraan mengenai perlunya kembali pada landasan nilai yang kokoh semakin&lt;br /&gt;sering menjadi topik diskusi politik dalam forum publik. Memang ada&lt;br /&gt;pro-kontranya, terlebih ketidakinginan topik itu lalu diartikan kembalinya&lt;br /&gt;agama dalam kehidupan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tampaknya demikian. Yang lebih dimaksudkan adalah dikukuhkannya&lt;br /&gt;kembali nilai religiusitas, penghargaan akan pribadi dan kehidupan keluarga,&lt;br /&gt;serta penghargaan akan kelompok sosial baru dan minoritas, termasuk juga&lt;br /&gt;kelompok Islam, yang makin menjadi fenomen yang harus diakui.&lt;br /&gt;Di Indonesia, kecenderungan untuk mengembalikan makna politik masih jauh&lt;br /&gt;dari harapan. Yang lebih terjadi adalah rebut-merebut, jegal-menjegal, dan&lt;br /&gt;tantang-menantang. Kalaupun fenomen politiknya adalah politik kekuasaan,&lt;br /&gt;politik kekuasaan yang khas di Indonesia sekarang adalah politik pertarungan&lt;br /&gt;kekuasaan. Memang seakan situasinya seperti orang mau bertarung:&lt;br /&gt;tantang-menantang.&lt;br /&gt;Agama pun lebih dimaksudkan sebagai bentuk dan kelompok, bukan berdasar pada&lt;br /&gt;nilai. Kalau agama lebih dilihat sebagai kelompok, maka agama bisa terjebak&lt;br /&gt;pula dalam pertarungan kekuasaan yang ada: tantang-menantang, rebut-merebut.&lt;br /&gt;Akibatnya, tidak pernah bisa masuk sungguh dalam gugatan mendasar: mengapa&lt;br /&gt;bangsa Indonesia yang menyebut diri beragama, korupsi dan penyelewengannya&lt;br /&gt;membengkak, kekerasannya merebak, dan ancaman perpecahannya mendesak.&lt;br /&gt;Oleh karena itu kiranya yang mendesak dilakukan, oleh siapa saja, entah ikut&lt;br /&gt;tertantang saat pemilu nanti atau tidak, adalah segera menemukan kembali&lt;br /&gt;nilai kehidupan bersama, yang mendasari kehidupan berbangsa kita ini. Kita&lt;br /&gt;sebenarnya telah punya Pancasila. Dan tentu selayaknya setelah diselewengkan&lt;br /&gt;pengartiannya, perlu digali kembali nilai-nilai itu, dikaji dan dipelajari&lt;br /&gt;kembali.&lt;br /&gt;Tanpa kembali ke nilai dasar, kehidupan politik di negara kita ini akan&lt;br /&gt;tetap menjadi politik kekuasaan, bahkan politik pertarungan kekuasaan.&lt;br /&gt;Akibatnya, seperti sudah kita lihat benihnya: kesengsaraan makin meluas dan&lt;br /&gt;kemiskinan makin menganga, sementara itu kepedulian dari mereka yang di atas&lt;br /&gt;tidak kunjung tiba, karena mereka sibuk dalam permainan politik mencari&lt;br /&gt;keuntungan.&lt;br /&gt;Orde Baru mengatakan ingin mengembalikan bangsa ini pada nilai sebenarnya,&lt;br /&gt;namun yang terjadi malahan penyelewengan makin nyata. Reformasi mengatakan&lt;br /&gt;hal serupa, namun kenyataannya penyelewengan tidak makin berhenti.&lt;br /&gt;Mungkin benar, bangsa ini memang besar nyalinya saat berjanji, namun tak&lt;br /&gt;punya nyali menjalankan janji, demikian pula halnya dalam janji jabatan&lt;br /&gt;ataupun janji kampanye. Malahan, ikut terjebak dalam iming-iming kekuasaan.&lt;br /&gt;Benar politik punya dua sisi kontradiktif: yang satu membebaskan rakyat,&lt;br /&gt;yang lain menindas rakyat. Penguasa politik nyatanya lebih suka memilih sisi&lt;br /&gt;yang menindas.&lt;br /&gt;Dalam situasi ini orang lalu sering bermimpi membayangkan Indonesia adalah b&lt;br /&gt;angsa yang besar. Bahkan karena membayangkan sebagai bangsa besar lalu&lt;br /&gt;merasa punya kekuatan untuk mendesak AS dan Australia, bahkan juga IMF.&lt;br /&gt;Namun kenyataannya, kita masih menjadi bangsa yang berkutat dengan dirinya&lt;br /&gt;sendiri, karena masih ribut berebut ”tulang kekuasaan”. Maka kalau dikatakan&lt;br /&gt;kita berada dalam transisi, proses transisi kita tidak akan pernah selesai&lt;br /&gt;bila keributan tidak segera diakhiri.&lt;br /&gt;Memang tidak bisa seperti presiden yang menyalahkan pers, menyalahkan yang&lt;br /&gt;mengkritik dan menentangnya, bahkan kemudian melemparkan tantangan. Semua&lt;br /&gt;itu tidak akan menyelesaikan soal.&lt;br /&gt;Yang lebih dibutuhkan adalah keterbukaan serta kesediaan untuk berdialog.&lt;br /&gt;Namun ini yang tidak dilakukan. Yang lebih ada adalah arogansi kekuasaan dan&lt;br /&gt;perasaan sudah kuat karena di sedang berada di atas, dan keyakinan diri&lt;br /&gt;bahwa akan menang lagi.&lt;br /&gt;Kekuasaan yang terlalu yakin diri justru akan potensial menjalankan politik&lt;br /&gt;kekuasaan semata, karena hanya mendengarkan dirinya sendiri. Bila ini yang&lt;br /&gt;terjadi, tak ubah seperti Bush, cowboy, gembala sapi dari AS. Ataukah memang&lt;br /&gt;penguasa kita lebih sekedar gembala banteng, dan bukan pengemban amanat&lt;br /&gt;rakyat?&lt;/pre&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-1171661505963602154?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/1171661505963602154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=1171661505963602154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1171661505963602154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1171661505963602154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/ketika-politik-semata-bermuara-pada.html' title='Ketika Politik Semata Bermuara pada Kekuasaan'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-4872736212838868732</id><published>2008-04-28T04:27:00.000-07:00</published><updated>2008-04-28T04:28:17.086-07:00</updated><title type='text'>Fenomena Artis Jadi Pemimpin</title><content type='html'>&lt;div id="item_body" class="bodytext" author="triagus" author_possessive="triagus'"&gt;&lt;p&gt;Setelah Rano Karno berhasil menjadi Wakil Bupati Tangerang. Kini Dede Yusuf berpeluang menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat, setelah Dede dan pasangannya, Ahmad Heryawan sementara unggul dari 2 pasangan lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rano Karno yang terkenal sebagai Si Doel, dikenal sebagai sosok yang baik dalam film dan sinetron2nya. Hal tersebut memudahkan pemilih untuk menjatuhkan pilihan pada saat mencoblos. Karena sosoknya yg terkenal, masyarakat lebih melihat pada figurnya daripada partai yang mendukungnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitu pula dengan Dede Yusuf yang merupakan salah satu aktor yang lahir dari televisi. Perannya yang menjadi manusia yang arif, penolong, baik hati, alim, atau ”Pramuka tulen” itu selama dekade 1980-an hingga 1990-an menjadi sosok yang memenuhi mimpi masyarakat Indonesia yang menderita. Tidak heran, anak laki-laki yang lahir di era itu, dinamakan Dede Yusuf  dengan harapan anak itu kelak menjadi manusia seperti Dede Yusuf yang tergambar di sejumlah sinetron. Iklan Bodrex yang diperankan oleh Dede Yusuf juga menjadi kunci keunggulan, karena masyarakat sering melihat iklannya, baik di media elektronik maupun media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Rano Karno dan (insya Allah) Dede Yusuf, kemungkinan besar, sebagai wakil kepala daerah di Tanggerang dan Jawa Barat, menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat Indonesia yang miskin sangat mempercayai televisi sebagai ruang mimpi mereka. Mereka seakan percaya, apa yang diperankan Rano Karno dan Dede Yusuf di televisi lebih menjanjikan dibandingkan peran para politisi atau mantan pejabat yang dibesarkan partai politik dan birokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, meskipun dua contoh aktor itu masih terlalu minor, tampaknya masyarakat Indonesia telah memiliki mitos baru mengenai pemimpinnya. Sama seperti pada masyarakat tradisional yang memitoskan turunnya ”Ratu Adil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila fenomena ini terus berlanjut, bisa jadi presiden Indonesia 2009-2014 bukan lagi praktisi politik yang sudah malang melintang, melainkan artis-artis yang banyak menyuarakan penderitaan rakyat seperti Iwan Fals atau Dedy Mizwar.&lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-4872736212838868732?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/4872736212838868732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=4872736212838868732' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/4872736212838868732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/4872736212838868732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/fenomena-artis-jadi-pemimpin.html' title='Fenomena Artis Jadi Pemimpin'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-7306422562906399666</id><published>2008-04-24T01:05:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T01:06:50.507-07:00</updated><title type='text'>Curhat Kaskuser!!!</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(255, 255, 102);font-family:Fixedsys;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pernah gak sobat merasakan hidup dlm kekurangan materi? Pdhl materi yang sobat dptkan, sebenarnya, sudah lebih dari cukup? Apakah itu tandanya kita sudah diperbudak oleh uang? Ketika kita bekerja keras utk mencapai taraf hidup, yg menurut kita, mapan. Kemudian? Lama2, kita akan merasa kembali hidup dlm kekurangan. Dan, kita pun kembali bekerja keras tanpa pernah menikmati dan bersyukur atas apa yg telah kta peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue, sama seperti sobat semua. Laki2 normal, pny keinginan utk hidup mampan. Pd tgl 23 April 2000, gue jatuh cinta ama cw, yg menurut gue, perfect.. 7 tahun gue "jalanin hidup" dgn dia. Gue rasa, selama 7 tahun, 2/3 hidup gue ama dia. Gue sayang banget ma dia. Saking sayang gue ama dia, gue berjanji akan nikahi dia dan membahagiakan dia.&lt;br /&gt;Tapi, pikiran gue sangat kolot. Gue berpikir, klo dia bahagia jk gue mapan. Gue bekerja di salah satu Bank Swasta. Dia juga bekerja di salah satu Bank Pemerintah.&lt;br /&gt;Selama gue bekerja, dimulai dari 15 Desember 2005, gue bekerja keras, siang-malam. Gue datang paling pagi dan pulang paling malam. Memang posisi gue hny seorang Clerk. Hasil dari kerja keras, gue berhasil naik pangkat 3x dlm 2 thn, dpt perhargaan karyawan terbaik 2007 se-Jakarta, bonus yg melimpah, dan skrg gue lg promosi utk jabatan Manager. Sebuah prestasi yg luar biasa, menurut gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trnyt, hasil tsb tidak sebanding dgn kenyataan. Gue terpasa kehilangan orang yg gue sayang. Belahan jiwa gue. Gue lupa. Gue gak pernah perhatiin dia lagi. Dlm pikiran gue, dia akan mengerti. Krn semuanya yg gue lakukan, hny utk kebahagiaan dia kelak. Gue marah! Gue kesal! Dia meninggalkan gue 15 Juli 2007.&lt;br /&gt;Gue masih ingat, malam itu dia menangis dan bilang, gue udah berubah. Apanya yg berubah? Bukankah ini semua utk dia? Dia bilang, dia gak butuh semua ini. Dia bilang, gue gak sayang ama dia lagi. Gue hancur! Semua yg gue lakukan terasa hampa. Penghargaan, ketenaran, rasanya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini,21 April 2008,2 hari menjelang hari "bahagia" buat gue ma dia. Malam ini, gue sadar. Gue gak pernah melakukan hal itu utk dia. Sbnrnya, gue melakukan semua itu utk memenuhi ego gue. Gue baru sadar, trnyt gue orang yg egois. Gue baru ingat, betapa seringnya dia menelpon dan khawatir ttg gue, sedangkan gue asyik sok sibuk dgn pekerjaan gue. Betapa seringnya dia menelpon gue utk sekedar bercerita dgn gue, tp gue malah gak angkat krn gue sibuk dgn teman2 gue. Sok sibuk, supaya gue dianggap paling hebat!&lt;br /&gt;Gue memang egois! Gue baru ingat, ketika dia ketemu gue, dia lagi sakit, tp dia bilang, "Aku gpp koq sayang, klo kamu mo meeting, bsk aja kita ke dokter."&lt;br /&gt;Gue masih ingat................................ GUe gak sanggup....... Gue gak pernah menyadari betapa tulusnya dia sayang ma gue!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa saat ini air mata gue jatuh di pipi. Gue selama ini selalu mengingkari rasa sayang dia ke gue...................&lt;br /&gt;Seandainya gue bisa, tp waktu takkan bisa kembali. Saat ini dia sedang mempersiapkan pernikahan dgn co yg mencintai dia sepenuh hati. Gue gak mau ganggu kehidupan dia.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat, gue cuma ingin mengajak merenung sejenak. Apakah sebenarnya tujuan kita hidup di dunia ini? Apakah mmg uang sudah mengendalikan jiwa, raga, dan pikiran kita? Apakah sukses mmg segala2nya? Pernahkah kita melihat, orang disebelah kita? Yg selalu mendampingi kita? Yg tulus sayang ama kita? Entah itu kekasih, istri, suami, orang tua,atau anak, mereka sbnrnya selalu berdo'a utk kita. Merekalah yg tela ikut memberikan kita kekuatan.&lt;br /&gt;Sobat, jgn sampai mereka pergi dari kita. Sayangilah orang yg sayang kpd kita. Mungkin kita sudah lupa, kpn kita teralhir kali mengatakn kpd mereka, "aku sayang banget ma kmu". Inilah saatnya!&lt;br /&gt;Sobat, katakan hal tsb kpd mereka sekarang juga. Jgn hny mengatakan saja! Tp, buatalah mereka merasakan arti dari kata2 tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There's no free lunch. There's price to be paid for what we've got.&lt;br /&gt;Pesan gue, "Never let her/him go away."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p.s:Syg, aq selalu panggil kmu syg selama 7 thn ini, selamat berbahagia ya. Maaf, aq ak pernah telp kmu. Aq gak mau hub kmu terganggu. Seandainya suatu saat nanti kita bertemu lagi, aq pasti akan bahagiakan kmu. Mungkin bukan di dunia ini. Atau, mungkin tidak akan pernah selamanya...&lt;br /&gt;Ttg kmu, akan sll aq simpan di sini, di dalam hati aq...&lt;br /&gt;Spt lagu pertama yg kita dengar dahulu,"Everyday.... I Love U..."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-7306422562906399666?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/7306422562906399666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=7306422562906399666' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/7306422562906399666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/7306422562906399666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/curhat-kaskuser.html' title='Curhat Kaskuser!!!'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-4557845451833243001</id><published>2008-04-24T01:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T01:05:05.262-07:00</updated><title type='text'>Manusia dan Egonya</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Menurut Thomas Hobbes, seluruh umat manusia pada dasarnya bersifat egois. Tapi implikasi dari hal ini tidak sederhana. Bila semua orang egois, maka sebenarnya akan terjadi perjuangan hidup yang luar biasa. Setiap individu melawan individu lain. Setiap orang berupaya mendapatkan apa pun yang diinginkannya dengan cara apa pun. &lt;em&gt;Homo homini lupus&lt;/em&gt; menemui arti dalam konteks seharfiah-harfiahnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Oleh karena itu, kita bisa memilih menjadi orang egois dengan dua cara (Rowlands, 2004:148): cara bodoh atau rasional. Semua orang egois ingin mendapatkan keinginannya, tapi yang rasional menyadari bahwa lebih mudah mendapatkannya bila ia bekerjasama dengan orang lain. Kebutuhan dasar manusia seperti diuraikan dalam piramida kebutuhan Abraham Maslow bisa didapatkan bila kerjasama dilakukan. Artinya, masing-masing pihak membatasi tingkat ego mereka, yang sama saja dengan membatasi kebebasan diri mereka. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Anda mungkin terkejut, ternyata manusia bisa sebegitu buruknya. Betul, coba saja nonton film-film perangnya Steven Spielberg macam &lt;em&gt;The Thin Red Line&lt;/em&gt; atau kisah nyata seperti &lt;em&gt;Hotel Rwanda&lt;/em&gt;, Anda bisa lihat bagaimana manusia memangsa manusia lain tanpa hati. Jadi, omong kosong saja sebenarnya semua hal yang dikatakan para motivator tentang kemampuan manusia mengendalikan pikirannya seperti diungkapkan buku &lt;em&gt;The Secret&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sebenarnya rahasia terbesar manusia –apalagi alam- bukanlah &lt;em&gt;law of attraction&lt;/em&gt;, tapi semua hal di alam tergantung satu sama lain. Kalau sekarang, hal itu dikenal sebagai &lt;em&gt;the butterfly effect&lt;/em&gt;. Kepakan kupu-kupu bersayap hitam di Jakarta yang terpolusi akan mempengaruhi ekosistem di hutan Amazon yang jauhnya ribuan mil. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mungkin saja kita mencoba mengendalikan pikiran kita, tapi bagaimana dengan pikiran orang lain? Lebih jauh lagi, &lt;em&gt;cogito ergo sum&lt;/em&gt;-nya Descartes yang &lt;em&gt;inner view&lt;/em&gt; itu sudah lama dikritisi. Tidak mungkin kita tahu kita eksis cuma dari kita berpikir. Pendeknya, kalau kita lagi ‘males mikir’ seperti kerap diucapkan generasi MTV sekarang ini, apakah eksistensi kita lantas menghilang? Tentunya tidak, oleh karena itu eksistensi kita jelas tidak tergantung dari kegiatan berpikir kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Soal ego, masih ada teori besar dari bapak psikologi Sigmund Freud. Ia membagi kepribadian manusia menjadi tiga: id, ego, dan superego. Jadi ego itu merupakan hal umum dimana manusia mencoba mempertahankan hidupnya dengannya. Bila ia berhasil mengatasinya, barulah ia naik ke tahapan superego. Agak-agak mistikus? Mungkin saja. Karena untuk jadi superego Anda tak cukup cuma berpikir positif, tapi mengatasi kendala keliaran ego Anda. Cara mengatasinya? Cari jalan sendiri &lt;em&gt;lah yauw&lt;/em&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apa yang mau saya bagi hari ini adalah, sah-sah saja jadi egois. Hanya saja ingat, bila Anda bersikap begitu, orang lain pasti akan bersikap sama. Maka, jadilah orang egois yang beradab, mungkin begitu istilahnya. Batasi keinginan dan kebebasan Anda, maka Anda bisa mendapatkan tujuan Anda lebih mudah karena kerjasama dan tenggang-rasa dari orang lain. Minggu depan kita akan ngobrol lagi soal kaitan antara ego, moralitas, dan kontrak sosial. Sementara itu, cobalah mengontrol ego Anda, agar suasana Indonesia tidak memanas karena semua orang ingin haknya (baca: tujuan dan keinginannya) didahulukan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-4557845451833243001?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/4557845451833243001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=4557845451833243001' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/4557845451833243001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/4557845451833243001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/manusia-dan-egonya.html' title='Manusia dan Egonya'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-3861931233273102690</id><published>2008-04-24T01:02:00.000-07:00</published><updated>2008-04-24T01:03:23.861-07:00</updated><title type='text'>Rupiah sudah tidak berharga lagi di Indonesia</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_WqIvTUo4oAI/R-6RMcDZQSI/AAAAAAAAAXo/ndGfDnCz23s/s1600-h/316828_indonesian_rupiah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183239864024908066" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_WqIvTUo4oAI/R-6RMcDZQSI/AAAAAAAAAXo/ndGfDnCz23s/s400/316828_indonesian_rupiah.jpg" border="0" height="151" width="211" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sudah tahu tentang putusan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas perkara perbuatan melawan hukum Yayasan Beasiswa SUPERSEMAR ? Saya tidak tertarik untuk membahas tentang materi gugatan yang diajukan Kejaksaan ataupun masalah pendapat hukum tentang perbuatan melawan hukum yang dilakukan Soeharto ataupun yayasannya tersebut. Saya tertarik dan tergelitik terhadap isi putusan yang pada pokoknya menyatakan, "&lt;em&gt;tergugat II (Yayasan BeasiswaSupersemar) melakukan perbuatan melawan hukum. Karena itu, harus membayar ganti rugi kepada penggugat, yakni Pemerintah RI, sebesar 105 juta dollar AS dan Rp 46,4 miliar&lt;/em&gt;". Dollar ???&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pasal 2 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, menyatakan bahwa satuan mata uang negara Republik Indonesia adalah rupiah (Rp.). Uang rupiah adalah alat pembayaran yang sah di wilayah negara Republik Indonesia. Dalam fungsinya sebagai alat pembayaran yang sah, maka setiap perbuatan yang menggunakan uang atau mempunyai tujuan pembayaran atau kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang jika dilakukan di wilayah negara Republik Indonesia wajib menggunakan uang rupiah, kecuali ditetapkan secara lain. Demikian juga setiap orang atau badan yang berada di wilayah negara Republik Indonesia dilarang menolak untuk menerima uang rupiah yang penyerahannya dimaksudkan sebagai pembayaran atau memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi dengan uang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terhadap putusan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menetapkan membayar ganti rugi dalam mata uang dollar, &lt;em&gt;menurut saya&lt;/em&gt;, merupakan putusan yang keliru - yang seharusnya dikoreksi mengingat berdasarkan Pasal 2 UU No. 23 Tahun 199 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004 jelas-jelas menegaskan pada pokoknya hanya ada satu mata uang di negara ini yakni Rupiah bukan dollar. Terlebih pengaturan penggunaan mata uang rupiah diatur dalam undang-undang yang artinya aturan tersebut adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan dan sesuai dengan azas hukum yang menyatakan bahwa ketika suatu Undang-Undang diundangkan berarti semua orang dianggap tahu, maka semua orang atau badan yang berkaitan dengan aturan tersebut dianggap dan dibebani kewajiban untuk melaksanakan. Apakah majelis hakim yang memutuskan kewajiban membayar ganti rugi kepada Yayasan Supersemar tersebut tidak mengetahuinya ? Rasanya tidak mungkin. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keharusan penggunaan mata uang Rupiah dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini mengingat mata uang merupakan salah satu simbol kedaulatan negara, yang harus ditegakkan keberadaannya. Penggunaan mata uang rupiah di wilayah Republik Indonesia berarti penghormatan terhadap kedaulatan Indonesia, sementara penggunaan mata uang asing jelas merupakan bentuk pengingkaran terhadap simbol kedaulatan negara itu sendiri. Ironisnya, hal tersebut dilakukan oleh Majelis Hakim melalui putusannya. Rasanya Rupiah memang tak lagi dihargai dinegeri ini ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ itulah Indonesia....]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-3861931233273102690?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/3861931233273102690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=3861931233273102690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3861931233273102690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3861931233273102690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/rupiah-sudah-tidak-berharga-lagi-di.html' title='Rupiah sudah tidak berharga lagi di Indonesia'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WqIvTUo4oAI/R-6RMcDZQSI/AAAAAAAAAXo/ndGfDnCz23s/s72-c/316828_indonesian_rupiah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-6585595133279629196</id><published>2008-04-20T08:32:00.001-07:00</published><updated>2008-04-20T08:32:58.408-07:00</updated><title type='text'>Selera Propaganda</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kehendak untuk mengamini dan memiliki sesuatu adalah hal yang lumrah. Namun apa yang menjadi dasar sebuah keinginan tersebut masih menjadi pertanyaan, apakah kita benar-benar menginginkannya ataukah cuma ikut-ikutan saja. Ketidaktahuan terhadap dasar-dasar yang melandasi keinginan terhadap sesuatu malah menjadi sifat baru yang meracun. Sifat seperti ini masih menjadi sifat yang mendominasi masyarakat Indonesia, entah yang berada di daerah perkotaan maupun di daerah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sifat ini merupakan suatu sifat propaganda yang membuat selera masyarakat berubah-ubah, tergantung yang mengawali selera tersebut (&lt;span&gt;trendsetter&lt;/span&gt;). Saya tidak setuju dengan sikap para &lt;span&gt;trendsetter&lt;/span&gt; ini, karena selera propaganda yang dijual secara manis dihadapan para calon pembelinya, dengan menampilkan adegan-adegan yang "mengundang" orang untuk membeli, sebut saja reklame sebuah produk telekomunikasi yang menawarkan tarif termurah dengan model seorang gadis berpakaian ketat dan menaruh tarif termurah tersebut ditengah-tengah daerah yang "menonjol".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hebatnya, wajah dan setengah badannya terpampang dihampir sudut kota-kota Indonesia, maklumlah karena wajahnya yang cantik dan senyumnya yang begitu sumringah diikuti dengan pose angka tarif yang terletak didaerah "menonjol" (tentu yang terakhir akan mengganggu aktifitas libido) membuat kita terhipnotis oleh obyek yang dijual oleh produsen telekomunikasi tersebut. Alhasil, produknya sukses terjual di tengah-tengah masyarakat, tapi pernahkah kita memikirkan dampak dari si model? Model ini pun terkena dampak sosial dan mungkin akan menjadi bahan pelecehan karena angka tarif yang terpampang di tengah-tengah dadanya seolah-olah menjelaskan bahwa harga si model pun setarif dengan produk yang diobyeknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu apa yang menjadi masalah terhadap selera propaganda? Terlalu naif apabila menyalahkan para &lt;span&gt;trendsetter&lt;/span&gt;, namun apa yang disebut sebagai hal yang lumrah apabila terjadi penyalahgunaan terhadap kehendak untuk mengamini sesuatu? Bagi saya, segala bentuk yang dilakukan atas nama selera propaganda merupakan tindakan yang sangat absurditas, tidak mendasari atas kehendak dalam memiliki sesuatu dan hidup dalam keragu-raguan. Seolah-olah kehendak kita dibatasi oleh sekat-sekat yang kita tidak bisa bernafas tanpanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para &lt;span&gt;trendsetter &lt;/span&gt;ini, dengan seenak-enaknya menyerahkan dirinya untuk dijual oleh para produsen-produsen yang menggunakannya secara bijak demi keuntungan yang lebih besar lagi. Apalagi kalo bukan untuk sebuah rantai pembunuhan terhadap trend-trend yang sudah usang, sehingga para produsen ini secara tidak langsung berhadapan dengan globalisasi-globalisasi, tantangan-tantangan baru dihadapan para birokrat-birokrat tua yang juga sudah usang dan tidak bermakna lagi bagi para kaum intelektual modern.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semoga apa yang saya takutkan tentang selera propaganda menjadi benar-benar absurd dan tidak dijadikan agama baru bagi para pemuda/i bangsa yang sedang menjajaki jati diri sendiri maupun bangsa tempat ia tinggal.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-6585595133279629196?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/6585595133279629196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=6585595133279629196' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/6585595133279629196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/6585595133279629196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/selera-propaganda.html' title='Selera Propaganda'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-2885398502647930124</id><published>2008-04-20T08:30:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T08:31:57.266-07:00</updated><title type='text'>Ketidak pedulian dan pemulung</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://dalsono.googlepages.com/2.pemulung-01.jpg"&gt;&lt;img src="http://dalsono.googlepages.com/2.pemulung-01.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika saya sedang mencoba tampil mengikuti apa yang mungkin disebut oleh khalayak sebagai trend yang datangnya dari budaya luar, ketika saya sedang asik menonton film hollywood dan ketika sedang mendengarkan musik pop semua itu membuatku merasa uptodate dan tidak kuno. Tetapi tiba-tiba terdengar kabar bahwa lagu rasa sayange dan reog ponorogo di klaim oleh negara tetangga sebagai budaya mereka. Maka dengan spontan dan bernada amarah saya jadi membenci dan timbul rasa memusuhi tetangga kita itu(pemulung), perasaan seperti perlahan surut dan beralih menjadi kemarahan terhadap diri sendiri dan bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Kenapa marah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa marah ketika mereka menggunakan budaya kita dan mengklaimnya..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah selama ini saya perduli terhadap reog dan lagu rasa sayange..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa alasan saya marah ketika pemulung tersebut mengambil sesuatu yang sudah tidak kita perdulikan lagi..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu karena alasan nasioalisme..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau karena nasionalisme kenapa tidak mencintai budaya negeri sendiri..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kenapa kita tidak perduli terhadap budaya kita yang seharusnya menjadi identitas kita...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manusia macam apa saya ini...?&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;Memang seharusnya kemarahan ditujukan terhadap ketidak pedulianku terhadap budaya negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya.... seharusnya marah sekali,&lt;br /&gt;tapi terhadap siapa?&lt;br /&gt;dan untuk apa marah..?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-2885398502647930124?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/2885398502647930124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=2885398502647930124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/2885398502647930124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/2885398502647930124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/ketidak-pedulian-dan-pemulung.html' title='Ketidak pedulian dan pemulung'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-2534316684516422334</id><published>2008-04-20T08:27:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T08:30:41.911-07:00</updated><title type='text'>Untuk apa belajar?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Di sebuah majalah/koran entah apa saya lupa karena sudah lama sekali yang kurang lebihnya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kurang belajar semakin kurang tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kurang tahu semakin kurang lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kurang lupa semakin banyak tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak tahu semakin banyak lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak lupa semakin kurang tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kurang tahu membuat semakin ingin banyak belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak belajar  semakin banyak tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak tahu semakin banyak lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak lupa semakin kurang tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi..... untuk apa belajar?&lt;br /&gt;Ya... memang gak ada gunanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi mungkin lain halnya kalau pembelajaran tersebut di sertai pemahaman dalam berbagai perspektif, dimana tuntutan untuk kematangan dalam cara memandang menjadi suatu keharusan seiring berjalannya fase-fase hidup yang dilewati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Halah, kok ya jadi ngelantur aku...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-2534316684516422334?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/2534316684516422334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=2534316684516422334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/2534316684516422334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/2534316684516422334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/untuk-apa-belajar.html' title='Untuk apa belajar?'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-7606659378496582795</id><published>2008-04-20T08:26:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T08:27:16.909-07:00</updated><title type='text'>Ekonomi Indonesia yang tangguh?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Belum lama ini wapres tercinta kita berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ekonomi kita sangat tangguh. Tak ada ekonomi di dunia ini yang setangguh Indonesia. Semua negara di dunia saat ini kesulitan akan energi, sementara semua energi ada di Indonesia ini"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;hmm....&lt;br /&gt;benar sekali pak wapres...!&lt;br /&gt;Buktinya tukang becak makannya nasi aking masih bisa narik.....&lt;br /&gt;Dan ada wanita hamil yang mending mati kelaparan dari pada minta makan kepada bapak-bapak petinggi negri ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong gak perlu kulakan, jadi boleh ngasal.&lt;br /&gt;Iya.. kan pak...?????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayak kentut ajah..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-7606659378496582795?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/7606659378496582795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=7606659378496582795' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/7606659378496582795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/7606659378496582795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/ekonomi-indonesia-yang-tangguh.html' title='Ekonomi Indonesia yang tangguh?'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-1403971009791103278</id><published>2008-04-18T07:38:00.000-07:00</published><updated>2008-04-18T07:49:04.543-07:00</updated><title type='text'>Golput dalam PILKADA Meningkat</title><content type='html'>&lt;span class="textreporter"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Golput Pilkada Sumut Diperkirakan Capai 35% Lebih &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="textberita"&gt;&lt;!--&lt;a href="http://ad.detik.com/link/peristiwa/prs-zyrex012008.ad" target="_Blank"&gt; &lt;img src="http://ad.detik.com/images/peristiwa/prs-zyrex200x400.gif" width="200" height="400" border="0" alt="" align="right" /&gt;&lt;/a&gt;--&gt;  &lt;a href="http://ad.detik.com/link/peristiwa/prs-zyrex012008.ad" target="_Blank"&gt; &lt;embed src="http://ad.detik.com/images/peristiwa/prs-zyrex200x400.swf" alt="" align="right" border="0" height="400" width="200"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/a&gt;  &lt;!--&lt;table width="240" border="0" cellpadding="4" cellspacing="1" bg align="right" style="color:#FFFFFF;"&gt;    &lt;tr&gt;    &lt;td colspan="4" bg style="color:#FFFF00;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Update info di seputar Anda setiap hari!&lt;/strong&gt; &lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr align="center"&gt;               &lt;td bg style="color:#0A9DDC;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt;&lt;strong&gt;Operator&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#0A9DDC;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; &lt;strong&gt;Ketik&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#0A9DDC;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; &lt;strong&gt;Kirim ke&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#0A9DDC;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; &lt;strong&gt;Tarif Push&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;        &lt;/tr&gt;       &lt;tr&gt;                 &lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Telkomsel &lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Reg Pol &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt;3845&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#00000;"&gt;Rp 500&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;                 &lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Indosat&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Reg Pol &lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt;3845&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Rp 650&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;                 &lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Xl &amp; Flexi&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Reg Nat&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; 3845&lt;/td&gt;&lt;td bg style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt;Rp 500&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;                 &lt;td bg colspan="4" style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Konten dikirim max 2x sehari&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;      &lt;tr&gt;                 &lt;td bg colspan="4" style="color:#95DEEE;"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;color:#000000;"&gt; Stop, KETIK Unreg Pol atau Unreg Nat&lt;br /&gt; CS : 021-7941178&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;                          &lt;/table&gt;--&gt;    &lt;strong&gt;Medan&lt;/strong&gt; - Jumlah warga yang tidak menggunakan hak pilihnya atau golput, semakin tinggi saja di Sumatera Utara (Sumut). Kepastiannya masih menunggu hasil penghitungan, namun diperkirakan lebih dari 35 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga perkiraan mengenai jumlah golput pada Pilkada Sumut ini. Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumatera Utara (Sumut) memperkirakan, pada Pilkada kali ini sekitar 35 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih menunggu hasil penghitungan resmi, baru ditemukan angka yang sebenarnya. Tetapi kita perkirakan sekitar 35 persen. Angkanya tidak lebih dari itu," kata Irham Buana kepada detikcom di Kantor KPUD Sumut, Jl. Perintis Kemerdekaan, Medan, Rabu (16/4/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Sumut, Eddy Syofian menyatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya dari 25 kabupaten dan kota di Sumut, persentase warga yang memberikan hak pilihnya sekitar 63 persen. Dengan demikian angka golput mencapai 37 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persentase terendah itu di Kabupaten Pakpak Bharat, sekitar 40 persen, sementara tertinggi mencapai 85 persen, seperti di Kota Binjai," ujar Eddy Syofian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka golput yang lebih tinggi disampaikan Lingkaran Survei Indonesia. Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia, Denny JA menyatakan, berdasarkan hasil penghitungan cepat atau quick count, persentase golput sekitar 48 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Angka golput lebih besar dibanding persentase perolehan 27,67 persen suara yang didapat pemenang Pilkada, pasangan Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho, berdasarkan hasil quick count," kata Denny JA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tingginya angka golput ini, Eddy Syofian menyatakan, sosialisasi sudah dilaksanakan dengan baik jauh-jauh hari. Mereka yang tidak memberikan hak suaranya, kemungkinan punya pertimbangan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Detik.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Golput Pilkada Nganjuk Capai 35 Persen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;TEMPO Interaktif, Jakarta:Penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Nganjuk yang berakhir dengan terpilihnya pasangan bupati dan wakil bupati Taufiqurahman-Abdul Wahid Badrus sebagai pemenang pemilihan, diwarnai dengan tingginya angka golput. Komisi Pemiliham Umum Daerah (KPUD) setempat menyatakan sebanyak 298.312 orang yang tercatat sebagai DPT (daftar pemilih tetap) tidak menggunakan hak suara mereka dalam Pilkada yang digelar 4 Maret 2008 lalu. &lt;p&gt;“Banyaknya pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya sangat tinggi dan membuat kami terkejut. Sebanyak 298.312 orang atau hampir 35 persen dari jumlah pemilih tetap,” kata M Bawono, Ketua KPUD Nganjuk saat mengumumkan hasil penghitungan suara, Minggu (9/3).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari data di KPUD, jumlah suara sah tercatat 527.980 lembar dan tidak sah 28.148 lembar. Padahal DPT (daftar pemilih tetap) sebanyak 849.191 jiwa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Terus terang kami sangat kecewa dengan banyaknya warga yang tidak menggunakan hak pilihnya. Padahal kami terus-menerus melakukan sosialisasi Pilkada hingga ke seluruh pelosok. Tapi inilah kenyataanya,” kata Bawono.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tingginya angka golput juga membuat Panitia Pengawas (Panwas) Pilkada Nganjuk bertanya-tanya. Panwas akan segera melakukan evaluasi mengenai hal ini sebagai bahan pertimbangan melaksanakan Pemilihan Gubernur Jawa Timur yang bakal digelar pada bulan Juli mendatang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kami belum tahu apa kendala yang menyebabkan tingkat kehadiran pemilih tidak bisa mencapai 100 persen. Pelaksanaan Pilkada ini akan bisa menjadi bahan evaluasi untuk melaksanakan Pemilihan Gubernur Jawa Timur bulan Juli mendatang,” kata Herman, salah seorang anggota Panwas Pilkada Nganjuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Herman, selama ini pihaknya sudah berusaha membantu Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) untuk mensosialisasikan hari H pencoblosan melalui jajaran&lt;br /&gt;Panwas di 20 kecamatan di Kabupaten Nganjuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Perlu evaluasi mendalam untuk mengetahui penyebab banyaknya rakyat tidak menggunakan hak suaranya. Ini merupakan PR kita semua sebagai bagian dari pendidikan politik rakyat,” kata Herman.DWIDJO U. MAKSUM&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span class="title"&gt;Golput Pilkada Sukabumi 25,57 %&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;SUKABUMI&lt;/strong&gt; - Jumlah pemilih yang tidak memberikan suaranya atau Golput pada pelaksanaan Pilkada Kota Sukabumi 8 Maret lalu, mencapai 25,57% atau sekira 50 ribu dari 205 362 pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari jumlah golput pada Pemilihan Presiden&lt;br /&gt;(Pilpres) 2004 silam yang hanya mencapai 21 % dari jumlah 192.000 pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pokja Sosisalisasi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Sukabumi, Ferdhiman PB mengatakan, sikap apatis masyarakat terhadap pemilu diperkirakan akan terus berlanjut hingga suksesi Pemilihan Gubernur&lt;br /&gt;(Pilgub) Jabar 13 April mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelaksanaan pemilu berulang-ulang yang harus dijalani membuat masyarakat menemui titik bosan. Dalam kondisi seperti ini, maka tidak menutup kemungkinan pada saat Pilgub nanti tingkat partisipasi masyarakat akan berkurang," ungkap Ferdhiman kepada wartawan, Selasa (11/3/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, tambahnya, faktor lainnya yakni keterbatasan anggaran sosialisasi pemilu. Meski demikian, kata Ferdhiman, jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pilkada Kota Sukabumi itu, jauh lebih baik jika dibandingkan dengan empat daerah lainnya yang telah menyelenggarakan pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Bekasi, Depok, Cirebon dan Tasikmalaya. Umumnya, tingkat partisipasi masyarakat terhadap pilkada di empat daerah itu, berada pada rata-rata 50%-70%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk menekan angka golput pada Pilgub nanti, adalah peningkatan validasi data pemilih. Sebab tingkat golput ini bukan tergantung pada kedatangan pemilih ke tempat pemungutan suara (TPS), namun selebihnya adalah akibat banyaknya pemilih yang saat pelaksanaan pemungutan suara tengah berada di luar daerah atau luar negeri menjadi TKI," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, hingga Selasa sore, penghitungan suara sementara KPUD, menunjukan pasangan Mokh Muslikh Abdussyukur-Mulyono (Muslim) masih berada pada puncak kemenangan dengan perolehan suara  sebanyak 73.609 suara atau 50,62 %. Sementara kandidat yang masih tetap berada di urutan dibawahnya adalah pasangan Yudi Widiana Adia-Iwan Kustiawan (Yudiwan) dengan perolehan suara mencapai 40.776 suara atau 28,04 % atau hanya terpaut dengan pasangan Muslim  sebanyak 32.833.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan Herman Gurnawijaya-Yanti Indri hanya mengnatongi 18.191 suara atau 12,51 %. Jumlah itu jauh lebih baik dari pasangan calon Dedi Safe'i-Itang Abdul Karim yang hanya meraih suara sebanyak 12.833 suara atau 8,82 %. Penghitungan suara sementara ini akan segera ditetapkan pada tangal 16 Maret mendatang di Gedung Juang 45, Kota Sukabumi. &lt;/div&gt;&lt;b&gt;(Toni Kamajaya/Sindo/kem)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" class="judul"&gt; Golput Pilkada Rata-rata 27,8 Persen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;JAKARTA, TRIBUN - Riset Lingkaran Survey Indonesia (LSI) terhadap pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) menunjukkan tingginya angka pemilih tidak menggunakan hak pilihnya suara (golput).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika dibuat rata-rata, tingkat golput selama Pilkada mencapai 27,9 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pada Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden Putaran I, dan Pemilu Presiden Putaran II," kata Direktur Eksekutif LSI Denny JA kepada Persda Network, Minggu (4/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset yang dipublikasikan Oktober bulan lalu ini menunjukkan tingginya angka pilkada terjadi setelah Pemilu 2004, yang digelar langsung. "Dan kemungkinan fenomena golput ini juga akan menjadi gejala umum Pemilu Indonesia di masa mendatang," kata Denny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso menilai tingginya angka golput disebabkan masyarakat telah jenuh dengan politik "kejenuhan politik" pada masyarakat karena sangat sering nya diadakan pemilu lokal maupun nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan peringatan dini atas nasib demokrasi di Indonesia dan kalau tidak diantisipasi bisa mengancam demokrasi yang sedang mencari bentuknya di Indonesia,"tegas Ketua Fraksi Golkar di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ini kemarin. Solusi atas itu, Priyo meminta semua pihak untuk duduk bersama membicarakan masalah ini. "Karena bagaimana pun partisipasi rakyat dalam menentukan nasib bangsa sangat diperlukan," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset LSI bukan survei yang diadakan pra pemilihan tapi dilakukan pada saat pemilihan. Responden diambil dari pemilih yang terdaftar dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap), tetapi tidak ikut memilih di hari pencoblosan. Riset diambil dari data pemilih yang menggunakan hak suara pada 176 provinsi, kabupaten/kota yang melaksanakan pilkada tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset menunjukkan golput tertinggi ada di Jawa, menyusul Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, lalu wilayah Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara memiliki golput cukup rendah. (Persda Network/aco)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Golput Sejumlah Pilkada Juni-Juli 2005:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Kota Surabaya, dari 2.013. 680 pemilih yang terdaftar, hanya 999.591 pemilih saja yang menggukan haknya (angka partisipasi pemilih hanya 49.64%).&lt;br /&gt;2. Medan, hanya 54.70% dari total 1.459.185 pemilih terdaftar yang menggunakan hak pilihnya.&lt;br /&gt;3. Kota Banjarmasin, sebanyak 52.38% dari total 466.187 pemilih terdaftar ikut memilih.&lt;br /&gt;4. Kota Jayapura, dari 171.611pemilih yang terdaftar, hanya 53.19% saja yang menggunakan hak pilihnya.&lt;br /&gt;5. Provinsi Kepulauan Riau, dari total 925.874 pemilih yang terdaftar, hanya sebanyak 54.66% pemilih ke TPS dan pakai hak suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Partisipasi Pemilih dalam Pilkada dan Pemilu :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;No. Item    Jumlah Pemilih&lt;br /&gt;1. Pilkada (Juni-Juli 2005)   73,1 persen&lt;br /&gt;2.  Pemilu Presiden Putaran II 76,7 persen&lt;br /&gt;3. Pemilu Presiden Putaran I 78,5 persen&lt;br /&gt;4.  Pemilu 2004   84,1 persen&lt;br /&gt;5. Pemilu 1999   93,3 persen&lt;br /&gt;6. Pemilu 1997   88,9 persen&lt;br /&gt;7.  Pemilu 1992 (Orba)  90,9 persen&lt;br /&gt;8. Pemilu 1987 (Orba)  91,3 persen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyebab Golput :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Latar belakang sosiologis tertentu, seperti agama, pendidikan, pekerjaan,&lt;br /&gt;ras dan sebagainya.&lt;br /&gt;2.Keputusan seseorang untuk ikut memilih atau tidak ditentukan oleh kedekatan dengan&lt;br /&gt;partai atau kandidat yang maju dalam pemilihan. Makin dekat seseorang dengan partai atau kandidat tertentu makin besar kemungkinan seseorang terlibat dalam pemilihan.&lt;br /&gt;3. Faktor ekonomi politik. Keputusan untuk memilih atau tidak dilandasi oleh pertimbangan rasional, seperti ketidakpercayaan dengan pemilihan yang bisa membawa perubahan lebih baik.&lt;br /&gt;4. Terganjal sistem pendaftaran (registrasi) pemilih.Untuk bisa memilih, umumnya calon pemilih harus terdaftar sebagai pemilih terlebih dahulu. Kemudahan dalam pendaftaran pemilih bisa mempengaruhi minat seseorang untuk terlibat dalam pemilihan. Sebaliknya, sistem pendaftaran yang rumit dan tidak teratur bisa mengurangi minat orang dalam pemilihan.&lt;br /&gt;5. Alasan teknis. Seseorang memutuskan tidak ikut memilih karena tidak ada waktu untuk memilih-seperti harus bekerja di hari pemilihan, sedang ada keperluan, harus ke luar kota di saat hari pemilihan dan sebagainya. Atau bisa juga karena malas pergi ke TPS.&lt;br /&gt;6. Alasan politis. Pemilih memutuskan tidak menggunakan haknya karena secara sadar memang memutuskan untuk tidak memilih.Pilkada dipandang tidak ada gunanya, tidak akan membawa perubahan, atau tidak adacalon kepala daerah yang disukai dan sebagainya. (Persda Network/aco)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber : Data LSI, Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-1403971009791103278?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/1403971009791103278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=1403971009791103278' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1403971009791103278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1403971009791103278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/golput-dalam-pilkada-meningkat.html' title='Golput dalam PILKADA Meningkat'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-6457518103586503720</id><published>2008-04-07T13:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T13:05:13.505-07:00</updated><title type='text'>Sejarah Perjuangan Mahasiswa Indonesia 1908-1999</title><content type='html'>1. Gerakan Mahasiswa 1908&lt;br /&gt;Lahirnya generasi pertama lapisan pemuda berpendidikan modern, sebenarnya bukanlah produk sosial yang murni berasal dari rakyat Indonesia. Kehadiran mereka merupakan produk situasi atau didorong oleh perubahan sikap politik pemerintahan kolonial Belanda terhadap negeri ini. Melalui kebijakan “Politik Etis” yang diciptakan Belanda setelah menjajah lebih dari tiga ratus tahun di atas bumi persada, kaum pribumi khususnya lapisan pemuda, mendapatkan kesempatan untuk masuk ke lembaga-lembaga pendidikan yang telah didirikan oleh Belanda. Walaupun dengan batasan lapisan masyarakat, lembaga pendidikan, dan keterbatasan fasilitas pendidikan yang ada, sehingga banyak pemuda pribumi yang berhasil lulus baik, atas bantuan pemerintah Belanda, dikirim ke luar negeri (kebanyakan ke negeri Belanda) untuk melanjutkan studi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa yang penuh tantangan dihadapkan dengan suasana kolonialisme, realitas politik berupa berlangsungnya proses pembodohan dan penindasan secara struktural yang dilakukan Belanda, berkat kemajuan pendidikan yang berhasil mereka raih berimplikasi pada peningkatan tingkat kesadaran politik,para pelajar dan mahasiswa merasakan sebagai golongan yang paling beruntung dalam pendidikan sehingga muncul tanggung jawab untuk mengemansipasi bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya.&lt;br /&gt;Pada konggres yang pertama di Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 5 tahun permulaan BU sebagai perkumpulan, tempat keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan lk.10.000 anggota.&lt;br /&gt;Disamping itu, pada tahun yang sama dengan berdirinya BU oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, dibentuk pula Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia,tahun 1925.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain,seperti: Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam,dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxis, dll menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju “kemajuan yang selaras” dan /atau terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik.&lt;br /&gt;Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Gerakan Mahasiswa 1928&lt;br /&gt;Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.&lt;br /&gt;Suatu gejala yang tampak pada gerakan mahasiswa dalam pergolakan politik di masa kolonial hingga menjelang era kemerdekaan adalah maraknya pertumbuhan kelompok-kelompok studi sebagai wadah artikulatif di kalangan pelajar dan mahasiswa. Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya pilihan pengorganisasian diri melalui kelompok-kelompok studi tersebut, dipengaruhi kondisi tertentu dengan beberapa pertimbangan rasional yang melatari suasana politis saat itu. Pertama, banyak pemuda yang merasa tidak dapat menyesuaikan diri, bahkan tidak sepaham dan kecewa dengan organisasi-organisasi politik yang ada. Sebagian besar pemuda saat itu, misalnya menolak ideologi Komunis (PKI) maka mereka mencoba bergabung dengan kekuatan organisasi lain seperti Sarekat Islam (SI) dan Boedi Oetomo. Namun, karena kecewa tidak dapat melakukan perubahan dari dalam dan melalui program kelompok-kelompok pergerakan dan organisasi politik tersebut, maka mereka kemudian melakukan pencarian model gerakan baru yang lebih representatif.&lt;br /&gt;Kedua, kelompok studi dianggap sebagai media alternatif yang paling memungkinkan bagi kaum terpelajar dan mahasiswa untuk mengkonsolidasikan potensi kekuatan mereka secara lebih bebas pada masa itu, dimana kekuasaan kolonialisme sudah mulai represif terhadap pembentukan organisasi-organisasi massa maupun politik.&lt;br /&gt;Ketiga, karena melalui kelompok studi pergaulan di antara para mahasiswa tidak dibatasi sekat-sekat kedaerahan, kesukuan,dan keagamaan yang mungkin memperlemah perjuangan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, disamping organisasi politik memang terdapat beberapa wadah perjuangan pemuda yang bersifat keagamaan, kedaerahan, dan kesukuan yang tumbuh subur, seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Celebes, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia: generasi 1928. Maka, tantangan zaman yang dihadapi oleh generasi ini adalah menggalang kesatuan pemuda, yang secara tegas dijawab dengan tercetusnya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober1928, dimotori oleh PPPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gerakan Mahasiswa 1945&lt;br /&gt;Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk secara terbuka mentransformasikan eksistensi wadah mereka menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan keluarnya Belanda dari tanah air, perjuangan kalangan pelajar dan mahasiswa semakin jelas arahnya pada upaya mempersiapkan lahirnya negara Indonesia di masa pendudukan Jepang. Namun demikian, masih ada perbedaan strategi dalam menghadapi penjajah, yaitu antara kelompok radikal yang anti Jepang dan memilih perjuangan bawah tanah di satu pihak, dan kelompok yang memilih jalur diplomasi namun menunggu peluang tindakan antisipasi politik di pihak lain. Meskipun berbeda kedua strategi tersebut, pada prinsipnya bertujuan sama : Indonesia Merdeka !&lt;br /&gt;Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa.&lt;br /&gt;Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok “bawah tanah” yang antara lain dipimpin oleh Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok itu dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pandangan antar generasi tentang langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproklamasikan kemerdekaan. Saat itu Jepang telah menyerah kepada sekutu, dan pemuda (yang cenderung militan dan non kompromis) menuntut peluang tersebut segera dimanfaatkan, tetapi generasi tua seperti Soekarno dan Hatta cenderung lebih memperhitungkan situasi secara realistis. Tetapi akhirnya kedua tokoh proklamator itu mengabulkan keinginan pemuda, dan memproklamasikan negara Indonesia yang merdeka tanggal 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;Dengan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan saat itu, maka sekaligus menandai lahirnya generasi 1945 dalam sejarah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gerakan Mahasiswa 1966&lt;br /&gt;Suasana Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan hingga Demokrasi Parlementer,lebih diwarnai perjuangan partai-partai politik yang saling bertarung berebut kekuasaan. Pada saat yang sama mahasiswa sendiri lebih melihat diri mereka sendiri sebagai The Future Man ; artinya, sebagai calon elit yang akan mengisi pos-pos birokrasi pemerintahan yang akan dibangun. Dalam periode ini, pola kegiatan mahasiswa kebanyakan diisi dengan kegiatan sosial seperti piknik, olahraga, pers, dan klub belajar. Hal ini juga sebagian karena dipengaruhi oleh munculnya orientasi pemikiran untuk kembali ke kampus dan slogan kebebasan akademik yang membius semangat mahasiswa saat itu. Hanya sedikit perhatian diantara mereka untuk memikirkan masalah-masalah politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, di satu sisi masa itu juga ditandai dengan mulai aktifnya organisasi mahasiswa yang tumbuh berafiliasi partai politik dan aktivis mahasiswa yang memiliki hubungan dekat dengan elit politik nasional yang berperan dalam sistem politik.&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada pula perkembangan menarik yang terjadi dengan tumbuhnya aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, diantaranya Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.&lt;br /&gt;Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan lebih bersifat underbouw partai-partai politik. Misalnya, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Diantara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI mendapatkan suasana menggembirakan setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil Pemilu 1955. Sebagai wujud kegembiraan namun sekaligus kepongahan, CGMI secara berani menjalankan politik konfrontasi dengan organisasi mahasiswa lainnya, bahkan lebih jauh berusaha mempengaruhi PPMI, kenyataan ini menyebabkan perseteruan sengit antara CGMI dengan HMI, terutama dipicu karena banyaknya jabatan kepengurusan dalam PPMI yang direbut dan diduduki oleh CGMI dan juga GMNI-khususnya setelah Konggres V tahun 1961. Persaingan ini mencapai puncak nantinya tatkala terjadi G30S/PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), seiring dengan upaya pemerintahan Soekarno untuk mengubur partai-partai, maka kebanyakan organisasi mahasiswa pun membebaskan diri dari afiliasi partai dan tampil sebagai aktor kekuatan independen, sebagai kekuatan moral maupun politik yang nyata.&lt;br /&gt;Tragedi nasional pemberontakan G30S/PKI dan kepemimpinan nasional yang mulai otoriter akhirnya menyebabkan Demokrasi Terpimpin mengalami keruntuhan.&lt;br /&gt;Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.&lt;br /&gt;Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gerakan Mahasiswa 1974&lt;br /&gt;Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer yang berposisi sebagai pendukung kemapanan.&lt;br /&gt;Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru.namun meskipun demikian pada umumnya kepercayaan terhadap rezim yang berkuasa tetap ada.&lt;br /&gt;Tetapi, kesabaran mahasiswa mulai menuju titik batasnya setelah penantian akan terkabulnya cita-citanya perubahan yang dijanjikan tidak mendapatkan respon yang sewajarnya. Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah, selanjutnya apa yang disebut gerakan “Mahasiswa Menggugat”yang dimotori Arif Budiman,dkk yang progaram utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusul aksi-aksi lain dalam skala yang lebih luas, pemuda dan mahasiswa kemudian mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK). Terbentuknya KAK ini dapat dilihat merupakan reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap tim-tim khusus yang disponsori pemerintah, mulai dari Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), Task Force UI sampai Komisi Empat.&lt;br /&gt;Berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD.&lt;br /&gt;Akibat dari permainan rekayasa dan kebijakan kooptasi tersebut, muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung N, Asmara Nababan,dkk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 1971, mahasiswa juga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan,misalnya terhadap proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.&lt;br /&gt;Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya peristiwa Malari tahun 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta mngajukan isu ”ganyang korupsi” sebagai salah satu tuntutan “Tritura Baru” disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya.&lt;br /&gt;Terlepas dari semua distorsi mengenai kisah gerakan mahasiswa 1974,antara lain: tidak adanya perubahan monumental yang ditinggalkan, gerakan mahasiswa yang ditunggangi, konflik dan konspirasi elit di pusat kekuasaan versi Jenderal Sumitro versus Ali Moertopo, dll bagaimana pun harus diakui bahwa perjuangan mahasiswa 1974 telah menjadi sebuah episode yang bersejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Gerakan Mahasiswa 1978&lt;br /&gt;Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes tetap ada namun aksi-aksi itu pada umumnya tidak lagi gaung yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif.Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai burning isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakekat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat “lokal”.&lt;br /&gt;Awalnya, pemerintah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa, maka pada tanggal 24 Juli 1977 dibentuklah Tim Dialog Pemerintah yang akan “berkampanye”di berbagai perguruan tinggi. Namun demikian , upaya tim ini ditolak oleh mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa bukan tidak memahami ataupun menyadari berbagai risiko buruk yang bakal dialami akibat gerakan protes mereka. Justru karena itulah, untuk menjaga agar dampak gerakan tidak mengulangi kembali malapetaka 1974, mahasiswa mempertahankan gerakan aksi mereka sebagai gerakan moral semata. Artinya, bahwa gerakan mereka lebih menonjolkan perannya sebagai kekuatan moral dan kontrol kritis terhadap berbagai penyimpangan kekuasaan, dan bukan sebagai aksi yang berorientasi politik praktis, serta menghindarkan pengaruh vested interest kelompok politik tertentu yang ingin memperalat atau “mengendarai” gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;Pada titik ini ada yang menarik untuk dicatat yaitu terjadinya pendudukan militer atas kampus-kampus itu; disamping penyebabnya adalah karena mahasiswa dianggap telah melakukan “pembangkangan politik”, penyebab lain sebenarnya adalah karena gerakan mahasiswa 1978 lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan aksi diwilayah kampus.&lt;br /&gt;Jadi, karena gerakan mahasiswa tidak terpancing keluar kampus untuk mennghindari seperti tahun 1974, maka akhirnya mereka diserbu militer,malahan dengan cara yang brutal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir cerita, Soeharto terpilih untuk ketiga kalinya dan tuntutan mahasiswa pun tidak membuahkan hasil. Meski demikian, perjuangan gerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka untuk menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Gerakan Mahasiswa di Era NKK/BKK&lt;br /&gt;Setelah gerakan mahasiswa 1978, praktis tidak ada gerakan besar yang dilakukan mahasiswa selama beberapa tahun akibat diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa.&lt;br /&gt;Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978 sesaat setelah Dooed Yusuf dilantik tahun 1979. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik,dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim. Menyusul pemberlakuan konsep NKK,pemerintah dalam hal ini Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa, sebagai gantinya pemerintah membentuk struktur keorganisasian baru yang disebut BKK. Berdasarkan SK menteri P&amp;amp;K No.037/U/1979 kebijakan ini membahas tentang Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan dimantapkan dengan penjelasan teknis melalui Instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi tahun 1978 tentang pokok-pokok pelaksanaan penataan kembali lembaga kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan BKK itu secara implisif sebenarnya melarang dihidupkannya kembali Dewan Mahasiswa, dan hanya mengijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas (Senat Mahasiswa Fakultas-SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF). Namun hal yang terpenting dari SK ini terutama pemberian wewenang kekuasaan kepada rektor dan pembantu rektor untuk menentukan kegiatan mahasiswa, yang menurutnya sebagai wujud tanggung jawab pembentukan,pengarahan,dan pengembangan lembaga kemahasiswaan.&lt;br /&gt;Dengan konsep NKK/BKK ini, maka peranan yang dimainkan organisasi intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan transaksi komunikasi politik menjadi lumpuh. Ditambah dengan munculnya UU No.8/1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan maka politik praktis semakin tidak diminati oleh mahasiswa, karena sebagian Ormas bahkan menjadi alat pemerintah atau golongan politik tertentu. Kondisi ini menimbulkan generasi kampus yang apatis,sementara posisi rezim semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai alternatif terhadap suasana birokratis dan apolitis wadah intra kampus, di awal-awal tahun 80-an muncul kelompok-kelompok studi yang dianggap mungkin tidak tersentuh kekuasaan refresif penguasa. Kenyataannya, kelompok studi lebih berfungsi sebagai information actions dengan tujuan the distribution of critical information bagi mahasiswa. Dalam perkembangannya eksistensi kelompok ini mulai digeser oleh kehadiran wadah-wadah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tumbuh subur pula sebagai alternatif gerakan mahasiswa.&lt;br /&gt;Perbedaan kedua bentuk wadah ini adalah : jika kelompok studi merupakan bentuk pelarian dari kepengapan kampus dengan ciri gerakannya yang bersifat teoritis, maka LSM menjadi tempat pelarian mahasiswa yang memilih jalur praktis.&lt;br /&gt;Dalam perkembangan berikutnya bermunculan pula berbagai wadah-wadah lain berupa komite-komite aksi untuk merawat kesadaran kritis mahasiswa.&lt;br /&gt;Beberapa kasus “lokal” yang disuarakan LSM dan komite aksi mahasiswa antara lain: kasus tanah waduk Kedung Ombo, Kacapiring, korupsi di Bapindo, penghapusan perjudian melalui Porkas/TSSB/SDSB, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbul beberapa pertanyaan mengapa gerakan mahasiswa umumnya hanya mengusung agenda isu lokal dan cenderung marjinal ? mungkin jawabannya adalah :&lt;br /&gt;1. Ketidakberanian untuk menyentuh masalah yang dinilai terlalu sensitif,dan bebannya berat secara politis.&lt;br /&gt;2. Ketidaksanggupan menangkap dan mengungkapkan masalah-masalah fundamental yang lebih signifikan terutama yang bersifat politik nasional sebagai burning issue.&lt;br /&gt;3. Strategi mahasiswa dengan mempertimbangkan kondisi struktural sistem politik Orde Baru yang terlalu mudah bertindak represif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban-jawaban tersebut sangat terbuka untuk diperdebatkan, tetapi ada efek lain yang tampaknya harus diperhitungkan,bahwa justru dengan kecenderungan mengangkat isu-isu lokal dan bergerak di wilayah pinggiran itu, disadari atau tidak mahasiswa telah melakukan revitalisasi orientasi model pendekatan dengan membangkitkan kesadaran dan kepercayaan diri rakyat agar mempertahankan dan memperjuangkan hak-hak individu dan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Gerakan mahasiswa 1990&lt;br /&gt;Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).&lt;br /&gt;Dikalangan mahasiswa secara kelembagaan dan personal terjadi pro kontra, menamggapi SK tersebut. Oleh mereka yang menerima, diakui konsep ini memiliki sejumlah kelemahan namun dipercaya dapat menjadi basis konsolidasi kekuatan gerakan mahasiswa. Argumen mahasiswa yang menolak mengatakan, bahwa konsep SMPT tidak lain hanya semacam hiden agenda untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong kemungkinan aliansi mahasiswa dengan kekuatan di luar kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan kemudian, banyak timbul kekecewaan di berbagai perguruan tinggi karena kegagalan konsep ini dalam eksperimentasi demokrasi. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh korporatisasi negara termasuk birokrasi kampus. Sehingga, tidaklah mengherankan bila akhirnya berdiri Dewan Mahasiswa di UGM tahun 1994 yang kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air sebagai landasan bagi pendirian model organisasi kemahasiswaan alternatif yang independen.&lt;br /&gt;Dengan dihidupkannya model-model kelembagaan yang lebih independen, meski tidak persis serupa dengan Dewan Mahasiswa yang pernah berjaya sebelumnya upaya perjuangan mahasiswa untuk membangun kemandirian melalui SMPT, menjadi awal kebangkitan kembali mahasiswa ditahun 1990-an.&lt;br /&gt;9. Gerakan Mahasiswa 1998&lt;br /&gt;Lahirnya gerakan mahasiswa 1998 dengan segala keberhasilannya meruntuhkan kekuasaan rezim orde baru, bagaimanapun merupakan akibat dari akumulasi ketidakpuasan dan kekecewaan politik yang telah bergejolak selama puluhan tahun dan akhirnya “meledak”.&lt;br /&gt;Secara obyektif situasi pada saat itu, sangat kondusif bagi gerakan mahasiswa berperan sebagai agen perubahan. Krisis legitimasi politik yang sudah diambang batas, justru terjadi bersamaan dengan datangnya badai krisis moneter di berbagai sektor. Di sisi lain secara subyektif, gerakan mahasiswa 1998 telah belajar banyak dari gerakan 1966 dengan mengubah pola gerakan dari kekuatan ekslusif ke inklusif dan menjadi bagian dari kekuatan rakyat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran dari tuntutan “Reformasi” gerakan mahasiswa dan kelompok-kelompok lain yang beroposisi terhadap rezim Orde Baru, antara lain adalah perubahan kepemimpinan nasional. Soeharto harus diruntuhkan dari kekuasaan, tidak akan ada reformasi selama Soeharto masih berkuasa. Namun demikian, kenyataan menunjukkan suara-suara kritis yang menuntut perubahan, tidak mendapatkan jawaban sebagaimana yang diharapkan dari rezim yang berkuasa, terlebih oleh Golongan Karya (Golkar) yang dengan enteng mencalonkan kembali Soeharto. Menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR 1998, dari kalangan tokoh-tokoh kritis mengajukan calon alternatif Presiden maupun Wakil Presiden, antara lain: Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Emil Salim.&lt;br /&gt;Kenyataan menunjukkan, calon-calon tandingan versi masyarakat tidak mendapatkan tanggapan dari kekuatan politik di MPR, Soeharto dipilih kembali sebagai Presiden dan B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden. Aksi-aksi mahasiswa yang marak mengajukan protes dan keprihatinan, seolah-olah dianggap angin lalu, sedangkan hasil-hasil dialog dengan berbagai fraksi menuntut agenda Reformasi hanya “ditampung” dalam artian kasar = ditolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kontroversi kemudian timbul dimasyarakat, berkenaan dengan pengalihan kekuasaan ini. Pertama, pandangan yang melihat hal itu sebagai proses inkonstitusional dan sebaliknya pandangan kedua, yang menganggapnya sudah konstitusional. Sikap ABRI terhadap proses peralihan ini secara formal adalah mendukung, lalu bagaiman dengan mahasiswa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut turunnya Soeharto, sejenak mahasiswa benar-benar diliputi kegembiraan. Perjuangan mereka satu langkah telah berhasil,tetapi kemudian timbul keretakan di antara kelompok-kelompok mahasiswa mengenai sikap mahasiswa terhadap peralihan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie. Berhadapan dengan peristiwa peralihan ini mahasiswa tidak siap, mereka hanya dipersatukan oleh isu utama perlunya Soeharto dipaksa untuk mengundurkan diri. Soal yang terjadi kemudian, agaknya jauh dari antisipasi mahasiswa dan pro reformasi.&lt;br /&gt;Tetapi bagaimanapun, mahasiswa 1998 melalui perjuangannya telah memberikan sesuatu hal yang monumental bagi bangsa Indonesia untuk menciptakan tatanan kenegaraan yang lebih baik di masa depan.&lt;br /&gt;Satu hal yang harus diingat, Reformasi Total merupakan sebuah proses yang tidak sekali jadi, tetapi membutuhkan waktu dan political will yang sungguh-sungguh dari pemegang kekuasaan. Karena itu, kontrol kritis dan tekanan politik dari mahasiswa harus tetap ada di masa sekarang dan akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adi Suryadi Culla , Patah Tumbuh Hilang Berganti : Sketsa Pergolakan Mahasiswa dalam Politik dan Sejarah Indonesia ( 1908-1998).&lt;br /&gt;A.K. Pringgodigdo SH , Sejarah Pergolakan Rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Sekretariat Negara Republik Indonesia , GERAKAN 30 SEPTEMBER Pemberontakan Partai Komunis Indonesia : Latar belakang, aksi, dan penumpasannya.&lt;br /&gt;Manai Sophiaan , Kehormatan bagi yang berhak : Bung Karno tidak terlibat G 30 S/PKI.&lt;br /&gt;Todiruan Dydo , Pergolakan Politik Tentara : sebelum dan sesudah G 30 S/PKI.&lt;br /&gt;Drs. M.Rusli Karim , Perjalanan Partai Politik di Indonesia : sebuah potret pasang surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS : Tulisan ini materi Kaderisasi Tahap 1, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-6457518103586503720?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/6457518103586503720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=6457518103586503720' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/6457518103586503720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/6457518103586503720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/sejarah-perjuangan-mahasiswa-indonesia.html' title='Sejarah Perjuangan Mahasiswa Indonesia 1908-1999'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-8085818749852561960</id><published>2008-04-07T09:37:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T09:48:54.849-07:00</updated><title type='text'>Marhaenisme</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;AKU baru berumur 20 tahun ketika         suatu ilham politik jang kuat menerangi pikiranku. Mula-mula ia hanja         berupa kuntjup dari suatu pemikiran jang mengorek-ngorek otakku, akan         tetapi tidak lama kemudian ia mendjadi landasan tempat pergerakan kami         berdiri. Dikepulauan kami terdapat pekerdja-pekerdja jang bahkan lebih         miskin daripada tikus-geredja dan dalam segi keuangan terlalu         menjendihkan untuk bisa bangkit dibidang sosial, politik dan ekonomi.         Sungguhpun demikian masing-masing mendjadi madjikan sendiri. Mereka         tidak terikat kepada siapapun. Dia mendjadi kusir gerobak kudanja, dia         mendjadi pemilik dari kuda dan gerobak itu dan dia tidak mempekerdjakan         buruh lain. Dan terdapatlah nelajan-nelajan jang bekerdja sendiri dengan         alat-alat—seperti tongkat-kail, kailnja dan perahu— kepunjaan         sendiri. Dan begitupun para petani jang mendjadi pemilik tunggal dari         sawahnja dan pemakai tunggal dari hasilnja. Orang-orang sematjam ini         meliputi bagian terbanjak dari rakjat kami. Semua mendjadi pemilik dari         alat produksi mereka sendiri, djadi mereka bukanlah rakjat proletar.         Mereka punja sifat chas tersendiri. Mereka tidak termasuk dalam         salahsatu bentuk penggolongan. Kalau begitu, apakah mereka ini         sesungguhnja ? Itulah jang mendjadi renunganku berhari-hari,         bermalam-malam dan berbulan-bulan. Apakah sesungguhnja saudaraku bangsa         Indonesia itu ? Apakah namanja para pekerdja jang demikian, jang oleh         ahli ekonomi disebut dengan istilah ,,Penderita Minimum" ?- Disuatu         pagi jang indah aku bangun dengan keinginan untuk tidak mengikuti         lculiah—ini bulcan tidak sering terdjadi. Otakku sudah terlalu penuh         dengan soal-soal politik, sehingga tidak mungkin memusatkan perhatian         pada studi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Sementara mendajung sepeda tanpa         tudjuan—sambil berpikir—alcu sampai dibagian selatan kota Bandung,         suatu daerah pertanian jang padat dimana orang dapat menjaksikan para         petani mengerdjakar. sawahnja jang ketjil, jang masing-masing luasnja         kurang dari sepertiga hektar. Oleh karena boberapa hal perhatianku         tertudju pada seorang petani jang sedang mentjangkul tanah mrliknja. Dia         seorang diri. Pakaiannja sudah lusuh. Gambaran jang chas ini kupandang         sebagai perlambang daripada rakjatku. Aku berdiri disana sedjenak         memperhatikannja dengan diam. Karena orang Indonesia adalah bangsa jang         ramah, maka aku mendekatinja. Aku bertanja dalam bahasa Sunda, ,,Siapa         jang punja semua jang engkau kerdja-kan sekarang ini ?"&lt;br /&gt;          Dia berkata kepadaku, ,,Saja, djuragan."&lt;br /&gt;          Aku bertanja lagi, ,,Apakah engkau memiliki tanah ini         bersama-sama dengan orang lain ?"&lt;br /&gt;          ,,0, tidak, gan. Saja sendiri jang punja."&lt;br /&gt;          ,,Tanah ini kaubeli ?"&lt;br /&gt;          ,,Tidak. Warisan bapak kepada anak turun-temurun." &lt;br /&gt;          Ketika ia terus menggali, akupun mulai menggali.........aku         menggali setjara mental. Pikiranku mulai bekerdja. Aku memikirkan         teoriku. Dan semakin keras aku berpikir, tanjaku semakin bertubi-tubi         pula. ,,Bagairnana dengan sekopmu ? Sekop ini ketjil, tapi apa-ka'il         kepunjaanmu djuga ?"&lt;br /&gt;           ,,Ja, gan."&lt;br /&gt;           ,,Dan  tjangkul ?"&lt;br /&gt;           ,,Ja, gan."&lt;br /&gt;           ,,Badjak ?"&lt;br /&gt;           ,,Saja punja, gan."&lt;br /&gt;           ,,Untuk siapa hasil jang kaukerdjakan ?"&lt;br /&gt;           ,,Untuk saja, gan."&lt;br /&gt;           ,,Apakah tjukup untuk kebutuhanmu ?"&lt;br /&gt;           la mengangkat bahu sebagai membela diri. ,,Bagaimana         sawah jang begini ketjil bisa tjukup untuk seorang isteri dan empat         orang anak ?"&lt;br /&gt;           ,,Apakah ada jang didjual dari hasilmu ?"         tanjaku.&lt;br /&gt;           ,,Hasilnja sekedar tjukup untuk makan kami. Tidak ada         lebihnja untuk didjual."&lt;br /&gt;           ,,Kau mempekerdjakan orang lain ?"&lt;br /&gt;           ,,Tidak, djuragan. Saja tidak dapat         membajarnja."&lt;br /&gt;           ,,Apakah engkau pernah memburuh ?"&lt;br /&gt;           ,,Tidak, gan. Saja harus membanting-tulang, akan         tetapi djerih-pajah saja semua untuk saja."&lt;br /&gt;       Aku menundjuk kesebuah pondok ketjil, ,,Siapa jang punja rumah itu         ?",,Itu gubuk saja, gan. Hanja gubuk ketjil sadja, tapi kepunjaan         saja sendiri.",,Djadi kalau begitu," kataku sambil ~nenjaring         pikiranku sendiri ketika kami berbitjara, ,,Semua ini engkau punja         ?",,Ja, gan."Kemudian aku menanjakan nama petani muda itu. Ia         menjebut namanja. ,,Marhaen." Marhaen adalah nama jang blasa         seperti Smith dan Jones. Disaat itu sinar ilham menggenangi otakku. Aku         akan memakai nama itu untuk rnenamai semua orang Indonesia bernasib         malang seperti itu ! Semendjak itu kunamakan rakjatku rakjat Marhaen.         Selandjutnja dihari itu aku mendajung sepeda berkeliling mengolah         pengertianku jang baru. Aku memperlantjarnja. Aku mempersiapkan         kata-kataku dengan hati-hati. Dan malamnja aku memberikan indoktrinasi         mengenai hal itu kepada kumpulan pemudaku.,,Petani-petani kita         mengusahakan bidang tanah jang sangat ketjil sekali. Mereka adalah         korban dari sistim feodal, dimana pada mulanja petani pertama diperas         oleh bangsawan jang pertama dan seterusnja sampai keanak-tjutjunja         selama berabad-abad. Rakjat jang bukan petanipun mendjadi korban         daripada imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek-mojangnja telah         dipaksa untuk hanja bergerak dibidang usaha jang ketjil sekedar bisa         memperpandjang hidupnja. Rakjat jang mendjadi korban ini, jang rneliputi         hampir seluruh pen     duduk Indonesia, adalah         Marhaen."    Aku menundjuk seorang tukang gerobak,         ,,Engkau.......    engkau jang disana. Apakah engkau         bekerdja dipabrik untuk orang lain ?",,Tidak," katanja.,,Kalau         begitu engkau adalah Marhaen." Aku menggerakkan tangan            kearah seorang tukang sate. ,,Engkau......    engkau         tidak punja pembantu, tidak punja madjikan engkau djuga seorang         Marhaen. Seorang Marhaen adalah orang jang mempunjai alat-alat jang         sedikit, orang ketjil dengan milik ketjil, dengan alat-alat ketjil,         sekedar tjukup untuk dirinja sendiri. Bangsa kita jang puluhan djuta         djiwa, jang sudah dimelaratkan, bekerdja bukan untuk orang lain dan         tidak ada orang bekerdja untuk dia. Tidak ada penghisapan tenaga         seseorang oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam         praktek." Perkataan ,,Marhaenisme" adaiah lambang dari         penemuan kembali kepribadian nasional kami. Begitupun nama tanah-air         kami harus mendjadi lambang. Perkataan ,,Indonesia" berasal dari         seorang ahli purbakala bangsa Djerman bernama Jordan, jang beladjar         dinegeri Belanda. Studi chususnja mengenai Rantaian Kepulauan kami.         Karena kepulauan ini setjara geografis berdekatan dengan India, ia         namakanlah ,,Kepulauan dari India". Nesos adalah bahasa Junani         untuk perkataan pulau-pulau, sehingga mendjadi Indusnesos jang achirnja         mendjadi Indonesia. Ketika kami merasakan perlunja untuk menggabungkan         pulau-pulau kami mendjadi satu kesatuan jang besar, kami berpegang teguh         pada nama ini dan mengisinja dengan pengertian-pengertian politik hingga         iapun mendjadi pembirnbing dari kepribadian nasional. Ini terdjadi         ditahun 1922-1923.Dalam tahun-tahun inilah, ketika kami sebagai bangsa         jang dihinakan diperlakukan seperti sampah diatas bumi oleh orang jang         menaklukkan kami. Karni tidak dibolehkan apa-apa. Ditindas dibawah tumit         pada setiap kali, bahkan kami dilarang mengutjapkan perkataan         ,,lndonesia". Telah terdjadi sekali ditengah berapi-apinja         pidatoku, kata ,,lndonesia" melompat dari mulutku.         ,,Stop........stop........."perintah polisi. Mereka meniup         peluitnja. Mereka memukulkan tongkatnja. ,,Dilarang samasekali         mengutjapkan perkataan itu ...........hentikan pertemuan              " Dan pertemuan itu dengan segera dihentikan. Di Surabaja aku tak         ubah seperti seekor burung jang mentjari-tjari tempat untuk bersarang.         Akan tetapi di Bandung aku sudah mendjadi dewasa. Bentuk fisikku         berkembang dengan sewasjarnja. Bintang matinee Amerika jang mendjadi         idaman didjaman itu adalah Norman Kerry dan, supaja kelihatan lebih tua         dan lebih ganteng, aku memelihara kumis seperti Kerry. Tapi sajang,         kumisku tidak melengkung keatas pada udjung-udjungnja seperti knmis         bintang itu. Dan isteriku menjatakan, bahwa Charlie Chaplinlah jang         berhasil kutiru. Achiroja usahaku satu-satunja untuk meniru seseorang         berachir dengan kegagalan jang menjedihkan dan semua pikiran itu         kemudian kulepaskan segera dari ingatan. Ditahun 1922 aku untuk         pertamakali mendapat kesukaran. Ketilka itu diadakan rapat besar disuatu         lapangan terbuka dikota Bandung. Seluruh lapangan menghitam oleh         manusia. Ini adalah rapat Radicale Concentratie, suatu rapat raksasa         jang diorganisir oleh seluruh organisasi kebangsaan sehingga wakil-wakil         dari setiap partai jang ada dapat berkumpul bersama untuk satu tudjuan,         jaitu memprotes berbagai persoalan sekaligus. Setiap pemimpin berpidato.         Dan aku, aku baru seorang pemuda. Hanja mendengarkan. Akan tetapi         tiiba-tiba terasa olehku suatu dorongan jang keras untuk mengutjapkan         sesuatu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Mereka semua         membitjarakan omongkosong. Seperti biasa mereka meminta-minta. Mereka         tidak menuntut.Naiklah tangan jang berapi-api dari Sukarno, mertjusuar         dari Perkumpulan Pemuda, untuk minta izin ketua agar diberi kesempatan         berpidato dihadapan rapat.,,Saja ingin berbitjara," aku         berteriak.,,Silakan," ketua berteriak kembali.Disana ada P.I.D.,         Polisi Rahasia Belanda, jang bersebar disegala pendjuru Tepat dimukaku         berdiri seorang polisi bermuka merah mengantjam dan berbadan besar. Ini         adalah alat jang berkuasa  jaitu kulitputih. Hanja dia sendiri jang         dapat menjetopku. Dia seorang dirinja, dapat membubarkan rapat. Dia         seorang dirinja, d&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;engan kekuasaa&lt;/span&gt;n jang ada         padanja dapat mentjerai-beraikan pertemuan kami dan mendjebloskanku         kedalam tahanan. Akan tetapi aku masih muda, tidak mau peduli dan penuh         semangat. Djadi naiklah aku kemimbar dan mulai berteriak, ,,Mengapa         sebuah gunung seperti gunung Kelud meledak ? Ia meledak oleh karena         lobang kepundannja tersumbat Ia meledak oleh karena tidak ada djalan         bagi kekuatan-kekuatan jang terpendam untuk membebaskan dirinja.         Kekuatan-kekuatan jang terpendam itu bertumpuk sedikit demi sedikit         dan...........DORRR.    Keseluruhan itu         meletus.,,Kedjadian ini tidak ada bedanja dengan Gerakan Kebangsaan kita         Kalau Belanda tetap menutup mulut kita dan kita tidak diperbolehkan         untuk mentjari djalan keluar bagi perasaan-perasaan kita jang sudah         penuh, maka saudara-saudara, njonja-njonja dan tuan-tuan, suatu saat         akan terdjadi pula ledakan dengan kita..Dan manakala perasaan kita         meletus, Den Haag akan terbang keudara. Dengan ini saja menantang         Pemerintah Kolanial jang membendung perasaan kita.&lt;br /&gt;       Dari sudut mataku aku melihat Komisaris Polisi itu menudju         kedepan untuk mentjegahku terus berbitjara, akan tetapi aku begitu         bersemangat dan menggeledek terus.,,Apa gunanja kita puluhan ribu         banjaknja berkumpul disini djikalau jang kita kerdjakan hanja         menghasilkan petisi ? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada         'Pemerintah' untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah         sekolah untuk kita ? Bukankah itu suatu Politik Berlutut ? Bukankah itu         suatu politik memohon dengan mendatangi Jang Dipertuan Gubernur Djendral         Hindia Belanda, jang dengan rnemakai dasi hitam menerima delegasi jang         membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan         menjerahkan kepada pertimbangannja suatu petisi ? Dan merendah diri         memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri....memohon, merendah diri         memohon.........Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh         pemimpin-pemimpin kita.,,Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi         penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan tetapi gerakan         kita adalah gerakan jang meminta-minta. Tak satupun jang pernah         diberikannja karena kasihan. Marilah kita sekarang mendjalankan politik         pertjaja pada diri sendiri dengan tidak mengemis-ngemis. Hajo kita         berhenti mergemis. Sebalikn.ja, hajo kita berteriak, ,,Tuan Imperialis,         inilah jang kami TUNTUT !"Kemudian, polisi-polisi jang mahakuasa         dan mahakuat ini, jang punja kekuasaan untuk menghentikan rapat ini,         bertindak. Mereka menjetop rapat dan menjetopku. Heyne, Kepala Polisi         Kota Bandung, sangat marah. Sambil menjiku kanan-kiri melalui rakjat         jang berdiri berdjedjal-djedjal, ia melompat keatas mimbar, menarikku         kebawah dan mengumumkan, ,,Tuan Ketua, sekarang saja menjetop seluruh         pertemuan. Habis. Tamat. Selesai. Tuan-tuan semua dibubarkan. Sernua         pulang sekarang. KELUAR !" Begitu pertamakali Sukarno membuka         mulutnja, ia segera harus berhubungan dengan hukum. Dengan tjepat aku         mendjadi buah-tutur orang dan setiap orang mengetahui nama Sukarno. Aku         memperoleh inti pengikut jang kuat. Akan tetapi, sajang, akupun         mengembangkan pengikut jang banyak diantara polisi Belanda. Kemanapun         aku pergi mereka ikuti. Maka mendjalarlah dari mulut kemulut: ,,Di         Sekolah Teknik Tinggi ada seorang pengatjau. Awasi dia." Dengan         satu pidato si Karno—jang pendiam, jang suka menarik diri dan         ditjintai membuat musuh-musuh djadi geger dan selama 20 tahun kemudian         aku tak pernah ditjoret dari daftar hitam mereka. Prestasiku jang         pertama ini menimbulkan kegemparan hebat, sehingga aku segera dipanggil         kekantor Presiden universitas. ,,Kalau engkau ingin melandjutkan         peladjaran disini," Professor Klopper memperingatkan, ,Engkau harus         bertekun pada studimu. Saja tidak keberatan djika seorang mahasiswa         mempunjai tjita-tjita politik, akan tetapi haruslah diingat bahwa ia         pertama dan paling utama memenuhi kewadjiban sebagai seorang mahasiswa.         Engkau harus berdjandji, mulai hari ini tidak akan ikut-tjampur dalam         gerakan politik."Aku tidak berdusta kepadanja. Aku menerangkan         persoalanku dengan djudjur. ,,Professor, apa jang akan saja djandjikan         ialah, bahwa saja tidak akan melalaikan peladjaran-peladjaran jang tuan         berikan dalam kuliah.",,Bukan itu jang saja minta         kepadamu.",,Hanja itu jang dapat saja djandjikan, Professor. Akan         tetapi djandji ini saja berikan dengan sepenuh hati. Saja berdjandji         dengan kesungguhan hati untuk menjediakan lebih banjak waktu pada studi         saja." Ia sangat baik mengenai hal ini. ,,Apakah kata-katamu dapat         saja pegang, bahwa engkau akan berhenti berpidato dalam rapat umum         selama masih dalam studi ?",,Ja, Professor," aku berdjandji,         ,,Tuan memegang utjapan saja jang sungguh-sungguh."Dan djandji ini         kupegang teguh. Berbitjara dihadapan massa bagiku lebih daripada         segala-galanja untuk mana aku hidup. Oleh karena aku tidak dapat         berbitjara membangkitkan semangat rakjatdjelata dalam keadaan         sesungguhnja maka kulakukanlah ini dalam chajalan. Pada suatu malam         rumah Inggit jang disediakan djuga untuk bajar-makan penuh dan kami         terpaksa membagi tempat. Aku membagi tempat-tidurku dengan seorang         peladjar. Ditengah malam aku diserang oleh suatu desakan untuk berpidato         dengan nafsu jang bernjala-njala, seakan-akan aku berbitjara dihadapan         10.000 orang jang bersorak-sorai dengan gegap-gempita. Sambil berdiri         tegak aku menganggap tempat-tidurku sebagai mimbar dan aku mulai         menggegapgeletar.,,Engkau tahu apakah Indonesia ?" aku berteriak         kepunggung temanku setempat-tidur. ,,Indonesia adalah pohon jang kuat         dan indah ini. Indonesia adalah langit jang biru dan terang itu.         Indonesia adalah mega putih jang lamban itu. Indonesia adalah udara jang         hangat ini.",,Saudara-saudaraku iang tertjinta, laut jang menderu         memukul-mukul kepantai ditjahaja sendja, bagiku adalah djiwanja         Indonesia jang bergerak dalam gemuruhnja gelombang samudra. Bila         kudengar anak-anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku         menghirup bunga-bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah-air         kita bagiku."Setelah beberapa djam mendengarkan perkataanku jang         membakar hati, Djoko Asmo lebih memerlukan tidur daripada mendengarkan         golakan perasaanku. Djam dua tengah malam dia tertidur njenjak         ditengah-tengah pidatoku jang mentjatjau. Aku kehabisan tenaga         samasekali sehingga ditengah pidato pembelaanku jang bersemangat akupun         terhempas lena. Esok paginja kami baru tahu, bahwa kami lupa mematikan         lampu. Kelambu kami hampir hangus samasekali. Lampu itu menjala         sepandjang malam sampai mendjilat kebagian bawah dan kami kedua-duanja         hampir kelemasan oleh udara dan asap jang hebat. Tapi untunglah. Kami         tidak turut terbakar. Terpikir olehku, kalau seseorang hendak mendjadi         Djuru selamat daripada bangsanja dikemudian hari untuk membebaskan         rakjatnja, haruslah ia menjelamatkan dirinja sendiri lebih dulu. Aku         masih terlalu banjak menjurahkan waktu untuk pemikiran politik, djadi         tak dapatlah diharapkan akan mendjadi mahasiswa jang betul-betul         gemilang. Kenjataan bahwa aku masih dapat melintasi batas nilai sedang         sungguh mengherankan. Siapa jang beladjar ? Bukan aku. Tidak pernah. Aku         mempunjai ingatan seperti bajangan gambar dan dalam pada itu aku terlalu         sibuk memompakan soal-soal politik kekepalaku, sehingga tidak tersisa         waktuku untuk membuka buku sekolah. Dewi dendamku adalah ilmu pasti. Aku         tidak begitu kuat dalam ilmu pasti. Menggambar arsitektur bagiku sangat         menarik, akan tetapi kalkulasi bangunan dan komputasi djangan tanja.         Kleinste Vierkanten atau jang dinamakan Geodesi, sematjam penjelidikan         tanah setjara ilrnu pasti dimana orang mengukur tanah dan beladjar         membaginja dalam kaki-persegi, dalam semua ini aku gagal. Untuk udjian         ilmu pasti kuakui, bahwa aku bermain tjurang. Tapi hanja sedikit. Kami         semua bermain tjurang dengan berbagai djalan. Ambillah misalnja         peladjaran menggambar konstruksi bangunan. Aku kuat dalam peladjaran         ini. Dalam waktu udjian dosen berdjalan pulang-balik diantara         medja-medja memperhatikan setiap orang. Segera setelah ia berada         dibagian lain dalam ruangan ketika menghadapkan punggungnja pada kami,         salah-seorang jang berdekatan mendesis, ,,Ssss, Karno, buatkan bagan         untukku, kau mau ?" Aku bertukar kertas dengan dia. dengan         terburu-buru membuat gambar jang kedua dan dengan tjepat menjerahkan         kembali kepadanja. Kawan-kawanku membalas usaha ini dalam peladjaran         Kleinste Vierkanten kalau Professor membuat tiga pertanjaan         dipapan-tulis dan hanja memberi kami waktu 45 menit untuk         mengerdjakannja. Kawan-kawan menempatkan kertasnja sedemikian rupa         disudut bangku, sehingga aku dapat dengan mudah menjalin djawabannja.         Sudah tentu aku mentjontoh dari mahasiswa jang lebih pandai dalam ilmu         pasti. Tjara ini bukanlah semata-mata apa jang dinamakan orang berbuat         tjurang. Di Indonesia ini adalah wadjar djika digolongkan dalam apa jang         kami sebut kerdja-sama jang erat. Gotong-rojong. Alasan mengapa aku         gagal dan hanja memperoleh nilai tiga adalah karena pada suatu kali sang         Professor melakukan taktik litjik terhadap kami. Ia mengedjutkan kami         dengan udjian lisan, dimana kami menempuhnja satu persatu. Hanja         Professor dan seorang mahasiswa jang ada dalam ruangan. Aku karenanja         djatuh.Semua kuliah diadjarkan dalam bahasa Belanda. Aku berpikir dalam         bahasa Belanda. Bahkan sekarangpun aku memaki-maki dalam bahasa Beianda.         Kalau aku mendoa kehadirat Tuhan Jang MahaKuasa, maka ini kulakukan         dalam bahasa Belanda.Kurikulum kami disesuaikan menurut kebutuhan         masjarakat pendjadjahan Belanda. Pengetahuan jang kupeladjari adalah         pengetahuan teknik kapitalis. Misalnja, pengetahuan tentang sistim         irigasi. Jang dipeladjari bukanlah tentang bagaimana tjaranja mengairi         sawah dengan djalan jang terbaik. Jang diberikan hanja tentang sistem         pengairan tebu dan tembakau. Ini adalah irigasi untuk kepentingan         Imperialisme dan Kapitalisme. Irigasi dipeladjari tidak untuk memberi         makan rakjat banjak jang kelaparan, akan tetapi untuk membikin gendut         pemilik perkebunan. Peladjaran kami dalam pembuatan djalan tidak mungkin         dapat menguntungkan rakjat. Djalan-djalan jang dibuat bukan melalui         hutan dan antar-pulau sehingga rakjat dapat berdjalan atau bepergian         lebih mudah. Kami hanja diadjar merentjanakan djalan-djalan tambahan         sepandjang pantai dari pelabuhan kepelabuhan, djadi pabrik-pabrik dengan         demikian dapat mengangkut hasilnja setjara maksimal dan komunikasi jang         tjukup antara kapal-kapal jang berlajar. Ambillah ilmu pasti.         Universitas manapun tidak memberi peladjaran rantai-ukuran. Kami diberi.         Ini adalah sebuah pita jang pandjangnja 20 meter jang hanja dipakai oleh         para pengawas diperkebunan-perkebunan. Diruangan bagan, kalau karni         membuat rentjana kota teladan, kamipun harus menundjukkan tempat         kedudukan ,,Kabupaten", jaitu tempat tinggal Bupati jang mengawasi         rakjat desa membanting-tulang.Diminggu terachir ketika diadakan         pelantikan aku mempersoalkan ini dengan Rector Magnificus dari Sekolah         Teknik Tinggi ini, Professor Ir. G. Klopper M.E.,,Mengapa kami diisi         dengan pengetahuan-pengetahuan jang hanja berguna untuk mengekalkan         dominasi Kolonial terhadap kami ?'' tanjaku.,,Sekolah Teknik Tinggi         ini," ia menerangkan, ,,didirikan terutama untuk memadjukan politik         Den Haag di Hindia. Supaja dapat mengikuti ketjepatan ekspansi dan         eksploitasi, pemerintah saja merasa perlu untuk mendidik lebih banjak         insinjur dan pengawas jang berpengalaman.",,Dengan perkataan lain,         kami mengikuti perguruan tinggi ini untuk memperkekal polilik         Imperialisme Belanda disini ?",,Ja, tuan Sukarno, itu benar,"         ia mendjawab. Dan begitulah, sekalipun aku harus mempersembahkan seluruh         hidupku untuk menghantjurkan kekuasaan Kolonial, rupanja aku harus         berterima-kasih pula kepada mereka atas pendidikan jang kuterima. Dengan         dua orang kawan bangsa Indonesia jang berhasil bersama-sama denganku,         maka pada tanggal 25 Mei 1926 aku memperoleh promosi dengan gelar         ,,Ingenieur". Idjazahku dalam djurusan teknik sipil menentukan,         bahwa aku adalah seorang spesialis dalam pekerdjaan djalan-raja dan         pengairan. Aku sekarang diberi hak untuk menuliskan namaku: Ir. Raden         Soekarno. Ketika ia memberi gelar sardjana teknik kepadaku, Presiden         universitas berkata, ,,Ir. Sukarno, idjazah ini dapat robek dan hantjur         mendjadi abu disatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah, bahwa satu-satunja         kekuatan jang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter dari seseorang.         Ia akan tetap hidup dalam hati rakjat, sekalipun sesudah mati." Aku         tak pernah melupakan kata-kata ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-8085818749852561960?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/8085818749852561960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=8085818749852561960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8085818749852561960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8085818749852561960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/marhaenisme.html' title='Marhaenisme'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-8378091405569053479</id><published>2008-04-07T09:34:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T09:37:22.033-07:00</updated><title type='text'>Penyambung Lidah Rakyat indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"&gt;....,,Apa gunanja kita puluhan ribu banjaknja berkumpul disini djikalau jang kita kerdjakan hanja menghasilkan petisi ? Mengapa kita selalu merendah diri memohon kepada "Pemerintah" untuk meminta kebaikan hatinja supaja mendirikan sebuah sekolah untuk kita ? Bukankah itu suatu Politik Berlutut ? Bukankah itu suatu politik memohon dengan mendatangi Jang Dipertuan Gubernur Djendral Hindia Belanda, jang dengan memakai dasi hitam menerima delegasi jang membungkuk-bungkuk dan menundjukkan penghargaan kepadanja dan menjerahkan kepada pertimbangannja suatu petisi ? Dan merendah diri memohon pengurangan padjak? Kita merendah diri....memohon, merendah diri.... memohon.........Inilah kata-kata jang selalu dipakai oleh pemimpin-pemimpin kita.,, Sampai sekarang kita tidak pernah mendjadi penjerang. Gerakan kita bukan gerakan jang mendesak, akan tetapi gerakan kita adalah gerakan jang meminta-minta. Tak satupun jang pernah diberikannja karena kasihan. Marilah kita sekarang mendjalankan politik pertjaja pada diri sendiri dengan tidak mengemis-ngemis. Hajo kita berhenti mengemis. Sebaliknja, hajo kita berteriak, ,,Tuan Imperialis, inilah jang kami TUNTUT !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-8378091405569053479?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/8378091405569053479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=8378091405569053479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8378091405569053479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8378091405569053479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/penyambung-lidah-rakyat-indonesia.html' title='Penyambung Lidah Rakyat indonesia'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-8089621064588849497</id><published>2008-04-07T09:33:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T09:52:51.717-07:00</updated><title type='text'>KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;i&gt;&lt;span style="letter-spacing: 2pt;"&gt;Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak G. Semeru, bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis, juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman), Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;"Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan," kata Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Terkejut dan tersentuh juga saya saat mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. "Kita juga akan berdoa, sekalian mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu," lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Soe meninggal dunia saat baru berumur 27 tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. "Tanpa terasa Soe sudah tiga dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru ... perkembangan yang terjadi di Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu," begitu bunyi naskah buku kecil acara "Mengenang Seorang Demonstran", (berisikan antara lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kasih batu dan cemara&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, &lt;i&gt;Catatan Seorang Demonstran&lt;/i&gt; (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Di depan kelihatan Soe sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan. Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan' batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Soe dan Idhan kecelakaan!" katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu &lt;i&gt;ngaco&lt;/i&gt;. Kami berharap semoga Soe dan Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan Maman yang masih &lt;i&gt;shock&lt;/i&gt;, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;"Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.&lt;br /&gt;Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengapa naik gunung&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, &lt;i&gt;Nobody Knows&lt;/i&gt;, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Idhan yang pendiam, cuma duduk tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. "Pokoknya &lt;i&gt;gue&lt;/i&gt; akan berulang tahun di atas," katanya sambil mesam-mesem. "Nyanyi lagi dong. Lagu &lt;i&gt;Donna Donna&lt;/i&gt;-nya Joan Baez itu bagus sekali."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. "&lt;i&gt;Keren&lt;/i&gt; enggak?" Tanyanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Rombongan pun berjalan mendaki, menuju Puncak Mahameru dari dataran di kaki G. Bajangan. Soe sebagaimana biasanya, selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dosen sejarah ini terus &lt;i&gt;nyerocos&lt;/i&gt; kepada mahasiswanya (saya), asal muasal nama &lt;i&gt;recopodo&lt;/i&gt; alias arca kembar, serta mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma &lt;i&gt;segitu&lt;/i&gt; ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Yang masih tetap terngiang justru rayuan dan "falsafahnya", kala mengajak seseorang mendaki gunung. "&lt;i&gt;Ngapain&lt;/i&gt; lama-lama tinggal di Jakarta. &lt;i&gt;Mendingan&lt;/i&gt; naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan, seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa juga sehat. Makanya &lt;i&gt;yuk&lt;/i&gt; kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa ini," kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Memang pendakian ke Semeru ini merupakan proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan, mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa &lt;i&gt;bokek&lt;/i&gt; sejati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu, selama sembilan hari benar-benar hidup tidak &lt;i&gt;kejuntrungan&lt;/i&gt;. Selain puasa sampai tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe, Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan ... Tides dan Wiwik 18-12-69&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: &lt;i&gt;Saya tunggu di Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan "site" tempat jenazah Soe dan Idhan ... kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat ... sebanyak mungkin!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket. Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah masing-masing.&lt;br /&gt;Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Monyet tua yang dikurung&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: &lt;i&gt;"... Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ...."&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Soe yang banyak membaca dan sering diejek dengan julukan "Cina Kecil", memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata "sakti" filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia menulis: "&lt;i&gt;Seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda."&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Soe yang penyayang binatang (dia memelihara beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum musibah Semeru itu sempat berujar: &lt;i&gt;"Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras ... diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil ... orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Arief Budiman, sang kakak yang menjemput jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. &lt;i&gt;Sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang ... makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan ... Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian."&lt;/i&gt; (CSD) Arief sendiri mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: "Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang." Terhadap Ibu, dia cuma tersenyum dan berkata: "Ah, Mama tidak mengerti".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Arief pun menulis kenangannya lagi: ... &lt;i&gt;di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin tik ... dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangan ... saya terbangun dari lamunan ... saya berdiri di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik, "Gie kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mimpi seorang mahasiswa tua&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;John Maxwell yang menyusun disertasinya&lt;i&gt;, Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesia Intellectual &lt;/i&gt;(Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Mingguan Bandung&lt;i&gt; Mahasiswa Indonesia,&lt;/i&gt; mempersembahkan editorial khusus&lt;i&gt;: ...Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih ... kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Di luar negeri, berita kematian Soe sempat diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New York, sebagai berikut:&lt;i&gt; ... Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan .... Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan ... bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kepada Ben Anderson, pakar politik Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe menulis,&lt;i&gt; ... Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini:&lt;i&gt; Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel&lt;i&gt; Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua. &lt;/i&gt;Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan:&lt;i&gt; ... Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan ... Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata tidak tahu berbahasa Inggris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Masih di seputar mahasiswa, dalam nada getir, Soe menulis:&lt;i&gt; ... Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah. Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki "politisi berkartu mahasiswa". Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya, momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak Mahameru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berpolitik cuma sementara&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini, "Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja belasan tahun ... namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental "asal bapak senang", serta "yes men", atau sudah pasrah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pandangan ini menjadi latar belakang pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966. Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas, membangun kembali institusi politik bangsa." Demikian tulis Maxwell.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Soe memang sudah bersikap. Dia memilih mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam, Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah satunya &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.indomedia.com/intisari/1999/desember/b1_hkgi.htm"&gt;Mandalawangi-Pangrango&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; yang terkenal di kalangan pendaki gunung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing gunung, tukang &lt;i&gt;nonton &lt;/i&gt;film, juga penggemar berat&lt;i&gt; folksong &lt;/i&gt;(meski sama sekali tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya gembul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul di harian &lt;i&gt;Sinar Harapan &lt;/i&gt;18 Agustus 1973. Judulnya "Pesan" dan cukilan pentingnya berbunyi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hari ini aku lihat kembali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Wajah-wajah halus yang keras &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Yang berbicara tentang kemerdekaaan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dan demokrasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dan bercita-cita &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Menggulingkan tiran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Aku mengenali mereka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;yang tanpa tentara &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mau berperang melawan diktator &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;dan yang tanpa uang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;mau memberantas korupsi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kawan-kawan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kuberikan padamu cintaku &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dan maukah kau berjabat tangan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Selalu dalam hidup ini?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-8089621064588849497?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/8089621064588849497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=8089621064588849497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8089621064588849497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/8089621064588849497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/kenangan-kepada-seorang-demonstran.html' title='KENANGAN KEPADA SEORANG DEMONSTRAN'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-2294903860340397663</id><published>2008-04-07T09:31:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T09:32:38.520-07:00</updated><title type='text'>Kata Mutiara</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;" class="postbody"&gt; Ada dua perkara yang tidak lepas dari dusta, yaitu terlalu banyak berjanji,dan terlalu keras mencari alasan. - Anonim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang tidak laik diucapkan walaupun itu benar ialah memuji dirinyasendiri. - Anonim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang berwatak baik melakukan sesuatu yang benar hanya karena itu benar. Orang besar menunjukkan kebesarannya dalam caranya memperlakukan orang kecil. - Thomas Carlyle&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda. Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakan diri anda sendiri. - Andrew T. Somers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak pernah menjumpai seseorang yang menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang yang menderita karena terlalu banyak ambisi tetapi tak cukup berusaha. - Dr. James Mantague&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan anda pada diri sendiri. - Robert Collier&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang ---censored--- akan mengerjakannya tiga hari kemudian. - Abdullah Ibnu Mubarak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski anda menyembunyikan pikiran buruk dalam hati anda, tetap akan terpancar kekuatan kelam. Pikirkan cinta, meski tak mengucapkannya, maka duniapun akan terasa lebih terang. - Ella Wheeler Wilcox&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perbedaan antara hambatan dan kesempatan? Perbedaannya terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam setiap kesempatan; dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan. - J. Sidlow Baxter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda membiarkan sesuatu yang kecil berlalu, anda akan menemukan kedamaian yang kecil juga. Jika anda membiarkan lebih banyak hal berlalu, anda akan meraih lebih banyak kedamaian. Jika anda benar-benar membiarkan seluruhnya berlalu, anda akan mendapatkan seluruh kedamaian. - Ajahn Chah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri. - Franklin D. Roosevelt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya. - Bung Karno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yang datang, akan pergi. Seorang penguasa, pengemis atau pertapa - setiap orang yang lahir pasti mati. Menghembuskan nafas terakhir di atas tahta, atau diseret ke dalam kubur dengan kaki dan tangan terikat, apa bedanya? - Kabir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. - Soekarno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ia mendengar. Mangapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu? - Edward Hersey Richards&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanglah hari ini. Kemarin sudah menjadi mimpi. Dan esok hari hanyalah sebuah visi. Tetapi, hari ini yang sungguh nyata, menjadikan kemarin sebagai mimpi kebahagiaan, dan setiap hari esok sebagai visi harapan. - Alexander Pope&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada cahaya dalam jiwa, maka akan hadir kecantikan dalam diri seseorang. Bila ada kecantikan dalam diri seseorang, akan hadir keharmonisan dalam rumah tangga. Bila ada keharmonisan dalam rumah tangga, akan hadir ketertiban dalam negara. Dan bila ada ketertiban dalam negara, akan hadir kedamaian di dunia. - Pepatah Cina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pecundang tak tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah, tetapi sesumbar apa yang akan dilakukannya bila menang. Sedangkan, pemenang tidak berbicara apa yang akan dilakukannya bila ia menang, tetapi tahu apa yang akan dilakukannya bila kalah. - Eric Berne&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata yang paling indah dibibir umat manusia adalah kata "Ibu", dan panggilan paling indah adalah "Ibuku". Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati. - Kahlil Gibran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain, tanpa kita kehilangan semangat. - Abraham Lincoln&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran. - Corrie Ten Boom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan. - Albert Einstein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki. - Mahatma Gandhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda memerlukan kata-kata untuk menggambarkan pengetahuan dan pemahaman, itu seperti burung dalam sangkar. Memiliki sayap namun tak bisa terbang. - Kahlil Gibran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih baik menjaga mulut anda tetap tertutup dan membiarkan orang lain menganggap anda ---censored---, daripada membuka mulut anda dan menegaskan semua anggapan mereka. - Mark Twain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tong yang penuh dengan pengetahuan belum tentu sama nilainya dengan setetes budi. - Phytagoras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan perbedaan antara apa yang terjadi bila seseorang berkata, "Saya telah gagal tiga kali", dan apa yang terjadi bila ia berkata, "Saya orang yang gagal". - S.i. Hayakawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai manusia, bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup; bukan apa yang diperoleh, melainkan apa yang telah diberikan; bukan apa pangkatnya, melainkan apa yang telah diperbuat dengan tugas yang diberikan Tuhan kepadanya. - Ministry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam hidup ini, anda harus mendengar jiwa anda. Untuk dapat melakukannya, anda perlu merasakan kesenyapan; yang ditakuti oleh sebagian besar orang, karena dalam kesunyian anda dapat mendengar kebenaran dan melihat pemecahan-pemecahan. - Deepak Chopra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terbaik yang bisa anda lakukan untuk orang lain bukanlah membagikan kekayaan anda, tetapi membantu ia untuk memiliki kekayaannya sendiri. - Benjamin Disraeli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkanlah musuh-musuh anda, tapi jangan pernah melupakan nama-namanya. - John F.kennedy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan anda tumbuh berkembang manakala Anda turut membantu orang lain. Namun, bilamana anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman; harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi. - J. Donald Walters&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan adalah hal tersulit untuk dijelaskan di dunia ini. Dan, ini bukan soal apa yang anda pelajari di sekolah. Tetapi, bila anda tidak pernah belajar makna persahabatan, anda benar-benar tidak belajar apa pun. - Muhammad Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang ---censored--- bisa mengkritik, menyalahkan dan mengeluh, dan kebanyakan dari mereka melakukan hal itu. - Lawrence G. Lovasik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati anda belum hidup kalau belum pernah mengalami rasa sakit. Rasa sakit karena cinta akan membuka hati, bahkan bila hati itu sekeras batu. - Hazrat Inayat Khan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan; tidak mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi apa-apa. - Denis Waitley&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berpikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak pernah memikirkannya. - John Charles Salak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. - Bung Karno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun tugas hidup anda, lakukan dengan baik. Seseorang semestinya melakukan pekerjaannya sedemikian baik sehingga mereka yang masih hidup, yang sudah mati, dan yang belum lahir tidak mampu melakukannya lebih baik lagi. - Martin Luther King&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton. - Mark Twain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan; jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan; tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran. - James Thurber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan. - Frederick E. Crane&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata bahwa setiap orang membutuhkan tiga hal yang akan membuat mereka berbahagia di dunia ini, yaitu; seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan. - Tom Bodett&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seharusnya diajar untuk tidak menunggu inspirasi untuk memulai sesuatu. Tindakan selalu melahirkan inspirasi. Sedangkan inspirasi jarang diikuti dengan tindakan. - Frank Tibolt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak gunanya memberitahu orang lain tentang kesulitan anda, separuh dari mereka tidak peduli, sedang separuh yang lain malah senang mendengarnya. - Brenda French&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian bagi seseorang yang sukses bukanlah pada kemampuannya untuk mencegah munculnya masalah, tetapi pada waktu menghadapi dan menyelesaikan setiap kesulitan saat masalah itu terjadi. - David J. Schwartz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dapat melihat bahwa bukan kebahagiaan yang membuat kita berterimakasih, namun rasa terima kasihlah yang membuat kita berbahagia. - Albert Clarke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerendahan hati menuntun pada kekuatan bukan kelemahan. Mengakui kesalahan dan melakukan perubahan atas kesalahan adalah bentuk tertinggi dari penghormatan pada diri sendiri. - John Mccloy &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-2294903860340397663?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/2294903860340397663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=2294903860340397663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/2294903860340397663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/2294903860340397663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/kata-mutiara.html' title='Kata Mutiara'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-5014789548320074433</id><published>2008-04-07T09:17:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T09:18:35.181-07:00</updated><title type='text'>Aksi Solidaritas Untuk Unhalu</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: bold;" align="justify"&gt;Tolak polisi Masuk kampus!!!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: bold;" align="justify"&gt;Aksi yang dilatarbelakangi oleh tindak kekerasan yang dilakukan oleh “Korps Polisi” yang ada di Sultra ini mengingatkan kembali pada memori yang terjadi sepuluh tahun silam di Universitas Trisakti, keberingasan polisi yang dengan sah memukuli serta menembaki mahasiswa tanpa senjata telah menjadi bagian tugas sah dari komandannya. Secara sederhana dapat dilihat apa yang ada dalam benak pikir polisi adalah satu perintah tanpa melihat isi perintah dari komandannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: bold;" align="justify"&gt;Aksi DPC GMNI Kota Surabaya dan FMN Surabaya yang dilakukan di depan Polda Jatim pada Sabtu 29 Maret 2008 merupakan sebuah aksi solidaritas untuk kawan-kawan mahsiswa yang dipukuli dan ditembaki diluar dan didalam kampus, dimana mahasiswa Unhalu, PK5 dan LSM setempat memprotes kebijakan pemerintah kota tentang PK5.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: bold;" align="justify"&gt;Aksi GMNI dan FMN sendiri diiikuti kurang lebih 30 massa yang sebelumnya berkumpul dikampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kemudian masssa aksi bergerak dengan memakai rancangan baju dari plastik yang bertuliskan HALUELEO dan diatasnya dituliskan juga “SOLIDARITAS”, aksi solidaritas damai ini sempat beberapa kali memicu ketegangan dengan aparat kepolisian yang menjaga gerbang Polda Jatim, pihak kepolisian menanyakan apakah aksi ini ada surat ijinnya karena kalau tidak ada surat ijinnya tentu melanggar peraturan undang-undang dan aksi tersebut harus dibubarkan. Namun, perwakilan orator dari GMNI Kota Surabaya jelas menyangkal dengan alasan “jika setiap aksi yang didalamnya berisi teriakan, membentangkan poster dan membagi selebaran harus ijin kepada polisi dan jika tidak akan ditindak secara hukum, lantas mengapa polisi yang tidak memiliki ijin harus memukuli dan menembaki kawan-kawan mahasiswa yang ada di Unhalu tidak ditindak secara tegas oleh hukum”. Tidak mau lengah dan kalah pihak polisi yang menjaga juga menanyakan “harusnya hak dan kewajiban anda harus dipenuhi dulu jika ingin melakukan aksi”, tak mau kalah pula orator dari GMNI menanyakan kembali “apa hak dan kewajiban polisi untuk memukuli dan menembaki kawan-kawan mahasiswa yang tidak bersenjata dalam aksi di Unhalu baik didalam dan diluar kampus?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: bold;" align="justify"&gt;Sebelum aksi bubar seluruh peserta aksi merapat ke gerbang yang sebelumnya berjarak sekitar sepuluh meter, ketika massa aksi semakin mendekat dan hanya berjarak sekitar satu meter dari gerbang. Pihak kepolisian dengan kasar mengintiidasi orator dengan kata-kata “ini sudah melampaui batas kewenangan, aksi ini tidak mempunyai ijin dan …”, kemudian orator menyebutkan niatnya mengapa massa aksi “ kita mendekat bukan untuk mendobrak masuk, kita mendekat hanya dengan satu niatan yaitu memohon ijin untuk kembali karena aksi kita sudah selesai”, ditambahkan pula oleh orator aksi bahwa “inilah isi dari otak polisi di Negara kita, mahasiswa dianggap sebagai biang kericuhan, sebaik apapun niatan mahasiswa kepada polisi selalu diterima dengan akalnya bahwa mahasiswa tetap mahasiswa yang selalu buat kericuhan, karena mereka para polisi tidak pernah ingat jatuh banunnya Negara Indonesia bukan karena Polisi tapi karena Pemuda dan Mahasiswa”.&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aksi kemudian ditutup dengan pernyataan sikap politik, massa aksi kembali dengan tertib kekampus IAIN dengan tetap bersemangat menriakkan yel-yel “TOLAK POLISI MASUK KAMPUS”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-5014789548320074433?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/5014789548320074433/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=5014789548320074433' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/5014789548320074433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/5014789548320074433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/aksi-solidaritas-untuk-unhalu.html' title='Aksi Solidaritas Untuk Unhalu'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-5757012254684056888</id><published>2008-04-06T18:46:00.000-07:00</published><updated>2008-04-06T20:04:04.080-07:00</updated><title type='text'>Golput Embrio Oposisi Rakyat</title><content type='html'>Sebuah Catatan besar dari para Calon Gubernur dan Calon Kepala Daerah tentang janji-janji mereka dan  Gambar-Gambar mereka di Seluruh tempat setrategis di daerah kota. Seorang Calon pernah menyerukan  "Orang Bijak Tidak Golput", sebuah pernyataan yang disinyalir oleh KPUD bahwa golput adalah suka atau tidak suka sudah pasti ada pada pemilihan Gubernur Jatim dan Pilkada Magetan pada Juni - Juli  2008.  Yang menjadi pertanyaan di sini apakah golput dilarang pada sistem demokrasi kita? Kutipan sebuah tajuk pada harian Waspada  "Golput disebut menjadi sebuah grand design pada tatanan komunikasi politik yang bisa berupa isu atau kontra atau kontra isu bahkan provokasi, agitasi dan propaganda. Dan merupakan hal yang wajar terjadi menjelang berbagai pemilihan tidak terkecuali Pilkada Kab Magetan mendatang. Oleh karena itu munculnya isu golput yang dilemparkan kepada publik oleh elite tertentu merupakan hal yang wajar. Namun perlu kita kaji apakah golput yang dikemukakan sekarang ini sama dengan ide yang dilontarkan seorang tokoh oposan negeri ini Arief Budiman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Orang Bijak Tidak Golput",&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Golput disebut menjadi sebuah grand design pada tatanan komunikasi politik yang bisa berupa isu atau kontra atau kontra isu bahkan provokasi, agitasi dan propaganda. Dan merupakan hal yang wajar terjadi menjelang berbagai pemilihan tidak terkecuali Pilgub Jatim dan Pilkada Magetan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief Budiman".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja bentuk golput sekarang adalah kecenderungan ketidakpuasan atau kekecewaaan terhadap pelaksanaan pemilu yang diwujudkan dalam tiga bentuk; Pertama : Menolak secara jelas pelaksanan pemilu, sehingga tidak hadir ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), Kedua : Hadir ke TPS, tetapi tidak mencoblos tanda gambar, Ketiga: Hadir dan mencoblos tanda gambar, tetapi mencoblos semua tanda gambar, sehingga batal/rusak. Bentuk kekecewaan yang diikuti dengan sikap golput, sudah pasti ada terlebih-lebih, disebabkan idolanya tidak masuk pada bursa balon Kepala Daerah  karena ketiadaan perahu, ataupun ada perahunya tetapi sudah penuh, seperti Suharto, Prayogo, maupun Putra Mantan Putra Bupati Magetan  yang berharap bisa menumpang perahu independent. Ke semua balon yang kecewa sudah pasti punya pendukung yang merupakan jamaahnya. Lampisan kekecewaan ini dapat menimbulkan sikap golput. Walaupun telah lahir Empat balon Bupati Magetan Amek-Djarno dengan perahu standar bermesin turbo (Golkar), Sumantri-Samsi  juga perahu standar bermesin turbo (PDIP), Saleh-Teguh  dengan perahu rakitan berbagai merek (beberapa parpol), Sadeni-???? juga dengan perahu rakitan berbagai merek (beberapa parpol)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belum tentu kesemuanya berkenan di hati rakyat. Ini jelas menunjukkan kalau rakyat makin cerdas dalam menentukan pilihannya. Jika dari calon Bupati Magetan mereka nilai tidak layak untuk dipilih maka rakyat memiliki keberanian untuk bersikap tegas, memilih atau tidak memilih. Mereka berani dan secara rasional berkata tidak, kepada semua calon yang ada. Ini merupakan kemajuan demokrasi yang cukup berarti. Golput menjadi makin eksis dan diakui keberadaannya sebagai bagian dari demokrasi di Indonesia. Golput mungkin juga bisa disebabkan oleh jeleknya penyelenggaraan pemilihan Gebernur Jatim dan Bupati Magetan yang  buruk dan penuh kecurangan pada bulan Juni-Juli nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bukan rahasia lagi bahwa kecurangan-kecurangan banyak terjadi di daerah-daerah. Penggelembungan suara calon pasangan Gubernur dan Kepala Daerah tertentu dan padanya calon yang suaranya dibajak sudah jadi berita. Publik sudah tahu bahwa Pilgub dan Pibup hanya untuk memenangkan pasangan tertentu untuk menyisihkan calon-calon lainnya. Otomatis pendukung pasangan tersisih tidak ada gairah lagi untuk mengikuti Pilgubsu pada tahapan berikutnya, seandainya pilgubsu terjadi dua putaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mengatakan bahwa golput pasti terjadi, itu menjadi tamparan bagi para politisi. Tapi bagi masyarakat yang tingkat kedewasaan berpikirnya sudah tinggi, golput harus dilihat sebagai ekspresi politik. Artinya, sebenarnya orang yang memilih dengan yang tidak memilih itu dengan kesadaran adalah sama, di mata politik. Dengan tujuan bahwa mereka yang tidak memilih itu sebetulnya mendewasakan elite politik. Kita harus melihat golput sebagai fenomena yang bagus dalam berdemokrasi. Orang yang telah memilih untuk golput, berarti dia itu harus siap pula untuk diam, dan harus bisa menghormati serta menerima seluruh hasil pemilihan itu dengan tanpa ada rasa penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Edukasi Dan Pencerahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses edukasi demokrasi merupakan suatu Communication process. Proses pembelajaran atau edukasi demokrasi itu tidak dapat dipaksakan. Proses ini merupakan langkah panjang, karena apa yang dipelajari tersebut nantinya harus menjadi valuesnya atau  nilai-nilai masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi dalam kehidupan masyarakat kita erat kaitannya dengan pengambilan keputusan. Dengan keputusan yang dilakukan secara kolektif tersebut diharapkan akan menghasilkan keputusan yang terbaik, namun dalam kenyataannya tidaklah demikian. Orang tidak bisa memanfaatkan mekanisme dan aturan dalam pengambilan Keputusan Kolektif secara optimal. Karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut di antaranya kemampuan yang kurang mendukung dalam menyatakan pilihan dan keputusan. Oleh karena itu pendidikan demokrasi untuk masyarakat harus terus dilakukan. Proses ini membutuhkan waktu. Karena demokrasi yang dilaksanakan di negeri ini bukanlah produk original bangsa kita, mekanisme yang ada bukan demokrasi ala bangsa kita. Demokrasi yang kita laksanakan saat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merupakan produk barat. Karena dengan suara terbanyak orang harus patuh dan tunduk pada suara terbanyak. Saat ini kita harus mulai belajar untuk menerima kenyataan dan keputusan yang telah dihasilkan. Realita di lapangan pada saat ini menunjukkan bahwa sering kali demokrasi tidak dipahami maknanya secara benar. Yang perlu disadari adalah bahwa seseorang apabila mengambil suatu keputusan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Tetapi yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak terjadi saat ini adalah setelah mengambil keputusan orang sering lupa dengan konsekuensi atau akibat dari keputusan tersebut. Sebagai akibatnya yang bersangkutan selanjutnya melakukan tindakan yang menyimpang dari koridor atau aturan yang sudah ada. Sikap seperti inilah yang harus kita ubah. Jadi golput adalah bagian dari demokrasi, dan dalam pilgubsu ada golput yang merupakan bentuk protes terhadap politisi karena tidak ada sistem demokrasi yang memadai serta belum terwujudnya kesejahteraan rakyat. Terlebih-lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila masyarakat memandang balon Bubernur Jatim tidak punya kompetensi yang diharapkan. Kompetensi dalam hal inilah mencakup tiga unsur, yakni Knowledge, Skill dan Attitude baik ianya dari kalangan militer maupun sipil, terlebih-lebih ketika ia duduk di posisi kekuasaan tidak menunjukkan komitmennya kepada pemberantasan KKN. Ini sangat mengecewakan rakyat. Jadi golput di sini terdiri dua kategori, golput apatis dan golput kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan sementara seandainya Pilgub dan Pilbup terjadi dua putaran hampir dapat dipastikan golput akan meningkat. Menurut teori pemerintahan sedikit atau banyak legitimasi yang dimiliki balon Gub, pemerintahan itu harus ada. Sebagaimana klausal ushul fikih, lebih baik diperintah oleh pemerintah yang dholim daripada tidak ada pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya kalau tidak ada penguasa atau pemerintah akan bahaya. Meski misalnya golput mencapai 70% ini tetap harus ada pemerintahan yang memegang kekuasaan. Oleh karena itu menyadari dukungan publiknya kecil, hendaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemerintahan yang baru hasil pilkada nanti, harus mencari dukungan lagi dengan cara membuat kebijakan yang populis akibat golput tadi. Guna menghambat dan memperkecil prosentase golput, tertuang harapan tentunya kepada para kendidat Gubernur dan Bupati, agar memberikan edukasi demokrasi yang benar melalui pencerahan demokrasi. Pemberian edukasi demokrasi kepada pemilih melalui pencerahan demokrasi yang bebas dari iming-iming, money&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;politics, tebar pesona dan juga tabur uang, tabur umroh dan lain sebagainya. Namun yang perlu dijaga pada saat inilah kondusivisme daerah Jawa Timur, dan kalau perlu jadilah Jawa Timur barometer demokrasi lokal di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah hendaknya Jawa Timur seperti daerah-daerah lain pada saat pilkada terjadi perpecahan karena terjadinya kecurangan-kecurangan yang akhirnya merusak tatanan kesatuan bangsa. Jadilah Jawa Timur indikator "Point of to Return" di Indonesia. Demokrasi yang tidak akan kembali ke gaya lama. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;" Golput bukan Pilihan tetapi adalah Sebagian dari Demokrasi" &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-5757012254684056888?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/5757012254684056888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=5757012254684056888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/5757012254684056888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/5757012254684056888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/golput-embrio-oposisi-rakyat.html' title='Golput Embrio Oposisi Rakyat'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-3236121164494774877</id><published>2008-04-06T18:39:00.001-07:00</published><updated>2008-04-06T18:40:18.718-07:00</updated><title type='text'>Gerakan Golput dan Masa Depan Bangsa Indonesia</title><content type='html'>&lt;span&gt;Menggunakan hak pilih tentu menjadi kebanggan bagi setiap warga negara, karena proses itu juga bermakna partisipasi dalam menentukan nasib demokrasi dan politik di masa yang akan datang. Tetapi, kenyataan untuk tidak menggunakan hak pilih ini (Golput) merupakan sebuah realitas politik yang harus diakui dalam konteks demokrasi di Indonesia. Dari beberapa penyelenggaran pemilu dan pemilihan Kepala Daerah langsung(pilkada), jumlah orang yang tidak menggunakan hak pilih (Golput) semakin bertambah. Dalam pemilu presiden 2004 yang lalu, angka Golput mencapai 40 % melebihi jumlah perolehan suara presiden terpilih, dan dalam pelaksanaan pilkada di Jakarta angka Golput rata-rata 30 %lebih. Meskipun ini harus di akui sebagai realitas demokrasi tetapi demokrasi juga butuh dukungan legitimasi dari pemilih atau orang-orang yang masih menganggap sistem tersebut punya manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;&lt;span&gt;Asal Muasal gerakan Golput di Indonesia &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Menjelang pelaksanaan pemilihan umum 1971, Pemerintahan Orde Baru ingin merombak sistem kepartaian di Indonesia. Dengan mendasarkan pada konsep Ali Murtopo, penasihat khusus Soeharto dalam bidang intelejen, mengepalai unit Operasi Chusus (Opsus) selama beberapa tahun, memegang posisi sebagai Ajudan Pribadi Presiden selama hampir 10 tahun dan kemudian menjadi Menteri Penerangan pada masa pemerintahan Soeharto. Di dalam bukunyalah, 25 Tahun Akselerasi Modernisasi Pembangunan, terdapat gagasan-gagasan kontra-revolusi. Inti dari konsep tersebut adalah gagasan ”massa mengambang”. Konsep bahwa rakyat akan menyibukan dirinya dalam usaha-usaha pembangunan mengingatkan sesorang pada gagasan “perkakas yang bersuara” yang biasa terdapat dalam masayarakat perbudakan. Rakyat pedesaan, yang merupakan mayoritas penduduk pada tahuin 1965-75, benar-benar diarahkan hanya untuk bekerja, berproduksi dan tak memiliki peran lagi dalam politik. Bahkan, bagaimanapun juga, gagasan ”massa mengambang” lebih diilhami oleh persepsi kepasifan politik massa dalam sistim 2 partai demokrasi parlementer Barat pada tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Tak senang pada cara pemerintah campurtangan dalam urusan internal partai politik, dan menentang penggunaan kekerasan di pedesaaan untuk mendapatkan dukungan bagi partai pemerintah, maka kelompok-kelompok mahasiswa bersatu menganjurkan pencoblosan di luar pemilihan umum resmi, pemberian suara informal. Kelompok ini, yang sekali lagi dipimpin oleh Arief Budiman, dinamakan Golongan Putih (GOLPUT). Nama tersebut, menurut Arief Budiman, mengacu pada rekomendasi kelompok tersebut untuk mencoblos bagian kosong (putih) kertas pemilu. Tak bisa tidak, bagaimanapun juga, memberikan kesan pada orang bahwa tekanan moralistik tersirat dalam namanya. Putih disebandingkan dengan lawannya, yakni hitam, kotor. Kelompok GOLPUT aktif terutama di Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Dalam sejarah sistem politik Orde Baru, Partai politik hanya di jadikan mesin politik bagi rejim yang berkuasa. Orang-orang yang memimpin partai politik adalah mereka yang sama sekali terpisah dengan massa, mereka lebih nampak sebagai elit yang memerintah dan menjadi corong program pemerintah. Sehingga, dengan semakin menguatnya sentimen kemuakan atas perilaku Orde Baru di tingkatan Grassroot terutama di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia muncul afatisme terhadap parpol. Paska Reformasi, gerakan Golput makin mendapatkan tempat dalam sistem demokrasi apalagi partai-partai dominan masih mengekspresikan karakter partai di Jaman Orde Baru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;&lt;span&gt;Meletakkan Golput dalam proses Demokratisasi di Indonesia &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Golput adalah pilihan politik, sekaligus senjata politik untuk mempengaruhi sebuah proses politik. Arif Budiman dan kawan-kawannya sangat sadar bahwa politik otoriter Orde baru hanya bisa di dobrak dengan mengorganisasikan perlawanan terutama kaum intelektual. Proses transisi politik di indonesia memiliki tipikal tersendiri berbeda dengan proses demokratisasi di negara lain, kekuatan politik lama sama sekali tidak di likuidasi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kekuatan lama (sisa-sisa Orde baru) masih terus mewarnai proses politik di Indonesia paska reformasi, dan dalam pemilu 2004 Golkar kembali jadi partai pemenang pemilu meskipun perolehan suaranya menurun. Rejim –rejim yang berkuasa paska reformasi, gagal menyelesaikan persoalan-persoalan mendesak seperti; Pengadilan Soeharto, kesejahteraan, pelanggaran HAM, dan terutama pemulihan ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Tingginya angka Golput dalam beberapa proses pemilu dan Pilkada terkait dengan beberapa hal; (1). Kegagalan rejim-rejim paska reformasi dalam menyelesaikan beberapa persoalan krusial seperti kesejahteraan rakyat, pemulihan krisis ekonomi, pengadilan Soeharto, penuntasan berbagai kasus pelanggaran HAM, dan persoalan korupsi. (2). Kecenderungan Oligarkhi partai politik; partai politik menjadi sarang para politisi elit yang hanya ingin kekuasaan, meniti karir, dan transaksi kursi kekuasaan. (3). Tidak adanya upaya mereformasi Internal partai, sebenarnya paska reformasi hampir semua parpol membawa jargon reformasi dan demokrasi tetapi itu hanya sebatas jargon tapi parpol tetap saja bobrok di mata rakyat. (4) merosotnya sistem demokrasi prosedural itu sendiri, proses politik rutin dan reguler ini ternyata hanya di manfaatkan oleh orang-orang yang memiliki akses kekuasaan (power) yang dikenal dengan istilah elit politik. Mayoritas orang merasa hanya di jadikan mesin pengumpul suara, sedangkan situasi paska pemilu sepenuhnya di kendalikan oleh para pemegang modal kekuasaan tersebut untuk mengamankan dan melancarkan kepentingannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;Berbagai reaksi muncul atas kebuntuan politik di Indonesia, panggung politik masih di monopoli oleh ornamen lama sedangkan kekuatan baru cenderung terbirokratisasi dan mengikut pada sistem yang lama. Perlawanan lewat wacana Calon Independen, membesarnya angka Golput dalam pemilu, serta semakin menjamurnya aksi ekstraparlementer menjadi pertanda bahwa sistem demokrasi di negara kita sedang macet. Menjadi tugas semua kaum intelektual dan aktivis prodemokrasi untuk tetap mempertahankan dan memperjuangkan ruang-ruang demokrasi dan kebebasan sipil.***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-3236121164494774877?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/3236121164494774877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=3236121164494774877' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3236121164494774877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3236121164494774877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/gerakan-golput-dan-masa-depan-bangsa.html' title='Gerakan Golput dan Masa Depan Bangsa Indonesia'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-6320344798785246011</id><published>2008-04-05T23:43:00.000-07:00</published><updated>2008-04-05T23:44:33.467-07:00</updated><title type='text'>Temanku Mati karena Di Sia-Siakan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa hari lalu aku di kasih tahu kabar klo temenku kecelakaan, saya bukan membahas bagaimana kecelakaan iti bermula, mungkin itu sudah takdirnya. dan saya rasa seseorang tidak akan pernah meminta musibah,..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa Jam Kemudian saya dengar kabar dia sudah Meninggal (innalilahi...) yang membuat saya agak kecewa sampai darah saya naik.,. saya mendengar dari Tetangga mereka dan saksi yang mengantarkan korban ke rumah sakit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saya sangat kecewa dengan team Dokter Di Rumah Sakit MAgetan, Rumah Sakit Madiun yang notabenya Rumah Sakit Umum Daerah ( Bukan Swasa ) dan yang jadi membuat saya geleng2 kepala kenapa pihak polisi yang bertugas mengayomi dan membantu masyarakat malah bertindak sebaliknya.,.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;setelah kecelakaan korban di bawa ke rumah sakit oleh para warga sekitar, karena korban tidak membawa identitas sama sekali pihak rumah sakit menelantarkan korban sampai teman2nya datang untuk mencari alamat tempat tinggal si korban, beberapa jam kemudian keluarga korban datang, setelah keluarga korban baru itulah pihak rumah sakit menangani korban itupun hanya du bersihkan darahnya saja, setelah di periksa ternyata pihak Rumah Asakit MAgetan tidak mampu mengatasi dan di rujuk ke RS MAdiun., tetapi disana korban belum mendapat perawatan berarti di karenakan keluarga tida bisa membeli Obat (MAaf Mereka Keluarga yang Tidak mampu),.  Bapak Korban pulang untuk mencari apa yang bisa di jual di rumahnya untuk membeli obat agar nyawa anaknya tertolong. tapi belum sampai rumah sudah dapat kabar klo anaknya sudah meninggal., menurut tetangga, saksi, korban sama sekali belum pernah di masukin obat sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Padahal kondosi korban, hampir 50% tulangnya patah.,,.  setelah itu akhirnya keluarga mau membawa jenazah ke rumah, tetapi pihak polisi minta Visum untuk penyelidikan padahal keluarga korban sudah pasrah atas kematian anaknya., dan pihak rumah sakitpun juga ikut dalam biaya administrasi,., untung saja teman2 korban tetangga mengumpulkan uang untuk mengambil jenazah.,.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa di jaman sekarang nyawa seseorang sudah tidak berati lagi.,. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa lebih Berarti Uang ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk Dokter, saya tahu anda sekolah mengeluarkan biaya yang sangat banyak,. tetapi apa seperti itu cara anda menangani pasien yang Miskin.,. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untu Polisi, Anda adalah seseorang yang hebat.,. Hebat menganiaya Rakyatmu.,.,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saya sudah tidak bisa lagi menulis lagi,., jika mengenang kejadian itu,., hanya bisa berkata mereka adalah Anjing!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Semoga Tumhan Menerima Arwah umatnya yang di sia-siakan di dunia ini,.,.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-6320344798785246011?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/6320344798785246011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=6320344798785246011' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/6320344798785246011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/6320344798785246011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/temanku-mati-karena-di-sia-siakan.html' title='Temanku Mati karena Di Sia-Siakan'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-1426751949250122972</id><published>2008-04-01T06:35:00.000-07:00</published><updated>2008-04-01T06:36:36.942-07:00</updated><title type='text'>Seandainya Arema adalah Sebuah Agama</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Malu bertanya sesat dijalan, sebuah pepatah kuno hingga sekarang layak dijadikan acuan. Bagiamana jika terlalu banyak Tanya? Pertanda pintar atau &lt;i style=""&gt;goblok?.&lt;/i&gt; Semoga anda mendapat jawabanya, dan saya tidak akan memberikan jawaban.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Namun yang ingin saya tulis bukan membahas mengenai tanya atau pertanyaan, meskipun sebenarnya hal ini sedikit ada kaitanya namun tidak banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Aremania, sebaris kata yang akhirnya menjadi skaral bagi orang yang mengagumi, memuji bahkan merasakan menjadi bagian darinya. Dan Arema menjadi sebaris kata yang hampir disejajarkan dengan agama / kepercayaan yang dianut umat saat ini. Begitu dahsyat dan hebatnya Arema dan aremania…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Bukannya tanpa pejuangan untuk menghasilkan seperti ini, seperti halnya BOB Sadino, pengusaha terkenal, yang pernah melakoni sebagai supir taksi, tukang batu maupun pekerjaan lainnya yang dianggap rendahan sebelum masa sukses.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Aremania pernah dihujat, pernah dikatakan sebagai pasukan &lt;i style=""&gt;underground, &lt;/i&gt;pasukan orong-orong dan lain-lainya. Hal ini terjadi pada saat masih ada barisan supporter yg terstruktur bernama AFC.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kini seiring berkembangnya jaman, baik orang yang dulu menghujat maupun menghina,kini semua berbalik arah dengan memujanya. Bahkan nyaris dalam batas musyrik jika berlebihan memuja Aremania.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Aremania juga selalu dijadikan alat pemersatu &lt;i style=""&gt;geng&lt;/i&gt;, kelompok , pemuda kampung dan Preman-preman Malang agar bertindak lebih beradab dan memiliki persaudaran tinggi. Namun sayang, kini berada dipersimpangan jalan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Mau bertanya ke siapa arah tujuannya? mau dibawah kemana oleh yang senang ”menungganginya”? &lt;i style=""&gt;naisak ker.jangan sampai hancur karena hal sepele.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Kok? ya. Aremania terlahir dari ribuan manusia dengan berbagai profesi dan kelompok umur. Tidak perduli itu kaya atau miskin, tidak perduli itu Cina, Jawa, Madura, Dayak, batak , Arab. Semua satu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Tidak perduli itu Kristen, Islam, Budha, Konghucu, Kejawen, Hindhu atau komunis asal senang kepada Arema semua sama dan saudara yaitu...Aremania. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ya . Arema terlahir sebagai kelompok pendukung fanatisme satu klub, AREMA FC. Tidak yang lainya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TITIK&lt;/span&gt;. Ini adalah kesepakatan awal dari para pendiri dan pemrakarsa dulunya. Tanpa aroma politis maupun niatan politisasi. Hanya karena keinginan mendukung Arema FC bersama-sama. meskipun kemudian bergeser dan berubah sebagai identitas &lt;i style=""&gt;arek Malang &lt;/i&gt;kebanyakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Seiring perkembangan jaman, tuntutan sebagai pionir dan supporter yang aktif pun kini mulai terlihat. Persoalan PSSI dengan AFC pun menjadi bagian pembahasan. ditambah lagi kondisi PSSI yang carut marut, aksi demo pun dilakukan hingga ke Jakarta. Apa ini salah? Tidak, inilah Aremania yang selalu aktif menanggapi permasalahan disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Namun sayang dilihat dari antusiasme peserta yang berangkat membuat sejuta tanya. Sebab biasanya ribuan aremania yang bergerak jika benar-benar demi Arema dan Aremania. Kini hanya puluhan orang yang berangkat, tanpa banyak orang tahu siapa mereka dari korwil mana?. Kecuali sang dirigen, Yuli Sumpil.ya..positif thingking saja mungkin aremania melakukan revolusi dan penyegaran tokoh-tokoh.(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;atau mungkin ....??!??)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dugaan ternyata sedikit mulai benar, banyak pihak yang merasa langkah ini adalah langkah terburu-buru. Sebab pihak-pihak ini sedang melakukan sederetan proses termasuk negosiasi dengan berbagai pihak untuk mengurangi jumlah sanksi terkait sanksi untuk aremania akibat kejadian Kediri. Bahkan pihak-pihak ini juga sudah mulai menggunakan "pamor" Lucky AZ untuk menembus proses loby maupun aksinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Bagi pihak pertama (saya menyebutnya) ini adalah gerakan penggembosan terhadap upaya loby dan memperbaiki citra Aremania di muka publik bola Indonesia.kok?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ya, mereka berasumsi, jika Nurdin Halid yang didemo untuk diturnkan adalah orang kuat di banyak lini. Apalagi masih dalam lingkup “Indonesia” bisa saja kekuatan NH digunakan untuk menggembosi prestasi Arema Fc karena jengkel dengan ulah demonstran yang sebagian besar Aremania. Apalagi aksi ini ternyata tidak membuat Nurdin Jatuh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sebuah ketakutan yang wajar apalagi hingga sekarang penguasa Federasi bola sepak Indonesia bisa membuat Pengda-pengda diam tanpa gerak.padhal ditangan pengda-pengda inilah Nasib NH bisa  jatuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sedangkan pihak kedua (saya menyebutnya) merasa ini adalah bagian  dinamika dari kehidupan sebagai masyarakat bola Indonesia. Dan sah-sah&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;saja melakukan gerakan untuk menggedor PSSI melalui slogan Revolusi serta meneriakan perubahan bagi sepak bola Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Beda itu indah &lt;i style=""&gt;kers.oyi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Dan pihak ketiga (saya menyebutnya) memilih tidak mengomentari dan bersikap dingin. Mereka hanya ingin memperbaiki kondisi Arema secara &lt;i style=""&gt;general. &lt;/i&gt;Atas nama prestasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ini sah dan wajar sebab pihak ini sangat faham betul kondisi sepak bola Indonesia. Sebab hanya dengan kualitas tim saja mafia wasit bisa dikalahkan. Apalagi dibantu pengawasan dari berbagai Media. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Baik pihak pertama dan kedua maupun ketiga sebenarnya memiliki tujuan mulia yang bernama perubahan dan kemajuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; Namun bagi pihak pertama dan ketiga mengurus Internal lebih utama sebelum berteriak keluar. Untuk yang satu ini saya sepakat untuk melakukan pembenahan secara internal barulah bersikap. Jalan revolusi kan tidak hanya dari luar sistim, namun juga bisa dari dalam sistim itu sendiri. tidak harus melakukan aksi jalanan kok...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; Sebab akan malu jika sebagai pengusung revolusi kemudian dipertanyakan keberadaannya. misalnya sebagai terhukum, apa aksi demo ini sebagai aksi sakit hati?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; Kalau memang revolusi berarti Aremania siap dung berbaikan dengan bonek dan sakera? (kan revolusi?)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Atau apakah kalian siap Aremania memiliki struktur pengurusan seperti syarat BLI? Pasti anda tahu jawabnya.(katanya revolusi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Debat kusir dengan menggunakan kacamata kuda tidak akan ada akhirnya sebab semua mengusung pembenaran dengan parameter otak masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; Trus harus bagaimana kita bersikap. Menurut saya mari kita kembali menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aremania Sejati&lt;/span&gt;!!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Ya, berdasarkan keterangan banyak pihak Aremania adalah pendukung fanatic Arema FC. TITIK.Jadi jika ingin melangkah hal ini harus dijadikan acuan utamanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Seandainya langkah itu bisa merugikan Klub dan Tim dikemudian hari lebih baik jangan dilakukan. Karena bukan hal yang bisa menguntungkan tim. (menurut saya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Seandainya Langkah itu sangat menguntungkan bagi Aremania dan Arema FC, ayo kita lakukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Demo Revolusi ke Jakarta saya kira hanya menguntungkan tim-tim yang dalam posisi “merah” verifikasinya yang dilakukan oleh BLI. Sehingga mereka kembali memiliki posisi tawar saat munaslub digelar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Bahkan jika kemudian digelar Munaslub dan kompetisi urung/berhenti dilaksanakan&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka bisa dipastikan Arema FC akan menjadi tim yang paling dirugikan. Sebab persiapan paling matang dan siap sebagai tim super liga HANYA AREMA. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Trus bagaimana dengan sanksi Aremania yang dua tahun? Kemungkinan tidak bisa berkurang. Apa imbasnya? Perekonomian Aremania yang selama ini ditopang dengan penjualan atribut jelas sudah merosot. Aremania tidak lagi bebas melakukan aksi-aksi penuh kreatifitas selama 2 tahun. Apakah ini yang anda Inginkan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Satukan jiwa, satukan hati kita bersama…demi Arema dan Aremania, sudah saatnya kawan duduk bersama, cari solusinya sebelum terlambat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Aremania kini berada dipersimpangan jalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt; Belum lagi sebentar lagi Pilkada Kota Malang dan Pilgub JATIM pasti akan banyak "intelektual liar" Aremania yang memanfaatkannya demi kepentingan pribadinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Ingat!!hanya Aremania kelompok supporter yang memiliki korwil hingga hampir di seluruh kota dan daerah di tanah air. akan banyak pihak yang akan memanfaatkannya demi banyak kepentingan yang jelas bukan untuk arema FC dan aremania itu sendiri.  &lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Sudah saatnya Bertanya dan mencari jawabanya…yaopo menurut umak?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-1426751949250122972?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/1426751949250122972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=1426751949250122972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1426751949250122972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/1426751949250122972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/04/seandainya-arema-adalah-sebuah-agama.html' title='Seandainya Arema adalah Sebuah Agama'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-7518551994676808705</id><published>2008-03-13T08:01:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T08:06:34.477-07:00</updated><title type='text'>Drama Soekarno</title><content type='html'>&lt;span class="title"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Drama Soekarno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;          &lt;div style="float: right; background-color: rgb(243, 238, 224); margin-top: 10px;"&gt; &lt;/div&gt;                                    &lt;span style="font-size: 10px;"&gt;&lt;br /&gt;                                         &lt;/span&gt;                                                                                              &lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Oleh: &lt;i&gt;Asvi Warman Adam&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa negarawan dunia ketiga yang juga berjiwa seni. Mao Tse Tung dan Ho Chi Minh pernah menulis puisi yang kemudian dibukukan setelah mereka berkuasa. Sajak-sajak mereka bernuansa perjuangan selain memperlihatkan kecintaan kepada rakyat. Hal yang sama juga dilakukan Soekarno meskipun yang ditulisnya bukan puisi melainkan drama, baik semasa di pengasingan di Ende, Flores 1934-1938 maupun di Bengkulu 1938-1942.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Beberapa judul dari drama yang disusun Soekarno adalah Chungking-Jakarta, Rainbow (Poetri Kentjana Boelan), Koetkoetbi, Si Kecil, Hantu Gunung Boengkoek (disunting Agus Setiyanto dan diterbitkan dengan judul Bung Karno Maestro Monte Carlo, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bakdi Soemanto, drama yang ditulis Bung Karno (BK) ini termasuk teater realis. Pertama, karena persoalan yang dibicarakan adalah masalah sehari-hari berbeda dengan lakon-lakon yang dipertunjukkan Teater Dardanella yang masa itu cukup terkenal. Tema drama yang ditulis tersebut mencakup percintaan, balas dendam, kriminalitas, hantu, kutukan dan kecerdikan dengan tokoh orang Indonesia dan asing, bahkan negara asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, selain dari teks pokok yang berisi nama pemain dan dialognya, disediakan juga teks samping (tentang petunjuk permainan dan properti yang dibutuhkan), sesuatu yang biasanya terdapat pada lakon realis. Bila selama ini dianggap aliran realisme muncul tahun 1950-an, maka Soekarno telah meletakkan fondasinya sejak tahun 1930-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungan antara naskah drama dan penyutradaraan yang dilakukan Soekarno semasa muda dengan aktivitas politiknya di kemudian hari. Aspek dramaturgi telah dikuasai BK dan diterapkan dalam menghadapi penonton dalam hal ini rakyat yang mendengarkan &lt;span class="highlight"&gt;pidato&lt;/span&gt;nya dengan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung itu benar-benar dipersiapkan, termasuk penciptaan suasana yang bergelora sebelum kedatangan Bung Karno sebagaimana terlihat dalam &lt;span class="highlight"&gt;pidato&lt;/span&gt; 30 September 1965 seperti dituturkan Eddi Elison dan ajudan BK, Maulwi Saelan. Eddi yang waktu itu reporter TVRI diminta mendadak oleh Saelan untuk menggantikan MC yang kurang bisa membakar semangat hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang saudara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddi memulai acara ketika BK datang dengan mempersoalkan spanduk di belakang podium yang ejaan bahasa Sanskertanya salah tulis. Spanduk itu mengutip nasihat Kresna, "Kerjakan engkau punya kewajiban tanpa menghitung untung-rugi". Karena persoalan ini sudah disinggung pembawa acara, maka di luar rencana, Bung Karno juga berbicara tentang perang saudara Pandawa dengan Kurawa. Karena ini rezim Orba menuduh Soekarno sudah tahu akan terjadi sesuatu pada tanggal 1 Oktober 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan &lt;span class="highlight"&gt;pidato&lt;/span&gt; 1 Juni 1965 yang terkenal itu. &lt;span class="highlight"&gt;pidato&lt;/span&gt; itu memperoleh sambutan hangat dari anggota BPUPKI karena disampaikan dengan penuh perasaan dan semangat. Sebelum menjelaskan tentang dasar negara, Soekarno bicara panjang lebar tentang perlunya mencapai merdeka selekas-lekasnya. Diibaratkan Bung Karno, orang yang ingin kawin tidak harus punya rumah dulu, punya perabot, dan seterusnya. Demikian pula dengan merdeka, tidak usah menunggu sampai ada berbagai kelengkapan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Orde Baru, Soeharto berdiri di depan anggota DPR hanya sekadar membaca &lt;span class="highlight"&gt;pidato&lt;/span&gt;, ia tidak menghadapi publik seperti Bung Karno. Bila BK ber&lt;span class="highlight"&gt;pidato&lt;/span&gt; tanggal 17 Agustus, maka Soeharto tanggal 16 seolah-olah ia mendahului Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno membutuhkan suatu organisasi, yaitu kelompok sandiwara Monte Carlo di Bengkulu. Ia juga membutuhkan penonton yang menyaksikan drama tersebut. Ada pesan yang ingin disampaikannya. Apa yang dilakukan Soekarno tahun 1930-an itu mengawali kebijakannya beberapa puluh tahun kemudian. Secara simbolis ketika membayangkan pembangunan Jakarta sejak awal tahun 1960-an yang dibayangkan Bung Karno adalah sebuah panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membutuhkannya untuk menggelorakan semangat masyarakat atau dengan kata lain dalam rangka "character and nation building".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung adalah identitas Soekarno, demikian menurut arsitek Abidin Kusno, sedangkan podium merupakan "embodiment" Bung Karno. Panggung adalah simbol komunikasi antara diri sang pemimpin dan rakyat. Pemanggungan bangunan dan monumen di Jakarta merupakan pemanggungan diri Soekarno. Setelah Soekarno jatuh, panggung itu menjadi tidak bersuara, bangunan jadi kosong dan monumen menjadi tidak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika kekuasaan diserahkan kepada Soeharto tahun 1967, yang dilakukan sang Jenderal pertama-pertama adalah melarang Bung Karno untuk "manggung". Sejak 30 September 1965 sampai Februari 1967, ia masih sempat ber&lt;span class="highlight"&gt;pidato&lt;/span&gt; lebih dari 100 kali, namun tidak (boleh) diliput pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno dikurung di Wisma Yasso dan tidak boleh dikunjungi masyarakat seperti tercantum dalam surat perintah Pangdam Siliwangi HR Dharsono. Agar tidak bertemu rakyat, ketika tahun 1967 saat ia sakit gigi, Bung Karno dibawa dengan mobil dari Bogor langsung masuk ke garasi dokter gigi Oei di Menteng. Pintunya ditutup dan Bung Karno masuk rumah lewat garasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Achmad Albar pernah menulis lirik lagu bahwa "dunia itu hanya panggung sandiwara", maka Bung Karno tentunya telah lebih dulu menyampaikan pesan bahwa "politik itu hanya panggung sandiwara". Soekarno telah mengatur dan bermain drama sejak tahun 1930-an. Hal yang sama dijalaninya dalam bidang politik. Bukankah perjalanan karier Soekarno tidak lain dari drama dari masa kejayaan sampai kejatuhannya. Drama seorang negarawan, bahkan juga drama dari sebuah bangsa terjajah yang berjuang untuk merdeka dan ternyata kini dijajah lagi dalam bentuk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dr Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0607/30/seni/2841533.htm"&gt;KCM&lt;/a&gt; Minggu,30 Juli 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-7518551994676808705?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/7518551994676808705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=7518551994676808705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/7518551994676808705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/7518551994676808705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/03/drama-soekarno.html' title='Drama Soekarno'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-3699589340647425568</id><published>2008-03-13T07:30:00.001-07:00</published><updated>2008-03-13T08:01:13.837-07:00</updated><title type='text'>Makna Merdeka</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoPlainText"&gt;Sebuah Ungkapan” Merdeka!!!’ yang terlentang telanjang…&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoPlainText"&gt;Menghadapi kebobrokan zaman…….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoPlainText"&gt;Merdeka Bukan Kata-kata …&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Besok kita akan memperingati 61 tahun Kemerdekaan Indonesia. Setiap kali perayaan dilakukan segera muncul pertanyaan, apa arti kemerdekaan itu? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Pertanyaan itu menjadi relevan ketika kita melihat perdebatan di antara elite politik menjelang pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pagi hari ini. Tidak terlihat perdebatan yang substantif. Isinya hanya sekadar niatan untuk melakukan interupsi. Atau paling jauh tuntutan kepada Presiden untuk tidak hanya menyampaikan pidato yang normatif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Padahal, kalau kita lihat kondisi kita setelah 61 tahun merdeka, banyak hal yang harus kita perhatikan. Banyak yang lebih penting dibicarakan, antara lain kekayaan alam yang kita miliki mulai jauh berkurang. Persoalannya, selama ini kita tidak pernah menginvestasikan apa yang diambil dari alam ini untuk membuat kualitas bangsa ini menjadi lebih meningkat dan lebih baik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Kita seperti lupa bahwa di samping anugerah yang melimpah ruah itu, ada ancaman besar yang menghadang kita. Empat lempengan Bumi yang terus bergerak di bawah tanah yang kita pijak ini menuntut kita untuk lebih cerdas mengantisipasinya. Tanpa itu, setiap kali kita hanya akan menjadi korban, entah korban gempa bumi, tsunami, atau gunung meletus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Bangsa-bangsa di dunia berlomba untuk maju. Mereka bersaing untuk bisa mengakumulasikan modal. Namun, pengakumulasian modal itu bukan dimaksudkan untuk membuat bangsa berlimpah secara materi, tetapi meningkat dalam kehidupannya, menjadi lebih cerdas, agar kemudian bisa mengantisipasi berbagai ancaman yang tidak pernah diketahui kapan akan datang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Contoh paling nyata adalah bangsa Jepang. Bagaimana bangsa yang hancur pada Perang Dunia II itu bisa bangkit menjadi kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia. Namun, kelimpahan ekonomi itu tidak membuat mereka menjadi bangsa yang hidup foya-foya. Mereka jadikan keberhasilan itu untuk juga mengembangkan ilmu pengetahuan agar mereka bisa menerapkan sistem mitigasi yang bisa menyelamatkan bangsanya, karena seperti kita, bencana alam selalu mengancam kehidupan mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Masih banyak lagi hal yang jauh lebih penting, yang harus kita pikirkan sebagai bangsa. Misalnya, laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik yang menunjukkan peningkatan produk domestik bruto per kapita kita menjadi di atas 1.300 dollar AS. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang begitu tinggi, laporan BPS itu pantas membuat kita prihatin. Mengapa? Karena itu artinya kesenjangan di antara kita semakin tinggi. Semakin jauh perbedaan antara kelompok orang yang diuntungkan, mendapatkan privilese, dan mereka yang dirugikan (deprived). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Peringatan HUT Ke-61 RI sepantasnya kita gunakan untuk membicarakan masalah-masalah kebangsaan yang lebih mencerahkan. Kemerdekaan yang kita harus raih bukan hanya sekadar merdeka dalam kata-kata, yang hanya manis di mulut, tetapi kemerdekaan yang sesuai dengan tujuan kita dalam berbangsa dan bernegara, yakni menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak boleh ada yang merasa dirugikan lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat dari Cacat Veteran&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asvi Warman Adam&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Korps Cacat Veteran pada tanggal 21 Juli 2006 melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Tembusan surat itu disampaikan kepada Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Menteri Pertahanan, dan Panglima TNI selain kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Yang menarik, ketua LIPI juga mendapat tembusan surat itu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Di LIPI surat ini mendapat perhatian serius. Apakah sebagai lembaga akademik LIPI memiliki kewajiban formal untuk menanggapi surat itu? Atau apakah LIPI seperti dikemukakan Wakil Presiden Jusuf Kalla dianggap sebagian masyarakat sebagai "Lembaga Ilmu Politik Indonesia". Jika benar demikian, ini tentu sebuah kehormatan dan kepercayaan dari masyarakat terhadap lembaga penelitian yang senantiasa menjaga otonomi dan profesionalitasnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menyentuh perasaan&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Surat itu amat sederhana tetapi amat menyentuh perasaan saat diungkap dalam suasana memperingati kemerdekaan. Para cacat veteran itu telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dengan risiko kehilangan anggota tubuh. Dengan senjata seadanya, mereka melawan tentara Belanda dengan dukungan Sekutu yang kembali ke Indonesia untuk menguasai Tanah Air. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Kehilangan anggota tubuh adalah sesuatu yang tidak terbayangkan saat berangkat bergerilya. Namun, hal itulah yang menimpa mereka. Dengan anggota tubuh yang tidak sempurna, mereka harus menjalani kehidupan setelah Belanda enyah dari persada Ibu Pertiwi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tahun 1994 dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1994 yang menetapkan cacat veteran memperoleh tunjangan bulanan bila cacat satu anggota badan (misalnya tangan atau kaki) Rp 22.000. Bila kehilangan dua anggota tubuh memperoleh Rp 44.000. Roeslan Abdulgani (alm) yang kehilangan dua setengah jarinya dalam perang kemerdekaan tentu mendapat sekian persen dari Rp 22.000. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Surat itu meminta Presiden meninjau kembali besar (atau kecil)-nya tunjangan itu. Apalah artinya Rp 22.000 sekarang, apa yang bisa dibeli dengan uang sebesar/kecil itu. Apakah tunjangan bagi para cacat veteran tidak dapat dinaikkan menjadi Rp 1 juta, yakni sebesar tunjangan bulanan Ahli Peneliti Utama (jabatan fungsional tertinggi dalam bidang penelitian) LIPI? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keadilan dalam pendapatan&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Angka-angka itu membuahkan pertanyaan, apakah sudah ada keadilan dalam pendapatan yang diberikan pemerintah terhadap pejabat negara dan pegawai negeri. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang anggota DPR yang sudah memperoleh gaji dan tunjangan puluhan juta rupiah masih menerima Rp 35 juta lagi untuk keperluan menerima masukan dari konstituennya. Pegawai negeri eselon satu dan dua, baik di pusat dan daerah, menerima tunjangan struktural yang berjumlah jutaan rupiah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Ketika pemerintah menetapkan gaji ke-13, para pejabat negara itu tidak malu-malu mengantongi pendapatan yang "sudah menjadi hak mereka" itu. Terdapat sekian banyak komisi nasional yang anggotanya memperoleh gaji/honor di atas Rp 10 juta per bulan, seperti KPK, Komnas HAM, KPPU, Komisi Yudisial, KPI, dan Komisi Ombudsman Nasional. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Gaji di antara PNS di berbagai departemen juga tidak sama. Ada saja aturan yang ditetapkan agar pegawai departemen tertentu mendapat tambahan gaji/tunjangan. Profesi seperti hakim mendapat tunjangan khusus. Pegawai BATAN, misalnya, memperoleh tunjangan radiasi nuklir meski mereka berkantor jauh dari instalasi atom. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Peneliti BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) mendapat TSP (tunjangan selisih pendapatan) sejak BJ Habibie menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Ketentuan mengenai pendapatan para pejabat negara dan pegawai negeri sipil ini perlu dikaji dan ditinjau kembali secara saksama. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Namun yang paling mendesak agar tunjangan bagi cacat veteran dapat diberikan dalam jumlah wajar. Para cacat veteran kini rata-rata berusia 75 tahun. Kalau itu dilaksanakan, jelas tidak akan membebani pemerintah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Enam puluh satu tahun sudah Indonesia menyatakan diri sebagai negara merdeka. Tapi pertanyaan sinis kerap disampaikan: "Benarkah kita sudah merdeka?" Dengarkan lagu iklan layanan Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK yang dinyanyikan para pengamen dan orang berdasi di mobil yang tampak gerah mendengarnya. "Benarkah kita sudah merdeka, sementara korupsi masih merajalela?" Orang pun sering menjawab: "Belum". Bukankah slogan kaum nasionalis sampai sekarang pun masih tak beranjak dari perang kemerdekaan: "Merdeka! Merdeka! Merdeka!?" Jadi, kemerdekaan macam apa yang sebenarnya kita cari? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Soekarno, sang proklamator kita, jauh hari menyatakan kemerdekaan hanya jembatan emas menuju keadilan dan kemakmuran. Di seberang jembatan itulah keadilan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia seharusnya diwujudkan. Proses mewujudkan keadilan dan kemakmuran di seberang jembatan emas itulah yang ternyata tak gampang. Tak semudah membalikkan telapak tangan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Kita ingat sebagai fakta bagaimana slogan "Revolusi Belum Selesai" menggema setelah satu dasawarsa Proklamasi Kemerdekaan 1945. Tak hanya menunjukkan ke mana arah dan bagaimana Indonesia harus dibangun, "Revolusi Belum Selesai" jelas juga menunjukkan konflik ideologis dalam memaknai kemerdekaan Indonesia (kita). Bung Karno maju dengan kesimpulan baru: rakyat Indonesia masih dibelenggu nekolim: neokolonialisme dan imperialisme, sementara masih banyak dari rakyat Indonesia yang merindukan zaman normal di masa kolonialisme Belanda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Bung Karno pun menyerukan perlunya sikap berdikari: berdiri di kaki sendiri daripada mengemis pada modal asing dan didikte karenanya: "Go to hell with your aid!". Tri Sakti pun diajukan sebagai jalan keluar mewujudkan rakyat Indonesia yang adil dan makmur: berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Namun masa gegap gempita yang dipenuhi dengan mobilisasi rakyat seperti pawai, rapat akbar disertai orasi-orasi yang menggelegar ini ditutup dengan peristiwa G30S 1965. Selama Orde Baru berkuasa, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi tertuduh tunggal pelaku G30S yang membunuh tujuh jenderal dengan keji. Akibatnya, PKI dan organisasi simpatisannya dinyatakan sebagai partai dan organisasi terlarang. Komunisme tak boleh diajarkan dan disebarkan di Indonesia. Ribuan aktivis dan simpatisannya dibunuh walau tak tahu-menahu dengan G30S. Sebagian besar lagi dikirim ke penjara-penjara di seluruh Indonesia, termasuk ke pulau pembuangan: Buru. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Jenderal Soeharto pun berkuasa, 32 tahun. Ke mana arah dan bagaimana Indonesia mesti dibangun, berbeda 180 derajat dengan Bung Karno. Tak ada orasi-orasi seperti Ki Dalang. Tak ada mobilisasi-mobilisasi rakyat turun ke jalan-jalan. Tak ada debat dan polemik. Jenderal Soeharto tampil di depan rakyat begitu tenang, kalem, bahkan banyak senyum ramah sebagaimana gambaran masyarakat yang harmoni tanpa konflik. Modal asing pun mengalir deras menciptakan gedung-gedung pencakar langit dan jalan-jalan yang mulus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Namun, di balik semua itu utang menumpuk berbukit-bukit; pers dikontrol, partai-partai politik dan organisasi massa disatukan dalam ideologi tunggal: Pancasila. Yang menolak dijadikan musuh negara dicap PKI atau ekstrem kanan bahkan pada petani-petani yang hanya sekadar mempertahankan tanah-tanahnya karena ganti rugi yang tak sesuai; juga pada kaum buruh yang menuntut kenaikan upah. Pancasila menjadi palu godam kekuasaan untuk membungkam nada-nada kritis rakyat yang dianggap merongrong kekuasaan. Penjara pun tak pernah sepi dari pejuang-pejuang prodemokrasi diiringi dengan jerit tangisnya karena siksa oleh tangan-tangan yang kebal hukum. Kematian terkadang begitu dekat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tak ada demokrasi di bawah Soeharto, begitulah kesimpulan dari mahasiswa-mahasiswa dan intelektual kritis yang gelisah. Diskusi-diskusi pun dibangun. Aksi-aksi massa dilancarkan. Golongan Putih menjadi pilihan ketika pemilu Orde Baru diselenggarakan. Sampai akhirnya: kediktatoran Orde Baru harus ditumbangkan. Begitulah saripati dari syair-syair berontak Rendra, Emha, dan Thukul. Rakyat makin memperbesar barisannya untuk menjebol tirani. Dan Soeharto pun jatuh. Demokrasi diraih membawa angin segar reformasi dan memberi peluang pada sipil menduduki jabatan berkuasa: Presiden Republik Indonesia lebih cepat dari yang dibayangkan. Sedikit bernapas lega: Merdeka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Namun, pertanyaan kemerdekaan macam apa pascareformasi terus saja menghantui. Korupsi masih merajalela, penggusuran orang-orang miskin terus terjadi, pendidikan dan kesehatan makin mahal, kepedulian sosial tampak menjauh, bencana alam datang bertubi-tubi, utang negara menumpuk, krisis moral terjadi di mana-mana. Kita punya kekayaan alam melimpah: tambang emas, tembaga, minyak ...tetapi mengapa cuma menjadi kuli di negeri sendiri dan hidup miskin, mati seperti ayam mati di lumbung padi? Tentu semua ini bukan kemerdekaan yang kita cari. Lalu? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Enam puluh satu tahun sudah Indonesia menyatakan diri sebagai negara merdeka. Tak seharusnya kemiskinan dan kesengsaraan terus merajalela. Demokrasi tentu adalah modal awal kemerdekaan sejati kita sebagaimana jembatan emas yang dinyatakan Bung Karno. Karenanya demokrasi yang kita raih saat ini pun seharusnya semakin dapat memajukan rakyat menggapai keadilan dan kesejahteraannya. Biarlah juga debat dan polemik tumbuh untuk mempertegas arah dan bagaimana Indonesia mesti dibangun. Karenanya kita tak perlu risi dengan tumbuhnya partai-partai baru menjelang Pemilu 2009. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Tumbuhnya partai-partai baru itu jelas mencerminkan betapa kompleksnya masalah yang dihadapi rakyat Indonesia di samping tentu saja cerminan demokrasi (baca: rasa merdeka) yang diraih pascakediktatoran Orde Baru. Tugas pemerintahlah yang seharusnya semakin menjamin dan memperteguh mekanisme demokrasi seadil-adilnya bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat sendiri telah menunjukkan kekuatannya dalam memperjuangkan demokrasi sebagaimana ditunjukkan pada hari-hari di bulan Mei 1998 itu dan tak lupa: 27 Juli 1996. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Di bawah payung demokrasi inilah kita bisa menyingkirkan ego golongan demi menuntaskan persoalan-persoalan mendesak rakyat; bersatu, bergandeng tangan: mempertegas makna kemerdekaan kita dan bila perlu mengobarkan kembali: perang kemerdekaan: setidaknya menolak menjadi bangsa kuli sebagaimana mimpi-mimpi pejuang kemerdekaan kita jauh sebelum 1945. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merdeka, untuk Apa?&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Bangsa Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Kini, 61 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, kita bertanya, merdeka, untuk apa? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Pada perspektif kemerdekaan sebagai proses tumbuh kembang keberadaban manusia dan bangsa, kita menegaskan bahwa kita merdeka untuk: (1) menjadi makin pandai dan arif; (2) bekerja makin efektif dan efisien; (3) mengalami hidup yang makin bahagia; (4) menjadi insan dan bangsa yang makin beradab. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Kini, sudahkah keempat hal itu terejawantah? Di sana-sini keempat hal itu telah terejawantah sebagai titik-titik kecil di tengah hamparan luas kehidupan nyata insan dan bangsa Indonesia, tetapi pada hamparan luas kehidupan itu tertebar pula bercak-bercak besar kebodohan dan ketidakarifan, kekurangmampuan bekerja secara efektif dan efisien, kesengsaraan dan penderitaan, dan kekurangberadaban. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Pada ulang tahun ke-61 Proklamasi Kemerdekaan, bentangan kehidupan nyata insan dan bangsa Indonesia masih berupa mosaik yang tersusun oleh titik-titik kecil kemerdekaan dan bercak-bercak besar ketidakmerdekaan. Agenda penting kita terwakili oleh pertanyaan: bagaimana kita mengusahakan pelebaran titik-titik kemerdekaan dan penciutan bercak-bercak ketidakmerdekaan, lewat upaya-upaya pada perspektif individual, budaya, dan struktural secara sekaligus? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Keempat ciri insan dan bangsa merdeka (pandai/arif; kerja efektif/efisien; hidup bahagia; beradab) akan kian bertumbuh kembang lewat pendidikan individual multifokus untuk memberdayakan individu mendayagunakan kepiawaiannya dalam berkata-kata/berbahasa; berpikir logis dan berhitung; mewujudnyatakan gerak ragawi yang produktif, efektif, dan menyehatkan; menyatakan pikiran, perasaan, dan mewujudnyatakan pemecahan masalah lewat gambar dan musik; menggalang hubungan antarmanusia yang empatetik, adil, saling menguntungkan, saling menumbuhkembangkan, dan damai; menumbuhkembangkan dan mengejawantahkan keandalan diri (pengenalan diri, disiplin diri, kontrol diri, dan kejujuran diri yang baik); menumbuhkembangkan dan mengejawantahkan hubungan yang sehat dan harmonis dengan alam, dunia hewan, dan dunia tumbuhan; menumbuhkembangkan dan mengejawantahkan hubungan yang penuh makna dengan dunia pemikiran mendalam dan Tuhan. Demi tumbuh kembang keempat ciri insan dan bangsa merdeka, kita niscaya mengejawantahkan pendidikan multifokus secara lengkap (holistik) dan menyeluruh (komprehensif), tanpa kecuali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Upaya pada perspektif individual itu perlu dan niscaya didukung oleh budaya prokemerdekaan dan struktur kekuasaan prokemerdekaan, yang menjadi tempat hidup yang sehat untuk individu-individu merdeka. Budaya dan struktur kekuasaan yang prokemerdekaan adalah budaya dan struktur kekuasaan yang menghargai, mengutamakan dan mengejawantahkan: (1) komunikasi yang adil dan jujur lewat pendayagunaan kata dan bahasa; (2) pendayagunaan proses berpikir yang logis, rasional, transparan, dan akuntabel; (3) pendayagunaan gerak ragawi yang produktif, efektif, dan menyehatkan; (4) ekspresi seni yang mencerahkan, menggelitik introspeksi dan perbaikan, serta memberikan pengalaman keindahan; (5) hubungan antarmanusia (antarwarga bangsa) yang empatetik, adil, harmonis, damai, saling menguntungkan, dan saling menumbuhkembangkan; (6) pendidikan dan pelatihan disiplin diri, kejujuran, dan kontrol diri yang andal; (7) hubungan yang sehat, harmonis, dan adil dengan alam, dunia hewan, dan dunia tumbuhan; (8) hubungan yang mendalam dan penuh makna dengan dunia pemikiran mendalam dan Tuhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pendidikan individual multifokus yang memerdekakan dan budaya serta struktur kekuasaan yang prokemerdekaan jelas tidak sejalan dengan praktik kekerasan; penindasan; ketertutupan; ketidakjujuran; patgulipat; proses berpikir tidak logis, tak rasional, tak akuntabel; praktik penghambatan ekspresi seni; pemanfaatan gerak ragawi untuk praktik kekerasan dan penindasan; hubungan antarmanusia (antarwarga bangsa) yang tidak adil, penuh prasangka, diskriminatif, dan rasistik; kualitas diri insani yang tak jujur dan tidak disiplin; hubungan eksploitatif dengan alam, fauna, dan flora; praktik religius dan spiritual yang dangkal dan miskin makna. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Semoga beberan singkat gambaran individu, budaya, dan struktur kekuasaan yang merdeka itu menggelitik kita untuk benar-benar merdeka. Dirgahayu Republik Indonesia! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Besok, tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia akan merayakan hari kemerdekaan ke-61. Setiap kali merayakan hari kemerdekaan, setiap itu pula muncul berbagai pertanyaan dalam diri kita. Salah satunya perihal nasionalisme. Bagaimanakah nasionalisme kita dewasa ini? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Banyak kalangan menilai, nasionalisme kita sebagai sebuah bangsa telah lusuh dan usang. Hemat penulis, nasionalisme menjadi lusuh dan usang karena ia telah teramat sering dibajak oleh rezim-rezim yang berkuasa hanya untuk kepentingan kekuasaan belaka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dalam studi ilmu politik, pembahasan mengenai nasionalisme tak bisa lepas dari nation itu sendiri. Ernest Renan melalui tulisannya yang terkenal, What is a Nation?, mengatakan, nation adalah jiwa dan prinsip spiritual yang menjadi sebuah ikatan bersama, baik dalam hal kebersamaan maupun dalam hal pengorbanan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Pemikiran Ernest Renan ini amat memengaruhi alur berpikir dari pemikir-pemikir sesudahnya, salah satunya Benedict Anderson. Benedict Anderson memaknai imagined community sebagai cikal bakal munculnya konsep nasionalisme. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Suatu bangsa pada dasarnya ialah suatu komunitas sosial politik dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas, sekaligus berkedaulatan. Pada komunitas itu masing-masing anggotanya belum tentu saling mengenal satu sama lain, tetapi di benak setiap anggotanya hidup bayangan tentang kebersamaan dan persaudaraan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Melalui konsep imagined community dapat kita identifikasi beberapa unsur terbentuknya nasionalisme, yaitu adanya kesamaan perasaan senasib, kedekatan fisik/nonfisik, terancam dari musuh yang sama, dan tujuan bersama. Berbekal semangat itulah, nasionalisme Indonesia lahir sebagai sebuah ikatan bersama. Dalam konteks ini, nasionalisme digunakan sebagai amunisi bersama dalam menentang hegemoni kolonialisme. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Namun, kini nasionalisme bangsa terasa kian meredup sinarnya. Sebab utamanya adalah kian maraknya praktik negatif kekuasaan. Mulai dari buruknya kinerja serta rusaknya etika birokrat, elite politik, para penegak hukum, tindakan-tindakan represif negara, sampai pada ketidakadilan pembagian "kue pembangunan" telah mengakibatkan makin menguatnya gejala ketidakpatuhan sosial di dalam masyarakat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Hal itu kemudian mengakibatkan hilangnya kepercayaan (distrust) masyarakat terhadap negara. Masyarakat tidak memiliki panutan dalam bertindak. Akibat lebih lanjut dari hal ini adalah makin memudarnya kohesi sosial bangsa Indonesia. Padahal—sebagaimana Francis Fukuyama katakan—kepercayaan merupakan social capital terpenting dalam masyarakat. Masyarakat yang distrust amat kontraproduktif dengan bangunan masyarakat sipil yang kuat, yang notabene merupakan conditio sine qua non bagi terciptanya negara demokrasi modern. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Realitas itu diperparah dengan lemahnya civic nationalism bangsa sehingga mengakibatkan suburnya semangat ethno-nationalism di masyarakat. Ethno-nationalism ialah bentuk nasionalisme yang berbasis identitas-identitas primordial, seperti etnis, suku, dan ras. Tetapi dalam pengertian lebih luas, ethno-nationalism didefinisikan sebagai doktrin yang melekat pada suatu kelompok masyarakat yang merasa memiliki perbedaan budaya, sejarah, maupun prinsip-prinsip hidup tersendiri sehingga mereka merasa perlu memiliki sebuah pemerintahan sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Ethno-nationalism dapat pula dibaca sebagai bentuk hilangnya loyalitas dari suatu kelompok masyarakat tertentu terhadap sebuah ikatan yang lebih besar, yakni bangsa dan negara Indonesia. Jika fenomena ethno-nationalism berlangsung dalam jangka waktu lama, bukan mustahil bila riwayat NKRI akan berujung pada disintegrasi bangsa sebagaimana yang pernah dialami Uni Soviet dulu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Dalam menyikapi fenomena itu, pemerintah sedapat mungkin harus menghindari cara-cara represif. Cara-cara persuasiflah yang seharusnya dikedepankan, misalnya dalam menghadapi gerakan ethno-nationalism yang bertujuan untuk memisahkan diri, maka yang harus dilakukan adalah negosiasi ulang pembagian sumber daya ekonomi daerah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Pendekatan dialogis senantiasa harus selalu diutamakan dan diusahakan semaksimal mungkin. Selain itu, penting pula adanya sebuah pengakuan resmi secara konstitusional terhadap berbagai bentuk identitas primordial yang ada bahwa keberadaannya akan memperkaya khazanah identitas nasional bangsa keseluruhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Pengakuan itu diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri masing-masing kelompok masyarakat—terlebih yang memiliki potensi ethno-nationalism dan separatisme—bahwa tindakan untuk memisahkan diri dari NKRI guna menjadi negara tersendiri merupakan hal yang tidak menguntungkan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;# Di kutip dari…………P4w in NATIONALITY&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Beliau adalah Presiden untuk sebuah jiwa yang kosong, dibawah kebenaran dan diatas kesalahan……&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Meraung-raung dalam sampah-sampah idealisme kecoa..&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Dan demokrasi picik!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;Bendera merah putih bukan lagi bendera kaum nasionalis……….. darah mereka bukan lagi darah merah…………. Yang ada hanya perut dan warna perut……………………………………………………………………………………. FUCK !!!!!! atau merdeka ?!?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-3699589340647425568?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/3699589340647425568/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=3699589340647425568' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3699589340647425568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3699589340647425568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/03/makna-merdeka.html' title='Makna Merdeka'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4133145504626228870.post-3119643212907121224</id><published>2008-03-13T07:19:00.000-07:00</published><updated>2008-03-13T07:23:28.589-07:00</updated><title type='text'>Global Warning</title><content type='html'>&lt;h1 style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;     Global Warning of Global Warming&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.baladika.info/wp-content/uploads/2007/12/global-warming.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://www.baladika.info/2007/12/09/&amp;amp;h=380&amp;amp;w=380&amp;amp;sz=70&amp;amp;hl=id&amp;amp;start=3&amp;amp;tbnid=CUEOgmNNhn_j8M:&amp;amp;tbnh=123&amp;amp;tbnw=123&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dglobal%2Bwarming%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG"&gt;&lt;img style="border: 1px solid ; width: 143px; height: 143px;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:CUEOgmNNhn_j8M:http://www.baladika.info/wp-content/uploads/2007/12/global-warming.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan di bawah berikut ini mungkin akan membuat kita tersentak sekaligus terbelalak. Ia berbunyi: “Pernyataan pemanasan global itu sungguh nyata cuma omong kosong. Pernyataan itu diulang-ulang oleh para aktivis guna meyakinkan sekaligus menakut-nakuti publik bahwa iklim akan berubah menjadi malapetaka, dan aktivitas manusialah penyebab utamanya.” Kalimat itu diucapkan senator AS dari Partai Republik, &lt;strong&gt;James Inhofe&lt;/strong&gt;, yang juga merupakan Ketua &lt;em&gt;Environment and Public Works Committee&lt;/em&gt; Senat AS, setahun lalu. &lt;span id="ctl00_ContentPlaceHolder1_lblNews"&gt;&lt;p&gt;Pernyataan itu diperkuat lagi dengan pernyataan Direktur NASA &lt;strong&gt;Michael Griffin&lt;/strong&gt; dalam wawancara dengan sebuah radio lokal di AS belum lama ini, yang menunjukkan keraguan sang direktur bahwa pemanasan global adalah tantangan terbesar yang harus diatasi manusia. Dalam wawancara tersebut, salah satu petikan pernyataan Griffin yang kemudian banyak dikutip adalah, “Iklim bumi saat ini adalah iklim yang terbaik yang pernah kita punyai.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Benarkah pemanasan global sungguh-sungguh merupakan akibat dari ulah manusia yang terlalu rakus mengeksploitasi bumi dan ceroboh menjaga keseimbangan alam? Apakah pemanasan global dan perubahan iklim adalah hal terpenting yang harus diatasi manusia?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inhofe memaparkan beragam fakta dan kutipan yang mendukung argumennya. Menurutnya, media memainkan peranan penting dalam menggelorakan isu yang tidak benar ini. Ia pun mengungkapkan penelusurannya terhadap laporan beberapa media terkemuka seperti Newsweek, Majalah Time, Harian New York Times, Chicago Tribune, dan juga Jurnal Science News. Didapatinya, media-media tersebut pada era tahun 1900-an justru melaporkan kekhawatiran akan datangnya abad es, bukan pemanasan atau melelehnya es. Hingga periode 1920-1930-an sampai menjelang akhir tahun 1970-an, media-media terkemuka di AS itu masih sangat gencar memberitakan dan melaporkan bahaya perubahan bumi menjadi bola es.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia pun melecehkan Protokol Kyoto, sebuah protokol yang ditandatangani oleh sebagian besar negara di kolong bumi ini guna mengurangi emisi gas-gas pembentuk rumah kaca di mana AS menolak menandatanganinya, sebagai kesepakatan dan solusi yang tidak ada artinya dalam rangka mengurangi emisi gas-gas berbahaya ke atmosfir bumi. Menurutnya, cara paling efektif untuk mengurangi gas-gas tersebut adalah penggunaan alat pembersih gas dan teknologi yang lebih efisien untuk menekan gas tersebut bertebaran ke angkasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun pernyataan Inhofe berbau politis itu tak menyurutkan gerakan global di seluruh dunia bahwa ancaman pemanasan bumi sungguh-sungguh nyata dan harus diperangi dari sekarang oleh semua pihak. Inhofe, politisi dari Partai Republik, sebagaimana halnya Presiden AS George W. Bush yang juga dari Partai Republik, jelas tidak mau kepentingan mereka terusik terusik gara-gara harus menekan emisi gas rumah kaca yang di AS sebagian besar dihasilkan dari pembangkit listrik berenergi fosil (BBM, batubara). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak hanya Inhofe dan Bush yang bersikap “bebal” terhadap perubahan iklim. Lebih dari 17 ribu ilmuwan -- dua ribu lebih di antaranya adalah fisikawan, geofisikawan, ahli iklim, ahli meteorologi, dan pakar lingkungan- menandatangani petisi yang diedarkan oleh Oregon Institut of Science and Medicine di AS. Salah satu kalimat dalam petisi itu menyatakan, “Tidak ada bukti-bukti ilmiah bahwa pelepasan gas karbon dioksida (CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;), metana (CH&lt;sub&gt;4&lt;/sub&gt;), dan gas-gas rumah kaca lainnya yang mengakibatkan pemanasan akut terhadap temperatur bumi dan kerusakan pada iklim bumi.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlepas dari kenyataan dan pernyataan politik yang diungkapkan di atas, fakta-fakta berikut ini berbicara jauh lebih kuat dan nyata, memperlihatkan ke mana arah perubahan iklim di bumi ini akan menuju dan bermuara. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fakta-fakta&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita mulai dari yang jauh dengan kita, Laut Arktik. Lautan ini sebagian besar dikenali sebagai samudera es. Ilmuwan yang mengamati perubahan pada lautan es ini mencatat terjadinya peningkatan panas dua kali lebih cepat dibandingkan pemanasan di tingkat global. Sejak tahun 1980, samudera es yang terletak Arktik yang berada di wilayah Eropa telah mencair antara 20-30 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih di Eropa, pegunungan Alpens yang tadinya sebagian besar diselubungi salju mengalami kemerosotan deposit salju yang parah. Delapan dari sembilan area gletser/&lt;em&gt;glacier&lt;/em&gt; menunjukkan derajat kerusakan yang signifikan dan dalam kurun waktu satu abad sudah kehilangan sepertiga dari wilayah es.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya di Eropa, seluruh dataran tinggi di dunia yang selama ini dikenal memiliki puncak gunung es juga lumer. Salju di puncak gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro, setiap bulannya meleleh tak kurang dari 300 meter kubik. Gunung yang terletak di Tanzania ini menderita kebotakan salju parah bilamana membandingkan foto udara yang diambil pada tahun 1974, 1990, dan 2001. Dalam periode satu abad pengamatan, salju di puncak gunung itu meleleh hingga mencapai 82%. Bila salju tak lagi betah hinggap di puncak gunung itu, nama gunung itu boleh jadi harus diubah, karena Kilimanjaro dalam bahasa setempat berarti gunung yang putih atau gunung yang bercahaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari beralih ke kawasan yang melahirkan banyak seniman bola, Amerika Selatan. Salju di negeri-negeri seperti berdataran tinggi seperti Argentina, Peru, Chili juga menurun drastis. Pegunungan Andes, salah satu surga salju di dunia, mengalami pelelehan salju ke arah puncak gunung yang sangat signifikan. Antara tahun 1963 hingga 1978, salju mencair rata-rata 4 meter per tahun, dan sejak tahun 1995 hingga sekarang, pelelehan salju mencapai kecepatan 30,1 meter per tahun di seluruh kawasan yang mengandung &lt;em&gt;glacier&lt;/em&gt;. Sementara di Venezuela, negeri penghasil Miss World terbanyak, dari 6 &lt;em&gt;glacier&lt;/em&gt; yang dimiliki negeri tersebut pada tahun 1972, kini hanya tersisa dua lagi, dan akan hilang paling lambat 10 tahun sejak sekarang. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsekuensi dari melelehnya salju adalah meningkatnya permukaan air laut, pertama-tama di kawasan tersebut. Di negeri bola Brasil, garis pantai yang hilang menjadi lautan rata-rata berkisar 1,8 meter per tahun pada kurun waktu antara 1915 hingga 1950 dan meningkat menjadi 2,4 meter per tahun pada kurun waktu sepuluh tahun antara 1985-1995.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang terjadi di Asia, juga di Indonesia, akibat pemanasan global? Sama dengan yang terjadi di benua lain, salju-salju di dataran tinggi Asia mengalami pelelehan yang drastis sekaligus dramatis. Himalaya, gunung tertinggi di dunia yang menjadi kantong air beku di “atap langit” terus kehilangan saljunya secara konsisten. &lt;em&gt;Glacier-glacier&lt;/em&gt; di Pegunungan Himalaya yang tersebar di negara-negara seperti India, Tibet, Bhutan, China, terdegradasi dengan amat cepat. Tujuh sungai besar di Asia yang bermata air dari Himalaya yakni Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning terancam eksistensinya yang berakibat pada ratusan juta umat manusia di kawasan sepanjang aliran sungai-sungai itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak hanya di kawasan Asia Selatan, salju di Asia Tengah yang juga terus lenyap satu per satu. Itu terjadi pula di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya daerah pegunungan tinggi di Indonesia yang memiliki salju. Bila foto udara pada tahun 1972 memperlihatkan puncak gunung yang hampir seluruhnya diselimuti salju, sekarang puncak gunung itu hanyalah berisi bebatuan dan pepohonan belaka. Artinya, tidak ada lagi salju di sana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pelelehan es yang diungkap di atas baru merupakan sebagian dari yang sebenarnya terjadi. Berdasarkan laporan terakhir Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terakhir yang dirilis tahun 2007 ini, 30 salju di pegunungan di seluruh dunia kehilangan ketebalan hingga lebih dari setengah meter hingga tahun 2005 saja. Dua tahun yang terakhir belum masuk dalam laporan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Konsekuensi dan Risiko&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena energi bersifat kekal, salju-salju tadi dengan sendirinya tidak hilang dan hanya berubah bentuk. Ibarat es yang ada dalam sebuah gelas, ketika ia terkena panas dan mencair, volume air itu tidak berkurang atau bertambah, melainkan hanya berubah. Maka, konsekuensi pertama dari meningkatnya suhu bumi yang melelehkan salju dan deposit-deposit air tadi adalah kian bertambahnya air di permukaan bumi. Peningkatan tersebut dapat dideteksi di seluruh penjuru bumi dan dibuktikan melalui sejumlah foto udara yang membandingkan suatu kawasan pada puluhan tahun silam dengan kondisi kontemporer. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, konsekuensi meningkatnya suhu bumi tidaklah sesederhana itu. Perubahan-perubahan ekologis yang terjadi pada lingkungan di mana manusia dan makhluk hidup lainnya hidup membawa dampak yang mengerikan bagi umat manusia. Hukum fisika menyatakan, angin bergerak dari tempat yang dingin ke tempat yang lebih panas. Nah, perbedaan temperatur suatu kawasan dengan kawasan lain yang sangat ekstrem pada waktu bersamaan telah memicu munculnya angin topan, badai, dan tornado menjadi lebih sering dibandingkan beberapa tahun silam. Negara-negara di kawasan Amerika Utara, Tengah, Selatan dan Karibia, Eropa, juga Asia Selatan dan Timur sudah merasakan dampak yang ditimbulkan dari topan badai ini. Topan yang memiliki nama-nama nan indah menerpa warga di seluruh bumi secara memilukan dan sekaligus mematikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arus pergerakan air tidak hanya membawa musibah banjir bandang, tetapi juga disertai tanah longsor akibat penggundulan hutan yang berlangsung setiap menit. Dalam waktu bersamaan, belahan dunia yang satu terancam kekeringan dan kebakaran, tempat lainnya dilanda topan badai, banjir dan tanah longsor yang menyengsarakan ratusan juta umat manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Konsekuensi di Tingkat Lokal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kekeringan di daerah Gunung Kidul misalnya, mungkin saja sudah menjadi fakta jamak yang berlangsung setiap tahun dan sudah sejak puluhan tahun hal itu terjadi. Akan tetapi, kesulitan air yang dialami oleh warga di lereng Gunung Merapi lima tahun terakhir ini misalnya, tentu sebuah fakta baru yang menunjukkan betapa air makin sulit didapat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesulitan para petani sayuran di lereng Gunung Merbabu misalnya, juga sesuatu yang masih terdengar asing. Grojogan Sewu memang masih menumpahkan airnya. Tetapi dibandingkan lima belas tahun silam misalnya, grojogan itu sekarang telah berubah menjadi tak lebih dari pancuran. Beberapa puluh tahun yang akan datang, boleh jadi ia tinggal menjadi tetesan saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu baru dari sisi kelangkaan air. Dari sisi perubahan iklim, semua kota dan wilayah di Indonesia menjadi korbannya. Di Jawa bagian tengah misalnya, Kaliurang di Jogjakarta, Tawangmangu di Karanganyar, atau Bandungan di Semarang, sekarang bukan lagi didatangi wisatawan karena udaranya yang sejuk dan dingin, tetapi karena kelatahan dan cap yang terlanjut melekat sebagai daerah wisata. Itu saja. Dahulu, di daerah-daerah tersebut kabut dingin senantiasa turun setiap pagi sepanjang tahun. Sekarang, ia hanya bisa dijumpai beberapa kali sepanjang tahun, itupun sangat tergantung dari musim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Puncak Jaya, Papua, salju tidak lagi hinggap di puncaknya sejak beberapa tahun silam. Ini menandai era berakhirnya eksistensi satu-satunya kawasan bersalju di Indonesia. Dan ini sekaligus membuktikan, bahwa bumi yang makin panas bukanlah fakta gombal melainkan kenyataan aktual.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ironisnya, dalam situasi udara yang makin panas, orang lalu mencari cara untuk mendinginkannya, tetapi hanya untuk diri mereka sendiri. Pendingin udara adalah pilihan pragmatis untuk ini, tetapi alat inipun hanya bisa dijangkau oleh lapisan masyarakat golongan menengah ke atas. Masyarakat miskin jelas tak bisa mengelak dari kegerahan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ironisnya, penggunaan pendingin udara yang makin masif dan intensif pada sebagian besar rumah tangga di perkotaan secara akumulatif justru mendorong terciptanya bumi yang makin panas akibat gas-gas yang dihasilkan oleh pendingin udara tersebut tidak ramah lingkungan. Sudah begitu, penggunaan pendingin udara yang intensif itu juga memicu meningkatnya kebutuhan listrik yang terus membesar –yang lagi-lagi ironisnya— sementara listrik tersebut diproduksi dengan menggunakan bahan bakar fosil yang tak ramah terhadap lingkungan dan memberi kontribusi terbesar pada pemanasan secara global.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lingkaran setan ini jelas menggiring masyarakat yang paling miskin dan tak memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi yang memadai menjadi korban. Jumlah masyarakat yang kian tersisih dari lingkaran ini niscaya akan terus membesar karena perseteruan dan kata sepakat tentang upaya kongkret memerangi perubahan iklim ini mengalami kebuntuan yang akut.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4133145504626228870-3119643212907121224?l=mohon-maaf.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/feeds/3119643212907121224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4133145504626228870&amp;postID=3119643212907121224' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3119643212907121224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4133145504626228870/posts/default/3119643212907121224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mohon-maaf.blogspot.com/2008/03/global-warning.html' title='Global Warning'/><author><name>None</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10971306968581165962</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
